![]() |
| Gubernur Banten, Wahidin Halim, semenjak menjabat dari periode 2017 bertekad membayar janji kampanyenya soal sekolah gratis. |
Author: Developer
Dari Desa Kumpay, Pesan Persatuan Digulirkan Para Elite Banten
![]() |
| Wagub Banten Andika menemui sejumlah tokoh Banten membawa pesan persatuan. |
Ucapan Ramadan dari Ceo Gaido Group
Selamat menyambut jamuan Ramadan, semoga Allah swt melimpahkan kesehatan, barakah, taufik, dan hidayah bagi kita semua.
Berpikir Positif dan Kreatif
Pesona Kebon Awi Hadirkan Keindahan Bambu Sekaligus Perkenalkan Budaya Sunda
![]() |
| Pameran pesona Kebon Awi termasuk menghadirkan berbagai jenis bambu yang unik di pintu masuk pameran. Pameran ini digelar di i Jalan Bukit Pakar Timur No 29, Kota Bandung, Minggu (13/5/2018). |
Tren Sosial Zaman Now, Gerakan Senang Ajak Orang Senang (SAOS) Makin Viral!
![]() |
| Nonton bareng Terbang Menembus Langit sebagai salah satu kegiatan Senang Ajak Orang Senang (SAOS) di Batam. |
Islam adalah Agama Cinta
Itulah fitrah yang melekat dan menempel kuat pada setiap makhluk. Karenanya setiap yang membawa bithaqah la ilaha illa Allahharus dihormati dan dihargai, sebab dalam bingkai itu mereka semua sama. Dalam masalah ushul (pokok), umat Islam harus sama. Tetapi dalam masalah furu‘(cabang), perbedaan terbuka lebar dan tidak bisa dihindari. Likulli ra’sin ra’yun, di setiap kepala ada otak dan pikiran yang berbeda. Pendapat dan sudut pandang itu boleh berbeda. Kita harus menghargai dan menghormati itu.
Maka hentikan kecongkakan pada Allah dengan menuduh umat-Nya dengan tuduhan kafir atau tuduhan lainnya. Rasulullah SAW tidak mengajarkan umatnya untuk menuduh dan mencurigai saudaranya. Yang beliau minta adalah sifat lembut, halus, kasih, sayang, saling mempercayai, dan saling menguatkan. Api dilawan dengan air, bukan api dilawan dengan api. Rasulullah SAW selalu bersikap santun terhadap setiap orang, sekalipun terhadap orang yang membenci dan memusuhinya. Bahkan saat dizalimi, beliau tidak membalas tetapi justru mendoakannya.
Kaana khuluquhu Al-Qur’an, akhlak Rasulullah SAW adalah akhlak Al-Qur’an. Tutur kata beliau halus tidak menyakiti dan sikap beliau lembut penuh kasih sayang. Tidaklah Rasulullah SAW diutus kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam, wamaa arsalnaaka illaa rahmatan lil aalamiin. Inilah pedoman akhlak Rasulullah SAW yang bersumber dari wahyu Tuhannya, Al-Qur’an. Oleh karena itu, ajaran Nabi Muhammad SAW adalah Islam yang penyayang, bukan kebengisan membabi buta yang penuh kebencian. Islam berarti damai dan memberi selamat. Dalam makna ini kebencian tidak mendapat ruang sedikitpun dalam Islam.
Ada rahasia penting mengapa bismillah menjadi pembuka Surat Al-Fatihah dan surat-surat lainnya. Di sana kita diminta untuk senantiasa bersikap rahman dan rahim. Saat aura kebencian merasuk, lawanlah dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih (Rahman) dan Maha Penyayang (Rahim). Jangan sekali-kali kita mengkhianatinya dengan kemarahan dan kebencian. Ini tidak menghormati dan menghargai bismillahir rahmanir rahim sebagai pondasi amal kebajikan.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa dalam setiap perbuatan baik harus (sunah) diawali dengan bacaan basmalah, jika tidak kebaikan tersebut menjadi terputus atau menjadi tidak bernilai. Ini selaras dengan pesan moral bismillahir rahmanir rahim yang menyuarakan nilai-nilai kesantunan, kasih dan sayang. Sebaliknya, basmalah tidak boleh (dilarang) menjadi pembuka perbuatan tercela. Artinya, tidak ada toleransi mengawali perbuatan buruk dengan mengatasnamakan Tuhan. Sikap benci, marah, dan sikap negatif lain adalah bagian dari perbuatan tercela. Maka dalam Islam tidak ada toleransi bagi sikap benci dan marah.
Takfir (mengkafirkan) saudara seiman termasuk bagian perbuatan tercela yang tidak mencerminkan sikap rahmatan lil alamin yang diajarkan Tuhan. Selain itu, takfir juga hampa dari nilai-nilai basmalah yang santun itu. Islam menuntut sikap ramah bukan marah. Sebagaimana Rasulullah SAW yang ramah dan selalu menjaga amarah. Karena itulah jargon utama Muhammad SAW sebagai sebagai nabi dan rasul Tuhan adalah rahmatan lil alamin, menjadi rahmat yang membawa kesejukan, ketenteraman, kedamaian, dan kerukunan yang tidak terbatas pada manusia semata, tetapi pada seluruh makhluk dan alam semesta. Karena itu, Islam tidak hanya ramah sikap dan perilaku, tetapi juga harus ramah lingkungan. Di sinilah Islam dikenal sebagai agama cinta.
Oleh karena itu Rasulullah SAW
, “Orang-orang yang penyayang (ramah, sopan, santun, dan penuh kasih) akan disayang oleh Allah (Ar-Rahman). Maka sayangilah penduduk bumi, niscaya (Allah) yang di atas langit pun akan menyayangi (bersikap ramah, sopan, santun, dan penuh kasih) kalian,” (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad).Baca juga: Resep Raih Rezeki Banyak
Ajaran Islam rahmatan lil alamin ini yang dewasa ini semakin ditinggalkan banyak orang. Mari kita buang jauh-jauh sikap congkak dan sombong. Mari kita tebarkan kesejukan dan kedamaian pada umat. Menjadi tempat berteduh yang nyaman, yang melindungi mereka dari keburukan dan kejahatan.
Jadilah awan yang putih dan jernih yang memberikan kecerahan. Jangan jadi awan gelap yang mencekam dan menakutkan. Islam rahmatan lil alamin. Wallahu a‘lam bis shawab. (Muhammad Ali Wafa)
Lembaga Pendidikan Islam Perlu Diperkuat
![]() |
| “Kita ingin tunjukkan pendidikan madrasah layak untuk seluruh elemen masyarakat, bahkan milenial sekalipun,” kata Lutfi |
7 Tips Kerja Keras Ala Orang Jerman
Pertanyaannya: apa sih rahasianya sehingga mereka bisa tetap produktif dengan jam kerja yang singkat
1. Bagi Orang Jerman, Jam Kerja Khusus untuk Kerja
Saat karyawan bekerja, dia tidak boleh melakukan apapun selain kerjaannya. Jadi tidak main facebook, belanja online, instagram, chatting, Ngaskus dan sebagainya. Kebiasaan berlagak sibuk (padahal lagi nge-Kaskus) saat bos datang merupakan perilaku yang tidak bisa diterima dalam dunia kerja Jerman.
Ketika sedang bekerja orang Jerman terkenal sangat fokus dan rajin. Kamu bisa datang dan pergi dari kantor sewaktu-waktu asalkan sudah menyelesaikan pekerjaanmu. Jadi, tak ada aturan ketat masuk jam 9 pulang jam 5. Mereka selalu berusaha fokus dan cekatan dalam bekerja, sehingga produktivitas yang tinggi bisa tercapai dalam waktu yang singkat.
2. Orang Jerman Lebih Suka Komunikasi Langsung
Saat orang Indonesia mengagungkan budaya basa-basi, orang Jerman tetap bisa asik tanpa banyak basa-basi. Karyawan di Jerman akan bicara langsung kepada atasannya mengenai laporan yang ia buat, bawahan juga tidak segan untuk menanyakan kenapa performa kerjanya dianggap menurun. Atasan mereka juga lebih suka menggunakan perintah langsung seperti “Saya butuh kerjaan kamu jam 3 sore ini” daripada “Gak buru-buru kok.Tapi kalau bisa selesai jam 3.”
3. Orang Jerman Memisahkan Pekerjaan dari Kehidupan Pribadi dengan Seimbang
Karena fokus yang mereka curahkan bagi pekerjaan begitu intens dan mereka begitu produktif saat di kantor/pabrik, selesai jam kantor mereka manfaatkan buat istirahat. Mereka tidak terlalu suka hang out atau ngopi-ngopi dulu bareng teman sekantor. Karena pada umumnya orang Jerman benar-benar menghargai batasan antara kehidupan pribadi dan kehidupan profesionalnya. Bahkan pemerintah Jerman berencana untuk melarang pengiriman email yang berhubungan dengan kerjaan setelah jam 6 sore, supaya pekerja di sana bisa beristirahat.
Bagi mereka, hari libur benar-benar dimanfaatkan untuk berlibur. Akhir pekan dimanfaatkan untuk bercengkrama dengan keluarga dan berbaur dengan masyarakat melalui komunitas minat khusus seperti klub musik, klub olahraga, klub pecinta binatang, klub hiking dan sebagainya. Bahkan di desa terkecil di Jerman terdapat beberapa klub, hingga mereka tidak melewatkan akhir pekan dengan malas-malasan di depan TV.
4. Masyarakat Jerman Dimanjakan dengan Jumlah Hari Libur yang Banyak
Dalam setahun, masyarakat Jerman menikmati ‘libur yang dimandatkan negara’ (mungkin sama dengan ‘cuti bersama’ atau ‘libur nasional’ kalau di Indonesia) yang banyak banget. Kalau ditotal, bisa mencapai 6 minggu dalam setahun. Bayangkan, kamu tidak harus pergi kerja selama 6 minggu sementara gaji kamu tetap dibayar penuh. Itu belum termasuk 25-30 hari jumlah cuti (padahal yang dianjurkan cuma 20 hari) yang boleh diambil dalam setahun. Itu artinya, jika bisa pandai-pandai mengatur jadwal liburan, mereka bisa traveling ke tempat jauh sekalian.
Lalu apa hubungannya liburan dengan produktivitas kerja? Selain liburan membuat kamu lebih fresh saat kembali ke kantor, kamu juga harus menggunakan kacamata orang Jerman dalam melihat liburan. Bagi mereka, liburan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Sedangkan kita hanya menganggap liburan sebagai bonus/hadiah dari pekerjaan.
5. Para Karyawan di Jerman Jarang Melakukan Rapat dan Pertemuan
Kalau kultur kerja di Indonesia terbiasa dengan kebiasaan beramah-tamah, santai dan lebih banyak basa-basi demi menjalin keakraban. Kultur kerja di Jerman menitikberatkan pada kualitas, bekerja secara individu, dan segera pulang setelah selesai pekerjaannya. Memang benar mereka lebih suka bekerja sendiri dan tertutup jika itu dipandang bagus buat diri dan kantornya. Seringkali mereka mengambil istirahat siang yang panjang agar bisa bekerja di luar kantor dan lebih fokus. Jadi, jangan heran melihat mereka jarang ngumpul buat rapat atau ngobrol soal kerjaan. Bagi mereka, less social time is more work time.
6. Tidak Pernah Cemas Karena Hilang Pekerjaan
Jika mereka berminggu-minggu libur dan cuti, apa mereka tidak takut kehilangan pekerjaan? Mau bayar tagihan pakai apa? Tenang, selain karena libur dan cuti tersebut dimandatkan oleh negara, orang Jerman tidak terlalu cemas jika mereka tidak punya pekerjaan. Itu karena pemerintah Jerman selalu berusaha membahagiakan rakyatnya dengan menyediakan layanan kesehatan gratis, biaya kuliah gratis, dan santunan kepada anak-anak kecil.
Orang Jerman bebas dari rasa cemas karena beberapa tagihan mereka sudah ditanggung oleh pemerintah. Akibatnya mereka jadi jauh lebih bahagia, lebih produktif, dan seluruh waktunya dicurahkan untuk pekerjaan dan keluarga, bukan fokus buat memikirkan tunggakan bulanan.
7. Kualitas Jauh Lebih Utama Daripada Kuantitas
Kultur kerja yang diterapkan orang Jerman sekali lagi menegaskan bahwa kualitas jauh lebih penting daripada kuantitas. Saat kita membanggakan diri dengan jumlah jam kerja dan lembur yang kita lakukan buat kantor dan perusahaan, orang Jerman lebih mengutamakan kualitas dari hasil pekerjaan. Kualitas itu didapatkan dengan fokus, efisiensi dan dedikasi tanpa kompromi di tempat kerja.
Mereka memblokir semua gangguan dari luar dan dalam diri demi menyelesaikan kewajiban, lalu segera kembali ke keluarga dan komunitas untuk memelihara keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan. Lagipula, buat apa pamer sudah kerja lembur hingga 12 jam kalau sebagian besar pekerjaannya diisi oleh membuka facebook, ngerumpi, serta berbasa-basi?
Kultur kerja masyarakat Jerman memang tidak bisa disamakan dengan gaya di Indonesia. Namun, sebenarnya dari beberapa contoh di atas kamu bisa mempelajari beberapa ilmu. Keuletan dan usaha mereka menyeimbangkan antara ‘work’ dengan ‘play’ bisa kamu tiru. Pola komunikasi langsung pada intinya bisa menghemat waktu, meningkatkan efisiensi, dan memperjelas percakapan antar rekan kerja. Menutup media sosial saat bekerja akan membantu fokus dan tidak mudah terdistraksi. Lalu, nikmatilah akhir pekan kamu tanpa gangguan smartphone dan internet agar otak kamu lebih bugar saat kembali ke kantor nanti.









