Menyoal Pembiayaan Pendidikan Bermutu di Banten

Gubernur Banten, Wahidin Halim, semenjak menjabat dari periode 2017 bertekad membayar janji kampanyenya soal sekolah gratis.


Banten – Pemerintahan Provinsi Banten tengah gencar menjalankan program pendidikan gratis untuk tingkat SMA/SMK. Namun pada kenyataanya program ini masih perlu adaptasi untuk terealisasi.

Gubernur Banten, Wahidin Halim, semenjak menjabat dari periode 2017 bertekad membayar janji kampanyenya soal sekolah gratis. Ia pun mengintruksikan kepada jajarannya untuk menggalakkan program tersebut. 

Tingkat SMA/SMK di sejumlah Kota dan Kabupaten diambil alih oleh Pemprov Banten guna menerapkan pendidikan gratis tersebut. Sedangkan pada sejumlah SD dan SMP menjadi penanggung jawab pemerintahan tingkat Kota maupun Kabupaten.

Gubernur Banten Wahidin Halim mengatakan mulai 2018, SMA dan SMK tidak boleh lagi memungut biaya dari siswa. Jika diketahui ada sekolah yang memungut biaya, kepala sekolahnya terancam dipecat.

“Jangan mintain duit, komite jangan mintain duit. Itu gratis namanya, susah-susah diganti kepala sekolahnya,” kata Wahidin Halim beberapa waktu lalu.

Gubernur Wahidin menegaskan, Pemerintah Provinsi Banten berkomitmen untuk menggratiskan biaya pendidikan bagi siswa SMA dan SMK. Oleh karena itu sekolah tidak diperkenankan memungut uang dari siswa dengan alasan apapun.

Statement Gubernur WH ini memantik respon dari Masyarakat yang tergabung dalam Forum Komunikasi Komite Sekolah mengktitisi kebijakan Gubernur Banten Wahidin Halim, terkait rencana penggratisan pendidikan SMA/SMK Negeri pada tahun 2018. Pasalnya kebijakan tersebut belum disertai dengan peraturan dan pedoman serta petunjuk teknis yang transparan.

Adanya instruksi lisan Gubernur melalui media massa dan pertemuan dengan para kepala sekolah dan MKKS, bahwa mulai 2018 pihak sekolah tidak dibolehkan mengambil dan menerima uang apapun menimbulkan keresahaan termasuk Forum Komunikasi Komite Sekolah se-Banten dalam diskusi, di Bapeda Banten (10/1/2018).

FKKS menegaskan bahwa pada kenyataannya kebutuhan sekolah belum terpenuhi secara minimum dari dana bantuan pemerintah pusat dan pemrov Banten, terutama untuk pengembangan mutu, pengembangan kurikulum dan pengembangan diri.

Forum Komite Sekolah dan pemerintah Banten hakikatnya tidak masuk dalam konflik menerima dan menolak sekolah gratis, namun nyatanya kita melihat bahwa Komite Sekolah berharap partisipasi publik untuk pendidikan murah terjangkau dan bermutu serta peningkatan sarana prasarana yang lebih dibutuhkan sehingga kualitas mutu pendidikan Banten dapat berkompetisi sebagai lulusan yg mumpuni dan berdaya saing sehat lewat pembiayaan Negara dan tidak menafikan kontribusi maksimal warga yang menggalang dana demi kemajuan sekolah serta mensubsidi silang kebutuhan siswa tidak mampu berprestasi secara maksimal dari pembiayaan tersebut demi keadilan dan keberhasilan Pembangunan yang Good Governance di Tanah Jawara dan Ulama ini.

Faktanya ada yang berbeda pada tahun pelajaran 2017/2018 , untuk siswa SMA dan SMK Negeri di Banten. Jika di tahun pelajaran sebelumnya siswa di beberapa kota dan kabupaten di Banten yang telah menerapkan sekolah gratis hingga pendidikan menengah tidak perlu membayar SPP (sumbangan pembinaan pendidikan), namun kini siswa harus membayar SPP alias tidak gratis lagi.

Hal ini disebabkan telah diberlakukannya UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Dalam Undang-Undang tersebut dicantumkan antara lain, masalah pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota. Salah satunya adalah pembagian urusan pemerintahan bidang pendidikan.

Pada pembagian urusan pemerintahan bidang pendidikan disampaikan bahwa kewenangan manajemen pendidikan menengah yang sebelumnya dikelola oleh Pemerintah Kota/Kabupaten dialihkan ke pemerintah provinsi. Sedangkan pemerintah kabupaten/kota hanya menangani sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.

Pengalihan kewenangan manajemen pendidikan menengah dari kabupaten/kota kepada provinsi tersebut juga berdampak kepada penyerahan personil/Sumber Daya Manusia (SDM), pendanaan/keuangan, sarana-prasarana /aset dan dokumen.

Terkait masalah pendanaan, pemerintah provinsi menyalurkan dana pendidikan melalui Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDA) yang jumlahnya belum mencukupi keperluan operasional sekolah. Sehingga pihak sekolah kini diperkenankan menarik iuran pendidikan atau SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan) setiap bulannya guna menutupi kekurangan dana tersebut.

Mengenai sumbangan biaya pendidikan ini mempunyai payung hukum yang kuat, yaitu Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 75 tahun 2017 dan Peraturan Gubernur.

Konsideran dalam pasal 1 Permendikbud Nomor 75 tahun 2016 bahwa yang dimaksud dengan: Komite Sekolah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orangtua/wali peserta didik, komunitas sekolah, serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan.

Bantuan Pendidikan, adalah pemberian berupa uang/barang/jasa oleh pemangku kepentingan satuan pendidikan di luar peserta didik atau orangtua/walinya, dengan syarat yang disepakati para pihak.

Pungutan Pendidikan adalah penarikan uang oleh Sekolah kepada peserta didik, orangtua/ walinya yang bersifat wajib, mengikat, serta jumlah dan jangka waktu pemungutannya ditentukan.

Sumbangan Pendidikan adalah pemberian berupa uang/barang/jasa oleh peserta didik, orangtua/walinya baik perseorangan maupun bersama-sama, masyarakat atau lembaga secara sukarela, dan tidak mengikat satuan pendidikan.

Dengan diberlakukan kembali pembayaran SPP tersebut tentu saja menjadi beban tersendiri bagi orangtua murid dari kelas menengah ke bawah, yang masih merupakan prosentasi terbesar dari bangsa ini. Sekolah yang kembali berbayar ini dikhawatirkan berakibat pada meningkatnya jumlah siswa putus sekolah.

Oleh karena itu, pendidikan merupakan suatu investasi yang berguna bukan saja untuk perorangan atau individu, tetapi juga merupakan investasi untuk masyarakat. Pendidikanh sesungguhnya dapat memberikan suatu kontribusi yang substansial untuk hidup yang lebih baik di masa yang akan datang.

Kita berterima kasih terhadap Gubernur Banten yang sungguh sungguh berpihak pro rakyat kecil untuk pendidikan Gratis di Banten. Tapi Gubernur juga harus merespon secara sehat akan partisipasi dan penggalangan dari masyarakat untuk pendidikan Gratis terjangkau dan bermutu demi tegaknya peningkatan mutu Pendidikan yang lebih baik. (Budi Usman)

Dari Desa Kumpay, Pesan Persatuan Digulirkan Para Elite Banten

Wagub Banten Andika menemui sejumlah tokoh Banten membawa pesan persatuan.

Banten – Tercatatlah sebuah sejarah baru, dari sebuah desa di wilayah selatan Banten atau oleh warga setempat sering disebut Banten Pakidulan, bernama Desa Kumpay. Pada Kamis (11/5) pagi sekitar pukul 11.00 siang, di saat sebagian besar masyarakat Indonesia tengah menikmati hari libur terkait peringatan hari besar umat Kristiani, sejumlah tokoh atau elite Banten justru memilih untuk bertemu. Yang menarik, mereka adalah para tokoh yang notabene pernah “berseteru” saling memperebutkan kekuasaan pada gelaran Pilgub Banten tahun lalu.
Adalah Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy dan sejumlah tokoh Banten yang pernah berseberangan dengannya pada Pilgub lalu, yang bertemu dalam suasana penuh keakraban siang itu. Para tokoh dimaksud di antaranya mantan Ketua KPK Taufiqurrahman Ruki sebagai tuan rumah acara, dan tokoh yang didukung Ruki dalam Pilgub lalu sebagai Calon Wakil Gubernur Banten, yaitu Embay Mulya Syarief.
Juga tak ketinggalan, turut hadir mantan Bupati Lebak Mulyadi Jayabaya. Jayabaya yang adalah politisi PDI Perjuangan, juga saat itu mendukung Embay yang berpasangan dengan Calon Gubernur petahana dari PDI Perjuangan, Rano Karno.
Namun siang itu tak tampak sedikit pun sisa-sisa “permusuhan” sebagaimana pernah sangat nampak pada saat gelaran Pilgub. Pada masa kampanyenya misalnya, kedua kubu, tak jarang saling menjelekkan dan saling “menyerang”.
Nuansa rekonsiliasi di antara kedua kubu semakin kental tatkala tokoh agama setempat diberi kesempatan untuk menutup acara pertemuan usai shalat Dzuhur berjamaah itu, membacakan doa.
“Ya Allah berikan lah kami warga Banten, dan juga para pemimpin kami rasa persatuan…” demikian antara lain bait doa sang ustad desa dari wilayah yang masuk ke Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak itu. Maka acara pun ditutup dengan babacakan atau makan bersama dengan alas daun pisang yang digelar di teras masjid.
Andika nampak berbagi nasi dari bakul yang sama dengan Embay dan Jayabaya. Sementara Ruki yang duduk berselang beberapa orang dari ketiganya, tampak menemani tamunya yang lain yang juga diundangnya di acara tersebut, yaitu Direktur Utama  BJB Ahmad Irfan.
Dalam sambutannya, Ruki lebih banyak mengungkapkan sejumlah persoalan yang terjadi, baik secara umum di Banten maupun yang terjadi di sekitar kampung halamannya tersebut. Menurut dia, persoalan infrastruktur, pendidikan dan kesehatan, masih lah masalah utama, sehingga perlu mendapatkan perhatian serius dari Pemprov Banten di bawah kepemimpinan Wahidin Halim dan Andika.
“Kepada siapa lagi kita sekarang berharap kalau bukan kepada pemerintah. Dan hari ini di sini ada Pak Andika, Wakil Gubernur Banten,” kata Ruki.
Sementara itu, Jayabaya yang lebih sering menyebut Andika dengan sapaan Aa, dalam sambutannya, meminta semua pihak di luar pemerintahan untuk membantu pemerintah dalam melaksanakan tugasnya melayani rakyat.
“Di sini yang hadir banyak orang-orang hebat dari berbagai bidang. Mari kita bantu pemerintah dalam melayani masyarakat agar kalau ditanggung bersama-sama semua akan menjadi ringan,” katanya.
Andika sendiri yang mendapatkan giliran terakhir memberikan sambutan, berulang kali meminta dukungan dan bantuan kepada para tokoh yang disebutnya sebagai orang tuanya sendiri. Tak lupa Andika membeberakan sejumlah program Pemprov Banten yang kini tengah dilakukan. Dia menyebut, Pemprov Banten saat ini tengah berfokus untuk melakukan pembangunan infrastruktur, di antaranya memperbaiki 100 km sisa jalan rusak yang masih ada, dalam 3 tahun ke depan.
Di bidang pendidikan, Andika menyebut, Pemprov Banten saat ini tengah ingin mewujudkan pendidikan gratis di tingkat SMA/SMK. Serta di bidang kesehatan, kata dia, saat ini program Pemprov Banten berupa berobat gratis warga miskin menggunakan E-KTP sudah mendapat persetujuan dari  Kementerian Kesehatan yang sebelumnya mendapatkan penolakan.
“Sekali lagi kepada kasepuhan, para orang tua saya, saya mohon kiranya kita dapat bersama-sama untuk memajukan daerah kita ini,” ujarnya. (Metaonline)

Ucapan Ramadan dari Ceo Gaido Group

M. Hasan Gaido

Selamat Datang Bulan Suci Ramadan!

Bapak, ibu, dan sahabat muslim yang saya hormati.

Beberapa hari lagi insya Allah kita akan melaksanakan puasa Ramadan 1439 H/2018. Untuk itu, perkenankan saya dan keluarga memohon maaf lahir batin, atas segala khilaf dan salah baik yang disengaja maupun yang tidak kami sengaja.

Selamat menyambut jamuan Ramadan, semoga Allah swt melimpahkan kesehatan, barakah, taufik, dan hidayah bagi kita semua.

Allaahumma baariklanaa fii sya’ban wa ballighnaa ramadhaan. Aamiin.

Salam

M. Hasan Gaido

Berpikir Positif dan Kreatif


Sesungguhnya Allah Yang Mahaagung telah menciptakan alam semesta ini dengan sangat rapi, sempurna, teratur, indah, dan mengesankan. Dengan karunia-Nya tersebut, maka kehidupan ini pun menjadi indah dan penuh warna. Akan tetapi, mengapa masih begitu sering kita temukan orang yang merasakan hidup ini sumpek, penuh kesulitan, dan masalah sehingga dunia ini terasa sempit menghimpit; tiada lagi keindahan?

Ternyata, memuncaknya kerumitan dari sebuah masalah yang menimpa seseorang acapkali disebabkan oleh ketidakmampuan berpikir positif. Orang yang tidak mampu berpikir positif biasanya cenderung memandang segala sesuatu dengan penuh syak wasangka dan mereka-reka segala apa yang belum terjadi. Sayangnya, rekaan-rekaannya itu tidak pernah berupa hal yang menyenangkan. Sebaliknya, yang terbayang hanyalah hal-hal sulit dan menyusahkan.

Alhasil, hati dan pikirannya tidak pernah merasakan kelapangan. Belum apa-apa sudah resah, gundah, gelisah, mudah curiga, dan tegang. Padahal, peristiwanya saja belum terjadi dan segala yang dikarang-karang oleh pikirannya itu pun belum tentu terjadi. Pendek kata, hidup ini pun jauh dari keindahan. Hidup yang pada hakikatnya penuh keindahan ini menjadi tidak lagi indah disebabkan salah memasang hati dan pikiran.

Memang, pada hakikatnya kebahagiaan yang kita cari-cari itu sangat bergantung pada sikap kita sendiri. Oleh karena itu, ketika sebuah masalah menerpa maka carilah penyebabnya di dalam diri kita lebih dahulu. Melihatlah ke dalam diri kita sendiri, maka di situ kita bisa mengurainya sehingga solusi atas masalah yang kita hadapi dapat terlihat.

Di samping itu, kita juga memerlukan inspirasi-inspirasi kreatif sebagai “vitamin” yang dapat memacu kita untuk senantiasa berpikir positif. Tentu saja, inspirasi pun terkadang tidak datang begitu saja. Ada upaya-upaya yang harus kita lakukan agar inspirasi-inspirasi segar masuk ke dalam pikiran kita dan membuahkan ide-ide brilian. Proses pencarian inilah yang disebut dengan proses berpikir kreatif. Proses berpikir yang menjadi katalisator dalam menghasilkan ide-ide baru. (Abdullah Gymnastiar)  

Pesona Kebon Awi Hadirkan Keindahan Bambu Sekaligus Perkenalkan Budaya Sunda

Pameran pesona Kebon Awi termasuk menghadirkan berbagai jenis bambu yang unik di pintu masuk pameran. Pameran ini digelar di i Jalan Bukit Pakar Timur No 29, Kota Bandung, Minggu (13/5/2018). 

Bandung – Jika berkunjung ke wilayah Dago atas, Anda bisa menemukan berbagai kafe yang menyajikan pemandangan alam yang indah. Satu di antaranya yaitu Kebon Awi Kaffee yang berada di Jalan Bukit Pakar Timur No 29, lokasinya tak jauh dari Coco Rico Cafe.

Suasana yang sejuk dan dingin begitu terasa ketika memasuki Kebon Awi. Sesuai namanya, kafe ini dipenuhi saung bambu yang rasanya seperti berada di dalam hutan bambu.

Ketika memasuki Kebon Awi, di bagian dalam kebun bambunya terdapat panggung yang cukup luas dan tampak ramai. Keramaian ini ada karena adanya acara Pesona Kebon Awi yang menghadirkan pameran bambu unik, lomba menggambar, dan galeri lukisan.
Operational manager Kebon Awi Kaffee, Pria Eka mengatakan pameran ini digelar untuk melestarikan dan memelihara kearifan lokal.
“Pameran ini diadakan pertama kali, acara ini diadakan untuk memperkenalkan kegiatan edukasi mengenai tari, lukis, dan bambu,” ujar Pria di Kebon Awi, Minggu (13/5/2018).
Pria mengatakan, Kebon Awi tak hanya ingin dijadikan sebagai kafe tetapi ingin dijadikan sarana edukasi untuk warga lokal disini untuk belajar mengenai tradisi Sunda.
Acara pembukaan pameran diisi tarian tradisional, pencak silat, dan penampilan Ambu Otih pemilik Kebon Awi. Kegiatan edukasi semisal belajar melukis, menari, dan bermain permainan tradisional bisa dilakukan di tempat ini. Suasana gemericik air yang pohon bambu yang rindang membuat anak-anak akan merasa betah dan segar ketika belajar di ruang terbuka dan hijau.
Ia berharap dengan adanya acara Pesona Kebon Awi, pengunjung bisa berpartisipasi dengan kegiatan yang ada di kafe ini untuk bisa mempopulerkan budaya Sunda, pengembangan bakat dan minat, mempererat silaturahmi. (Tribun)

Tren Sosial Zaman Now, Gerakan Senang Ajak Orang Senang (SAOS) Makin Viral!

Nonton bareng Terbang Menembus Langit sebagai salah satu kegiatan Senang Ajak Orang Senang (SAOS) di Batam.
Batam – Di era media sosial yang serba canggih muncul berbagai tren kreatif dan perkembangannya cukup masif. Satu di antaranya adalah yang lagi viral sosial media, Gerakan Senang Ajak Orang Senang (SAOS).
Gerakan yang berasal dari inisiatif seorang aktivitis sosial bernama Filan Kwok, yang kemudian dikembangkan bersama orang-orang di lingkaran pertemanannya, hingga gerakan ini berkembang secara nasional.
“SAOS tercetus saat kami meeting, anyway tiap bulan kita menyisihkan uang untuk diberikan ke anak yang kurang mampu. Selama ini kita lakukan itu.  Ketika itu saya ingin income yang secara kolektif dikumpulkan untuk mengajak anak panti nonton dan ide itu disambut teman-teman,” kata Fillan saat hadir di Batam dalam Gerakan SAOS Chapter Batam yang berlangsung di Radisson Hotel, Selasa (8/5/2018).
Fillan mengatakan, konsep gerakan SAOS ini berupa donasi untuk anak-anak maupun orang yang kurang mampu untuk mendapatkan makanan rohani yang dapat memberikan mindset positif, di antaranya berupa nonton bareng film Indonesia berkualitas.
Fillan, selaku Ketua Gerakan Nasional mengungkapkan bantuan materi untuk fisik ataupun rohani, keduanya sama-sama penting untuk diberikan.
Gerakan SAOS sendiri sudah dilaksanakan di berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Lampung, Palembang, Bogor, Tangerang, Jambi, Semarang, Sukoharjo, Wonogiri, Solo Batam dan berbagai kota lainnya.
Eksistensi gerakan ini juga mendapat perhatian dari Tokoh Inspiratif Film Terbang Menembus Langit, Onggy Hianata yang hadir di tempat yang sama.
“Manusia pada dasarnya punya sifat ingin memberi, saya melihat Gerakan SAOS sebagai proses membangun karakter, mental dan sarana berbagi kepada sesama. Ini penting untuk Indonesia yang beragam terutama penanaman nilai-nilai yang membangun sejak dini,” kata Onggy ketika menghadiri acara Meet and Greet Film Terbang Menembus Langit di Batam.
Di Batam, kegiatan SAOS telah berlangsung hingga saat ini dan telah membantu 3.801 anak dengan nominal donasi Rp 209.087.002.
Dana yang berasal dari donatur yang tidak hanya berasal Kepri tetapi juga Singapura tersebut digunakan untuk agenda nonton bareng Film Inspiratif Terbang Menembus Langit, pemberian makanan dan pembuatan dream book. 
Gerakan SAOS Batam diketuai Prinsip Muljadi, seorang Pengusaha Properti ternama dan Social Philanthropist Batam.
Gerakan ini dapat lebih lanjut di sosial media dengan taggar #gerakansosialterbang #GerakanSAOS. (Tribun)

Islam adalah Agama Cinta


Umat Nabi Muhammad SAW adalah umat yang dirahmati. Setiap orang yang memegang bithaqah (kartu) la ilaha illa Allahwajib dihormati dan dihargai. Sedangkan sikap dan paham mereka yang berbeda adalah konsekuensi yang harus diterima sebagai makhluk-Nya. Tuhan menciptakan makhluk tidak sama, berbeda, dan beraneka ragam. Itulah fitrah manusia dan sunnatullah.

Itulah fitrah yang melekat dan menempel kuat pada setiap makhluk. Karenanya setiap yang membawa bithaqah la ilaha illa Allahharus dihormati dan dihargai, sebab dalam bingkai itu mereka semua sama. Dalam masalah ushul (pokok), umat Islam harus sama. Tetapi dalam masalah furu‘(cabang), perbedaan terbuka lebar dan tidak bisa dihindari. Likulli ra’sin ra’yun, di setiap kepala ada otak dan pikiran yang berbeda. Pendapat dan sudut pandang itu boleh berbeda. Kita harus menghargai dan menghormati itu.

Baca juga: Pendidikan Islam Perlu Diperketat


Maka hentikan kecongkakan pada Allah dengan menuduh umat-Nya dengan tuduhan kafir atau tuduhan lainnya. Rasulullah SAW tidak mengajarkan umatnya untuk menuduh dan mencurigai saudaranya. Yang beliau minta adalah sifat lembut, halus, kasih, sayang, saling mempercayai, dan saling menguatkan. Api dilawan dengan air, bukan api dilawan dengan api. Rasulullah SAW selalu bersikap santun terhadap setiap orang, sekalipun terhadap orang yang membenci dan memusuhinya. Bahkan saat dizalimi, beliau tidak membalas tetapi justru mendoakannya.

Kaana khuluquhu Al-Qur’an, akhlak Rasulullah SAW adalah akhlak Al-Qur’an. Tutur kata beliau halus tidak menyakiti dan sikap beliau lembut penuh kasih sayang. Tidaklah Rasulullah SAW diutus kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam, wamaa arsalnaaka illaa rahmatan lil aalamiin. Inilah pedoman akhlak Rasulullah SAW yang bersumber dari wahyu Tuhannya, Al-Qur’an. Oleh karena itu, ajaran Nabi Muhammad SAW adalah Islam yang penyayang, bukan kebengisan membabi buta yang penuh kebencian. Islam berarti damai dan memberi selamat. Dalam makna ini kebencian tidak mendapat ruang sedikitpun dalam Islam.

Ada rahasia penting mengapa bismillah menjadi pembuka Surat Al-Fatihah dan surat-surat lainnya. Di sana kita diminta untuk senantiasa bersikap rahman dan rahim. Saat aura kebencian merasuk, lawanlah dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih (Rahman) dan Maha Penyayang (Rahim). Jangan sekali-kali kita mengkhianatinya dengan kemarahan dan kebencian. Ini tidak menghormati dan menghargai bismillahir rahmanir rahim sebagai pondasi amal kebajikan.

Baca juga: Bersyukur, Kunci Kebahagiaan Hidup


Rasulullah SAW mengajarkan bahwa dalam setiap perbuatan baik harus (sunah) diawali dengan bacaan basmalah, jika tidak kebaikan tersebut menjadi terputus atau menjadi tidak bernilai. Ini selaras dengan pesan moral bismillahir rahmanir rahim yang menyuarakan nilai-nilai kesantunan, kasih dan sayang. Sebaliknya, basmalah tidak boleh (dilarang) menjadi pembuka perbuatan tercela. Artinya, tidak ada toleransi mengawali perbuatan buruk dengan mengatasnamakan Tuhan. Sikap benci, marah, dan sikap negatif lain adalah bagian dari perbuatan tercela. Maka dalam Islam tidak ada toleransi bagi sikap benci dan marah.

Takfir (mengkafirkan) saudara seiman termasuk bagian perbuatan tercela yang tidak mencerminkan sikap rahmatan lil alamin yang diajarkan Tuhan. Selain itu, takfir juga hampa dari nilai-nilai basmalah yang santun itu. Islam menuntut sikap ramah bukan marah. Sebagaimana Rasulullah SAW yang ramah dan selalu menjaga amarah. Karena itulah jargon utama Muhammad SAW sebagai sebagai nabi dan rasul Tuhan adalah rahmatan lil alamin, menjadi rahmat yang membawa kesejukan, ketenteraman, kedamaian, dan kerukunan yang tidak terbatas pada manusia semata, tetapi pada seluruh makhluk dan alam semesta. Karena itu, Islam tidak hanya ramah sikap dan perilaku, tetapi juga harus ramah lingkungan. Di sinilah Islam dikenal sebagai agama cinta. 

Oleh karena itu Rasulullah SAW , “Orang-orang yang penyayang (ramah, sopan, santun, dan penuh kasih) akan disayang oleh Allah (Ar-Rahman). Maka sayangilah penduduk bumi, niscaya (Allah) yang di atas langit pun akan menyayangi (bersikap ramah, sopan, santun, dan penuh kasih) kalian,” (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad).


Baca juga: Resep Raih Rezeki Banyak


Ajaran Islam rahmatan lil alamin ini yang dewasa ini semakin ditinggalkan banyak orang. Mari kita buang jauh-jauh sikap congkak dan sombong. Mari kita tebarkan kesejukan dan kedamaian pada umat. Menjadi tempat berteduh yang nyaman, yang melindungi mereka dari keburukan dan kejahatan.

Jadilah awan yang putih dan jernih yang memberikan kecerahan. Jangan jadi awan gelap yang mencekam dan menakutkan. Islam rahmatan lil alamin. Wallahu a‘lam bis shawab. (Muhammad Ali Wafa)

Lembaga Pendidikan Islam Perlu Diperkuat

“Kita ingin tunjukkan pendidikan madrasah layak untuk seluruh elemen masyarakat, bahkan milenial sekalipun,” kata Lutfi

Sleman – Kanwil Kemenag DIY tengah menggelar Ekspo Pendidikan Islam yang diikuti hampir 160 madrasah se-DIY. Pada kesempatan itu, turut diluncurkan Gerakan Literasi Madrasah dan aplikasi e-learning, pembelajaran berbasis elektronik untuk madrasah.


Kepala Kanwil Kemenag DIY, Muhammad Lutfi Hamid menilai, e-learning merupakan satu pergerakan paling progresif untuk pembelajaran berbasis elektronik. Ia menekankan, itu jadi salah satu bagian perwujudan Gerakan Literasi Madrasah.

Ia mengungkapkan, peluncuran yang dilakukan di Ekspo Pendidikan Islam yang bertempat di salah satu ritel ternama turut memiliki tujuan. Menurut Lutfi, tujuannya tidak lain agar madrasah memiliki jangkauan yang lebih luas lagi di generasi milenial.

“Kita ingin tunjukkan pendidikan madrasah layak untuk seluruh elemen masyarakat, bahkan milenial sekalipun,” kata Lutfi saat memandu Ngobrol Pendidikan Islam (Ngopi) yang merupakan mandatori Menteri Agama.

Narasumber lain, Wakil Rektor UIN Sunan Kalijaga, Sahiron Syamsuddin berpendapat, ilmu yang didapatkan dari lembaga-lembaga pendidikan Islam yang dienyamnya sangat bermanfaat. Termasuk, untuk melangkah ke luar negeri.

Salah satunya, kebiasaan lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan melalui tiga bahasa yaitu Indonesia, Arab dan Inggris. Sahiron yang lulusan Pondok Pesantren Krapyak itu mengaku begitu terbantu dengan bekal-bekal tersebut.

“Saya pribadi merasa mendapatkan kemudahan untuk meraih ilmu yang diajarkan karena sudah ada kemampuan baca kitab kuning, walaupun masih tahap belajar waktu itu, tapi setidaknya sudah ada bekal,” ujar Sahiron.

Meski begitu, kualitas lembaga-lembaga pendidikan Islam baik madrasah maupun pondok pesantren, harus terus ditingkatkan. Pengasuh Ponpes Ali Maksum Krapyak, KH Hilmy Muhammad melihat, saat ini masih ada gap kualitas terkait itu.

Bahkan, jika membandingkan madrasah-madrasah alliyah dengan SMA misalnya, ia merasa masih ada gap kualitas yang cukup terang terlihat. Karenanya, ke depan Hilmy meminta ada kesadaran diri untuk melakukan perbaikan-perbaikan itu.

“Kita harus melakukan pembenahan diri, tidak bisa tidak,” kata Hilmy. 

7 Tips Kerja Keras Ala Orang Jerman


Motivasi – Banyak yang bilang bahwa Jerman adalah mesin ekonomi Eropa. Ekonomi Jerman-lah yang menyelamatkan Eropa dari krisis beberapa waktu lalu. Namun, tahukah kamu? Sesungguhnya, jam kerja di Jerman itu tidaklah banyak seperti kita di Indonesia. Namun, mereka mampu memanfaatkannya sebaik mungkin.
Untuk diketahui, rata-rata jam kerja orang Jerman 35 jam per minggu atau sama dengan 7 jam per hari, dengan waktu cuti 24 hari per tahun. Bandingkan dengan jam kerja kita di Indonesia: 8 jam per hari, cuti hanya 13 hari per tahun.

Pertanyaannya: apa sih rahasianya sehingga mereka bisa tetap produktif dengan jam kerja yang singkat

1. Bagi Orang Jerman, Jam Kerja Khusus untuk Kerja

Saat karyawan bekerja, dia tidak boleh melakukan apapun selain kerjaannya. Jadi tidak main facebook, belanja online, instagram, chatting, Ngaskus dan sebagainya. Kebiasaan berlagak sibuk (padahal lagi nge-Kaskus) saat bos datang merupakan perilaku yang tidak bisa diterima dalam dunia kerja Jerman.

Ketika sedang bekerja orang Jerman terkenal sangat fokus dan rajin. Kamu bisa datang dan pergi dari kantor sewaktu-waktu asalkan sudah menyelesaikan pekerjaanmu. Jadi, tak ada aturan ketat masuk jam 9 pulang jam 5. Mereka selalu berusaha fokus dan cekatan dalam bekerja, sehingga produktivitas yang tinggi bisa tercapai dalam waktu yang singkat.

2
Orang Jerman Lebih Suka Komunikasi Langsung

Saat orang Indonesia mengagungkan budaya basa-basi, orang Jerman tetap bisa asik tanpa banyak basa-basi. Karyawan di Jerman akan bicara langsung kepada atasannya mengenai laporan yang ia buat, bawahan juga tidak segan untuk menanyakan kenapa performa kerjanya dianggap menurun. Atasan mereka juga lebih suka menggunakan perintah langsung seperti “Saya butuh kerjaan kamu jam 3 sore ini” daripada “Gak buru-buru kok.Tapi kalau bisa selesai jam 3.”

3
Orang Jerman Memisahkan Pekerjaan dari Kehidupan Pribadi dengan Seimbang

Karena fokus yang mereka curahkan bagi pekerjaan begitu intens dan mereka begitu produktif saat di kantor/pabrik, selesai jam kantor mereka manfaatkan buat istirahat. Mereka tidak terlalu suka hang out atau ngopi-ngopi dulu bareng teman sekantor. Karena pada umumnya orang Jerman benar-benar menghargai batasan antara kehidupan pribadi dan kehidupan profesionalnya. Bahkan pemerintah Jerman berencana untuk melarang pengiriman email yang berhubungan dengan kerjaan setelah jam 6 sore, supaya pekerja di sana bisa beristirahat.

Bagi mereka, hari libur benar-benar dimanfaatkan untuk berlibur. Akhir pekan dimanfaatkan untuk bercengkrama dengan keluarga dan berbaur dengan masyarakat melalui komunitas minat khusus seperti klub musik, klub olahraga, klub pecinta binatang, klub hiking dan sebagainya. Bahkan di desa terkecil di Jerman terdapat beberapa klub, hingga mereka tidak melewatkan akhir pekan dengan malas-malasan di depan TV.

4
Masyarakat Jerman Dimanjakan dengan Jumlah Hari Libur yang Banyak

Dalam setahun, masyarakat Jerman menikmati ‘libur yang dimandatkan negara’ (mungkin sama dengan ‘cuti bersama’ atau ‘libur nasional’ kalau di Indonesia) yang banyak banget. Kalau ditotal, bisa mencapai 6 minggu dalam setahun. Bayangkan, kamu tidak harus pergi kerja selama 6 minggu sementara gaji kamu tetap dibayar penuh. Itu belum termasuk 25-30 hari jumlah cuti (padahal yang dianjurkan cuma 20 hari) yang boleh diambil dalam setahun. Itu artinya, jika bisa pandai-pandai mengatur jadwal liburan, mereka bisa traveling ke tempat jauh sekalian.

Lalu apa hubungannya liburan dengan produktivitas kerja? Selain liburan membuat kamu lebih fresh saat kembali ke kantor, kamu juga harus menggunakan kacamata orang Jerman dalam melihat liburan. Bagi mereka, liburan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Sedangkan kita hanya menganggap liburan sebagai bonus/hadiah dari pekerjaan.

5
.  Para Karyawan di Jerman Jarang Melakukan Rapat dan Pertemuan

Kalau kultur kerja di Indonesia terbiasa dengan kebiasaan beramah-tamah, santai dan lebih banyak basa-basi demi menjalin keakraban. Kultur kerja di Jerman menitikberatkan pada kualitas, bekerja secara individu, dan segera pulang setelah selesai pekerjaannya. Memang benar mereka lebih suka bekerja sendiri dan tertutup jika itu dipandang bagus buat diri dan kantornya. Seringkali mereka mengambil istirahat siang yang panjang agar bisa bekerja di luar kantor dan lebih fokus. Jadi, jangan heran melihat mereka jarang ngumpul buat rapat atau ngobrol soal kerjaan. Bagi mereka, less social time is more work time.

6
Tidak Pernah Cemas Karena Hilang Pekerjaan

Jika mereka berminggu-minggu libur dan cuti, apa mereka tidak takut kehilangan pekerjaan? Mau bayar tagihan pakai apa? Tenang, selain karena libur dan cuti tersebut dimandatkan oleh negara, orang Jerman tidak terlalu cemas jika mereka tidak punya pekerjaan. Itu karena pemerintah Jerman selalu berusaha membahagiakan rakyatnya dengan menyediakan layanan kesehatan gratis, biaya kuliah gratis, dan santunan kepada anak-anak kecil.

Orang Jerman bebas dari rasa cemas karena beberapa tagihan mereka sudah ditanggung oleh pemerintah. Akibatnya mereka jadi jauh lebih bahagia, lebih produktif, dan seluruh waktunya dicurahkan untuk pekerjaan dan keluarga, bukan fokus buat memikirkan tunggakan bulanan.

7
Kualitas Jauh Lebih Utama Daripada Kuantitas

Kultur kerja yang diterapkan orang Jerman sekali lagi menegaskan bahwa kualitas jauh lebih penting daripada kuantitas. Saat kita membanggakan diri dengan jumlah jam kerja dan lembur yang kita lakukan buat kantor dan perusahaan, orang Jerman lebih mengutamakan kualitas dari hasil pekerjaan. Kualitas itu didapatkan dengan fokus, efisiensi dan dedikasi tanpa kompromi di tempat kerja.

Mereka memblokir semua gangguan dari luar dan dalam diri demi menyelesaikan kewajiban, lalu segera kembali ke keluarga dan komunitas untuk memelihara keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan. Lagipula, buat apa pamer sudah kerja lembur hingga 12 jam kalau sebagian besar pekerjaannya diisi oleh membuka facebook, ngerumpi, serta berbasa-basi?

Kultur kerja masyarakat Jerman memang tidak bisa disamakan dengan gaya di Indonesia. Namun, sebenarnya dari beberapa contoh di atas kamu bisa mempelajari beberapa ilmu. Keuletan dan usaha mereka menyeimbangkan antara ‘work’ dengan ‘play’ bisa kamu tiru. Pola komunikasi langsung pada intinya bisa menghemat waktu, meningkatkan efisiensi, dan memperjelas percakapan antar rekan kerja. Menutup media sosial saat bekerja akan membantu fokus dan tidak mudah terdistraksi. Lalu, nikmatilah akhir pekan kamu tanpa gangguan smartphone dan internet agar otak kamu lebih bugar saat kembali ke kantor nanti.

Bersyukur, Kunci Kebahagiaan Hidup

Bersyukur atas apa yang dimiliki adalah salah satu cara manusia untuk menggapai kebahagiaan. Sebab tanpa bersyukur, betapapun besarnya nikmat yang didapat, niscaya akan tetap merasa kurang. 

Demikian diungkapkan Ketua PC LDNU Jember, KH Badrus Shadiq saat memberikan tausiyah dalam Peringatan Isra’ Mi’raj di Pesantren Fathul Ulum, Dusun Karangtengah Selatan, Desa Pace, Kecamatan Silo, Jember, Jawa Timur, Rabu (4/4/18).

Menurut Kiai Badrus sapaan akrabnya, pada dasarnya  manusia selalu merasa  kurang terhadap apa yang diperolehnya. Oleh karena itu, untuk memicu timbulnya perasaan bersyukur kepada Allah adalah dengan cara memandang ke bawah, bukan melihat ke atas, yakni membanding-bandingkan dengan nikmat yang lebih kecil milik orang lain. 

“Selain itu, kita juga harus yakin dengan janji Allah bahwa Allah akan menambah rezeki yang kita dapat  jika pandai bersyukur,” ucapnya.

Dikatakan, Nabi Muhammad SAW sudah tak kurang apa, walaupun beliau bukan orang  kaya, tapi semua keinginannya dipenuhi oleh Allah. Bahkan beliau sudah dijamin masuk syurga. Tapi Nabi Muhammad SAW masih rajin ibadah bahkan sampai  kakinya bengkak. 

“Itu karena Nabi Muhammad ingin selalu bersyukur kepada Allah,” jelasnya. 

Ia menambahkan, kebahagiaan dan kesusahaan sesugguhnya adalah persepsi atau anggapan, orang yang kaya dianggap hidupnya bahagia. Sebaliknya, orang miskin dikira hidupnya susah. Padahal belum tentu demikian. Sebab, setiap orang apakah dia kaya atau miskin pasti punya persoalan juga yang bisa jadi hanya dia yang  tahu. 

“Banyak (harta) belum tentu cukup sedikit belum tentu kurang, tergantung pada persoalan yang dimilliki manusia,” lanjutnya.