16 Tradisi Menyambut Ramadan di Indonesia


Indonesia sebagai negara dengan mayoritas muslim memiliki berbagai tradisi jelang Ramadan. Bukan hanya kata-kata menyambut bulan Ramadan saja yang ramai, tradisi khas menjelang bulan Ramadan juga enggak kalah ramai.

Tradisi-tradisi ini bisa ditemui di hampir semua penjuru tanah air. Tradisi yang sudah ada sejak ratusan tahun ini masih terpelihara sampai sekarang.
Biasanya masyarakat akan menggelar acara-acara menyambut bulan puasa dengan sangat meriah. Walaupun caranya berbeda-beda tradisi menyambut bulan Ramadan di Indonesia ini memiliki semangat yang sama. Nah ini dia 16 tradisi unik menyambut bulan suci Ramadan di Indonesia.

1. Munggahan

Tradisi munggahan biasanya dilakukan oleh keluarga dari tanah Sunda, tradisi menyambut bulan Ramadan ini selalu dilakukan setiap tahunnya. Masyarakat Sunda di Jawa Barat memanfaatkan momen seminggu atau dua minggu sebelum bulan puasa untuk berkumpul bersama orang-orang terkasih. Bukan hanya bersama keluarga munggahan ini juga bisa dilakukan dengan teman-teman dan rekan kerja. Di dalam munggahan biasanya ada satu momen untuk saling meminta maaf untuk mempersiapkan diri menuju bulan puasa yang suci.

2. Megibung


Walaupun mayoritas masyarakat Bali beragama Hindu, tradisi menjelang puasa yang dilakukan oleh muslim Bali juga enggak kalah dengan upacara keagamaan Hindu. Tradisi Megibung biasanya dilakukan muslim Bali menjelang bulan puasa. Acara makan yang diselingi dengan obrolan ringan ini telah menjadi sebuah budaya yang berasal dari Karangasem, Bali. Megibung ini juga bisa diartikan sebagai makan bersama. Jadi dalam satu jamuan makan satu porsi nasi dan lauk pauk akan dimakan oleh sekitar 4-7 orang.

3. Padusan


Salah satu cara yang dipercaya untuk bisa menyucikan diri adalah dengan cara mandi atau berendam di laut atau sumber-sumber air yang dianggap keramat. Masyarakat Boyolali juga masih mempercayai tradisi seperti ini. Setiap menjelang bulan Ramadan masyarakat Boyolali akan beramai-ramai mendatangi air terjun atau sumber air lainnya yang dianggap keramat. Mereka akan beramai-ramai mandi dan berendam di sumber air ini karena kepercayaan mereka air bisa menyucikan diri sebelum masuk ke bulan puasa.

4. Jalur Pacu

Berbeda dengan tradisi di daerah lain Riau menyambut Ramadan dengan tradisi yang mirip dengan pesta rakyat. Menjelang bulan puasa masyarakat Riau akan bersiap-siap untuk menggelar acara Jalur Pacu. Tradisi ini disambut dengan suka cita karena masyarakat akan beramai-ramai memenuhi sungai untuk melihat perlombaan dayung yang disebut dengan Jalur Pacu. Perlombaan ini akan diakhiri dengan tradisi Balimau Kasai yang punya arti bersuci menjelang matahari terbenam sampai malam.

5. Nyorog


Jika masyarakat Sunda memiliki kebiasaan makan bersama jelang bulan puasa, orang Betawi punya tradisi yang agak berbeda. Tradisi Nyorog ini selalu dilakukan setiap memasuki bulan Ramadan. Nyorog adalah kegiatan membagikan bingkisan ke anggota keluarga atau tetangga dalam rangka menyambut bulan  suci Ramadan. Tradisi ini biasanya dilakukan orang yang lebih muda ke orang yang usianya lebih tua. Tujuannya adalah untuk meminta restu kelancaran ibadah puasa selama satu bulan.

6. Malamang


Makanan menjadi bagian penting di berbagai tradisi Minangkabau, Sumatra Barat. Begitu juga untuk merayakan hari-hari penting keagamaan salah satunya ketika menyambut bulan Ramadan. Setiap menjelang bulan puasa masyarakat Minangkabau akan beramai-ramai membuat lamang atau lemang yang terbuat dari ketan.  

7. Dugderan


Tradisi Dugderan masyarakat Semarang ini sudah dilakukan sejak tahun 1881 yang sampai sekarang masih dilakukan. Bedanya Dugderan zaman sekarang sudah menjadi pesta rakyat yang rangkaian acaranya ada tari-tarian, karnaval, dan tabuh bedug. Di setiap Dugderan pasti Warak Ngendong yang jadi simbol acara ini diarak dan ikut dalam karnaval. Biasanya karnaval akan dimulai dari Balai Kota dan berakhir di Masji Kauman.


8. Meugang


Masyarakat Aceh juga mempunyai tradisi yang sama uniknya untuk menyambut bulan Ramadan. Tradisi memasak daging dan menikmatinya bersama orang terkasih dan yatim piatu di Aceh ini bernama Meugang. Acara Meugang ini hampir mirip dengan Idul Adha di mana masyarakat beramai-ramai menyembelih kurban berupa kambing atau sapi. Meugang sampai sekarang masih terpelihara baik, biasanya di desa-desa sudah sibuk menyiapkan Meugang sehari sebelum memasuki bulan Ramadhan. Sedangkan di kota Meugang dilaksanakan selama dua hari. Tradisi Meugang ini menjadi sebuah keharusan karena masyarakat Aceh percaya kebaikan dan keberkahan yang terjadi 11 bulan lalu wajib disyukuri dengan cara Meugang.

9. Dandangan


Walaupun masih di tanah Jawa tradisi menjelang bulan puasa di tiap daerah pasti berbeda-beda. Di Kudus, Jawa Tengah tradisi Dandangan selalu mengisi acara menjelang bulan puasa. Tradisi Dandangan ini sudah ada sejak 400-an tahun lalu yang dimulai dari zaman Sunan Kudus. Acara pesta rakyat ini selalu dihadiri oleh masyarakat Kudus dan sekitarnya. Dandangan ini digelar dengan pasar malam yang menjual berbagai kebutuhan rumah tangga.

10. Balimau


Selain membuat lamang atau lemang, masyarakat Minangkabau juga menyambut bulan Ramadan dengan Balimau. Tradisi mandi menggunakan jeruk nipis ini dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di dekat aliran sungai atau tempat mandi. Balimau adalah tradisi secara turun menurun yang dipercaya sudah berlangsung berabad-abad lamanya. Tradisi mandi dengan jeruk nipis ini bertujuan untuk membersihkan diri secara lahir dan batin.

11. Perlon Unggahan


Seperti kebanyakan muslim di Indonesia tradisi ziarah kubur pasti mewarnai perayaan jelang bulan suci Ramadan. Pelon Unggahan atau ziarah kubur yang dilakukan di Desa Pekuncen, Banyumas yang ada di Jawa Tengah ini dilakukan seminggu sebelum memasuki bulan Ramadan. Bedanya dengan ziarah umum pada umumnya adalah Pelon Unggahan diawali dengan ziarah kubur ke makam Bonokeling. Orang yang berziarah ke makam Bonokeling diharuskan melepas alas kaki sambil menjinjing nasi ambeng makanan khas Banyumas. Setelah melakukan ziarah warga Banyumas akan melakukan acara makan bersama-sama untuk menjaga tali silaturahmi.

12. Ziarah Kubro


Masyarakat Palembang biasanya melakukan ziarah ke makam-makan para leluhur dan juga ulama. Ziarah ke makam-makam para ulama ini disebut dengan Ziarah Kubro. Biasanya tradisi ini dilakukan di pemakaman Kawah Tengkurep 3 Illir, di sini para ulama-ulama Palembang dimakamkan.

13. Suro’baca


Suro’baca tradisi jelang Ramadan yang masih terpelihara di Makassar ini selalu dilakukan turun temurun di kalangan suku Bugis. Acara ini biasanya dilakukan pada akhir bulan Sya’ban atau H-7 sampai dengan satu hari menjelang bulan Ramadan. Acara makan bersama sekaligus silaturrahmi ini juga biasanya diisi dengan berdoa bersama dan diakhiri dengan ziarah ke makam para leluhur.


14. Megengan


Surabaya juga punya tradisi unik yang wajib dilakukan setiap menjelang bulan puasa. Tradisi Megengan ini masih dilakukan sampai sekarang. Megengan adalah kegiatan memakan kue apem sebagai bentuk menyucikan diri. Apem ini mirip dengan pelafalan kata ‘afwan’ dari Arab yang mempunyai arti maaf. Selain memakan kue apem warga juga melakukan tahlilan untuk mendoakan mendiang saudara yang terlebih dahulu pergi.

15. Nyadran


Ziarah ke kuburan leluhur menjadi sebuah kegiatan wajib yang dilakukan oleh masyarakat Jawa. Begitu juga ziarah kubur jelang bulan puasa yang disebut dengan Nyadran. Tradisi Nyadran ini biasanya dilakukan oleh masyarakat Jawa Tengah. Nyadran adalah tradisi pembersihan makam yang umumnya dilakukan di pedesaan. Selain membersihkan makan leluhur dan tabur bunga masyarakat Jawa Tengah juga melakukan selamatan atau kenduri di makam leluhur.

16. Gebyar Ki Aji Tunggal


Berbeda lagi dengan di Jepara, Jawa Tengah masyarakat di sini selalu mengadakan karnaval sebelum memasuki bulan puasa. Masyarakat di Desa Karangaji, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah melangsungkan tradisi arak-arakan Gebyar Ki Aji Tunggal. Arak-arakan ini dilakukan rutin di bulan Sya’ban dalam kalender Hijriyah atau bulan Ruwah dalam kalender Jawa.  Karnaval ini bertujuan sebagai ajang silaturrahmi dan ungkapan rasa syukur atau jasa pendahulu yang memberikan nilai-nilai kehidupan.

Demikian beberapa tradisi menyambut ramadan yang berlangsung di Indonesia dari tahun ke tahun dan sebenarnya masih banyak lagi. Semoga bermanfaat!

JANGAN HANCURKAN DAKWAH DENGAN SIKAPMU YANG NGAWUR DAN TIDAK DEWASA

KH. Mustofa Bisri (Gus Mus)

Saya kadang merasa aneh melihat saudara saya umat Islam yang memiliki sifat seperti anak-anak, ingin menang sendiri, mudah marah dan memaksakan kehendaknya agar orang lain sama dengan dirinya….

Padahal Alquran sudah mengatakan untuk Berbuat Adil karena itu bisa mendekatkan kepada ketaqwaan….

Tapi begitulah sifat anak2 kadang tidak bisa menerima nasehat yang baik sekalipun untuk dirinya sendiri.

Atheis dimusuhi karena tidak bertuhan.
Bertuhan dimusuhi karena tuhannya beda.
Tuhannya sama dimusuhi karena nabinya beda.
Nabinya sama dimusuhi karena alirannya beda.
Alirannya sama dimusuhi karena pendapatnya beda.
Pendapatnya sama dimusuhi karena partainya beda.
Partainya sama dimusuhi karena pendapatannya beda.
Apa kamu mau hidup sendirian di muka bumi untuk memuaskan nafsu keserakahan?

Kau tahu apa yang dilakukan Sayyidul Wujud Muhammad SAW pada seorang Yahudi tua yang tiap hari meludahi & melempari kotoran padanya? Ia jenguk dan doakan sang Yahudi ketika Yahudi itu sakit.
Kau tahu apa yang dilakukan Muhammad SAW pada seorang Yahudi buta yang tiada hari tanpa mencacinya? Ia suapi setiap hari dengan tangannya sendiri yang mulia tanpa sang Yahudi tahu bahwa yang menyuapinya adalah Muhammad SAW yang selalu ia caci.
Itulah Islam. Ber-Islamlah seperti Islam-nya Muhammad SAW, bukan Islam ala egomu.
Jangan sampai kau hanya ber-Islam, tapi kau kehilangan Muhammad SAW
Jangan lemahkan Islam yang kuat dengan tindakan kerdilmu.
Jangan hinakan Islam yang suci dengan perbuatan nista. (Gus Mus)

Pendidikan Instrumen Tepat Tangkal Radikalisme dan Terorisme

Juri Ardiantoro


Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta (IKA UNJ) Juri Ardiantoro mengungkapkan keprihatinannya atas rentetan aksi terorisme di sejumlah tempat. Sebagai lembaga yang banyak menaungi alumni di bidang pendidikan, pihaknya menegaskan bahwa pendidikan instrumen penting untuk menangkal radikalisme dan terorisme.
Yang menjadi perhatian IKA UNJ, lanjut Juri, ialah usia sebagai para pelaku yang masih belia. Usia di mana mereka semestinya sedang belajar, baik di sekolah, pesantren maupun di kampus-kampus.
“Pada konteks inilah, instrumen pendidikan menjadi sangat relevan untuk menangkal potensi tindakan radikal dan teror, sekaligus tantangan dunia pendidikan untuk mengembalikan institusi pendidikan dalam menyemaikan nilai-nilai humanisme, nilai-nilai kemanusiaan sebagai modal untuk membangun harmoni sosial dan kebangsaan yang beragam,” ujar Juri di Jakarta, Senin (14/5).
IKA UNJ mendesak kepada pemerintah, di samping memperkuat instrumen intelijen untuk mendeteksi segala indikasi tindakan kekerasan dan teror, memperkuat dan meningkatkan keterampilan aparat keamanan untuk mengatasi aksi-aksi kekerasan dan teror.
“Serta melakukan penegakan hukum yang tegas atas pelaku yang telah terbukti melakukan tindakan kekerasan dan teror,” tegas Juri.
IKA UNJ juga mendesak seluruh institusi pendidikan, baik sekolah-sekolah, pesantren-pesantren, lembaga-lembaga pendidikan agama lain, dan kampus-kampus untuk mengevaluasi sistem dan materi pendidikan.
Di samping memupuk keterampilan dan kemampuan peserta didik menghadapi berbagai tantangan perubahan jaman yang sangat cepat, juga saat yang sama untuk kembali memperkuat pendidikan karakter yang menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan, kemanusiaan pada masyarakat yang plural.
“Pendidikan harus dapat menangkal dan menolak tindakan biadab yang mengorbankan manusia untuk kepentingan, ambisi, dan latar belakang apapun yang akan merobek-robek harmoni kehidupan antar-umat manusia di manapun,” tandas Juri.
Aksi terorisme berulang, 14 Mei 2018 Pukul 08.50 WIB telah terjadi ledakan bom di Markas Poltabes Surabaya yang memakan korban dan tidak menutup kemungkinan peristiwa seperti ini akan berulang.
Sebelumnya telah terjadi berbagai rentetan aksi terror dan penangkapan terduga pelaku terror telah berlangsung dalam waktu singkat pada minggu ini, yakni penyanderaan dan teror yang menewaskan 5 anggota polisi sepanjang 8-10 Mei 2018.
Sehari setelahnya, di Mako Brimob terjadi penusukan kepada anggota Brimob Briptu Bripka Marhum Frenje 11 Mei 2018 dini hari. Selanjutnya penangkapan empat terduga teroris di Tambun Bekasi pada 10 mei 2018 dan disusul penangkapan 2 perempuan muda yang diduga akan melakukan penusukan di Mako Brimob pada 12 Mei 2018.
Teror selanjutnya yang mampu menyedot perhatian dunia internasional, yakni pengeboman di beberapa gereja di Surabaya yang memakan korban nyawa dan luka-luka pada 13 Mei 2018, kemudian diikuti peledakan bom di sebuah Rusunawa di Sidoarjo yang memakan korban pelaku dan keluarganya pada hari yang sama yang menyebabkan 17 orang meninggal dunia.
Terhadap berbagai peristiwa dan aksis teror ini, IKA UNJ mengutuk keras tindakan biadab dan antikemanusiaan ini dengan alasan apapun. IKA UNJ juga menyampaikan duka belasungkawa mendalam kepada para korban seraya mendoakan semoga keluarganya diberi kesabaran.
IKA UNJ mengajak masyarakat untuk tetap tenang, tidak mengambil tindakan main hakim sendiri dengan tetap wasapada pada setiap tindakan yang berpotensi teror.

Puasa Sebagai Tradisi


Di kantor sebuah media ada seorang wartawan, ahli kriminologi, yang gerak- gerik dan segenap tingkah lakunya diamati wartawan yang lain. 
Secara rutin wartawan itu tak menyentuh minuman yang disediakan di meja kerjanya pada setiap hari Senin dan Kamis. Diperlukan waktu lama untuk meyakinkan bahwa memang bukan hanya kebetulan sahabatnya tak menyentuh minuman tersebut. Pada hari-hari itu sudah menjadi tradisi bagi wartawan ahli kriminologi tadi untuk tidak meminum minumannya pada siang hari, setiap hari-hari yang disebutkan tadi. Dia tahu sahabatnya itu berpuasa Senin-Kamis. 
”Jadi minumanmu boleh kuambil bukan?” tanya sahabatnya itu sambil memindahkan gelas panjang itu ke mejanya. ”Ambillah,” jawab si ahli kriminologi sambil tersenyum ikhlas. ”Terima kasih. Kudoakan kau cepat naik pangkat menjadi pemred.” Di luar kantor, wartawan ahli kriminologi tadi bercerita pada sahabatnya, bukan seorang wartawan, bahwa lama-lama dia merasa kurang enak karena dia berpuasa rutin setiap Senin dan Kamis dikiranya demi pamrih untuk segera naik pangkat. “Padahal, aku berpuasa untuk berpuasa itu sendiri.”
Di dalam kehidupan rohani orang Jawa, berpuasa Senin-Kamis, atau pada hari-hari lain, bertepatan dengan hari kelahirannya, memang memiliki arti khusus dan tujuan khusus. Mungkin puasa-puasa seperti itu untuk ”mengolah” kehidupan pribadi dari dalam untuk melatih ketenangan, kesabaran, dan sikap ”sumarah ” pada Tuhan Yang Mahakuasa. 
Berpuasa dianggap bagian dari strategi membikin nonaktif segenap nafsu yang perlu dikendalikan. Tapi, tak jarang sikap ”prihatin” itu untuk menjadi sarana meraih tujuan-tujuan praktis duniawi. Bagi pegawai, puasa itu memang demi kenaikan pangkat atau agar disayangi atasan. Bagi pedagang, amalan itu menjadi sarana meraih sukses besar agar cepat berkembang. 
Pendeknya, jalan rohani itu ada yang demi kepentingan rohani, ada pula yang demi kepentingan materi. Ini tergantung pada orangnya. Di dalam tradisi Jawa kedua-duanya dianggap sah dan boleh ditempuh dalam kehidupan ini. Berpuasa dalam versi lain, yang ditempuh dalam sehari semalam secara ”full ”, juga sudah menjadi suatu tradisi. Motif dan tujuannya pun bermacam-macam. Jenis puasa dalam tradisi Jawa ini tampaknya tidak khas Jawa. 
Pada etnis-etnis lain di seluruh Nusantara ada pula jenis puasa serupa. Seperti di dalam tradisi Jawa, ada pula yang tujuannya untuk meraih kesaktian. Lagi pula jenis kesaktian di sini sangat bervariasi. Ada kesaktian tingkat sederhana, sekadar tidak mempan senjata tajam. Ada tradisi puasa yang tujuannya agar tidak tertembus peluru atau antipeluru. 
Ada yang dimaksudkan untuk bisa menghilang atau tidak terlihat oleh pihak lain, dan masih banyak variasi kesaktian yang hendak diraih melalui tradisi puasa tadi. Ini jenis amalan yang biasanya tak bisa dijalankan sendiri. Di dalam tradisi Jawa maupun tradisi Nusantara pada umumnya, biasanya ada guru yang membimbing dan mengamati dari ”jauh”. Biasanya, ketika melatih muridnya berpuasa seperti itu sang guru juga ikut berpuasa. 
Guru tidak sekadar menjadi pengamat yang berjarak. Dalam urusan rohaniah seperti itu sang guru terlibat. Dia ”melihat” bukan dari kejauhan, tetapi dari dekat, bukan dari ”luar”, melainkan dari ”dalam”. Berpuasa yang sudah menjadi tradisi itu terpelihara dengan baik melalui mekanisme dan variasi yang bermacam-macam coraknya. Tiap etnis memiliki jenis kearifan tersendiri. 
Lagi pula, etnis yang satu tak bersaing dengan etnis yang lain. Jalan rohani mungkin memang tak mengenal persaingan. Memang ada efek rohaniah yang lebih dalam bagi seorang murid dan kelihatan biasa-biasa saja pada murid yang lain. Tetapi, murid yang satu tidak bersaing dengan murid yang lain. Jika berpuasa untuk sesuatu yang rohaniah sifatnya, terutama bila demi kesalehan yang tulus kita kaya akan tradisi. 
Tiap tradisi memiliki makna yang mendalam. Ada makna ”bumi” sekaligus makna ”langit”, makna ”profan” sekaligus makna ”kudus”, makna ”manusiawi” sekaligus makna ”ilahi”. Kelihatannya, berpuasa dalam konteks kebudayaan Nusantara itu merupakan sebuah ”perjalanan”. Di sana manusia Nusantara sedang berjalan ”mencari” atau ”menuju” dirinya sendiri. Kapanberpuasajenisitulahir di bumi kita ini, kita tidak tahu. 
Di dalam kitab suci ada disebutkan bahwa berpuasa sudah menjadi kewajiban bagi umat manusia sejak zaman nabi-nabi yang lebih tua. Berpuasa sebagai kewajiban ”baru” bagi umat manusia dimulai lagi pada masa kenabian Rasulullah, Gusti Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Inilah puasa yang menjadi rujukan kita.
Kita berpuasa tidak untuk kepentingan pribadi, tidak untuk naik pangkat, tidak pula untuk meraih sukses dalam perdagangan maupun untuk memperoleh kesaktian. Di sini berpuasa itu sebagai wujud sebuah ketulusan, sebuah pengabdian. Kita berpuasa untuk Allah. Tapi, Allah tak mengambilnya secara mutlak. Kita, yang berpuasa, diberi suatu kenaikan derajat rohaniah yang tinggi; derajat orang takwa. 
Kita menjadi takwa. Setidaknya kita mencalonkan diri untuk bisa meraih derajat tinggi itu. Kita ikhlaskan puasa kita untuk Allah dan imbalannya, Allah melimpahkan kemurahan tak terhingga, membuat kita bisa mencapai derajat orang yang bertakwa tadi. Apakah setiap hamba yang berpuasa otomatis bisa meraih derajat takwa itu? Apakah takwa itu bonus bulanan yang gratis bagi setiap hamba-Nya? Tiap hamba yang berpuasa berharap begitu. 
Tapi, Allah tahu, puasa tiap hamba tidak sama. Ada yang berpuasa dan sepanjang hari kerjanya hanya menengok jam, menantikan datangnya saat berbuka. Berpuasa seperti itu apa tak berarti bahwa sebenarnya dia telah berbuka setiap saat, ketika memandang jarum jam dengan rasa tidak sabar? Apakah puasa seperti itu masih bisa disebut puasa? Ada yang berpuasa dengan niat ikhlas, tapi sebenarnya yang dibayangkan bukan Allah Yang Mahamurah, melainkan tercapainya urusan-urusan duniawi yang membuatnya menjadi orang sukses dan jaya. 
Di sini dia berpuasa untuk sesuatu yang bersifat duniawi. Apakah puasa seperti ini yang disebut puasa untuk Allah semata? Apakah puasa seperti ini juga bisa disebut puasa? Berpuasa itu amalan yang sangat pelik. Ikhlas dan tidak ikhlas tak begitu mudah kita nilai sendiri. Sebaiknya, bila kita ingin betul- betul ikhlas, kita tak usah membuat penilaian. 
Mungkin sebaiknya kita beristigfar, mohon ampun, dengan rasa khawatir bahwa kita telah dihinggapi sikap tidak ikhlas. Kita mohon ampun karena kekhawatiran, puasa kita mengandung motivasi lain selain ketulusan. Lalu, kita persembahkan puasa kita itu kepada Allah dengan kerendahan hati bahwa hanya inilah yang hamba mampu lakukan. 
Bahwa kita mohon yang kurang-kurang digenapkan, yang keliru-keliru dibetulkan, yang bengkok-bengkok diluruskan. Kita tak henti-hentinya mengetuk pintu-Nya, dan dengan kekhawatiran tak dibukakan- Nya. Tapi, tugas kita hanya mengetuk. Dibuka atau tidak bukan urusan kita. 
Berpuasa, bagi kita, merupakan jalan membangun tradisi untuk bisa menjadi hamba yang tulus. Kalau tidak bisa, kita mohon agar Allah membuat kita menjadikan kita dengan roda-Nya agar kita menjadi orang tulus tadi. (M. Sobary)

Puasa Sebagai Antiadiksi


Puasa adalah ajaran umat pada semua agama. Kendati ada perbedaan dalam ritus, filosofi yang melingkupi sama, yaitu mengontrol hawa nafsu dan ego, serta mempertebal kepedulian terhadap orang lain. Dalam Islam, sejak Nabi Muhammad saw, konsep puasa hingga kini tidak banyak berubah.

Konsep itu adalah berpantang makan dan minum, termasuk berperilaku yang dianggap perlu untuk dijauhi pada saat tertentu. Konsep ini sebenarnya menjadi pelajaran mudah untuk menghadapi kesulitan hidup. Banyak orang merasa tidak bisa hidup tanpa rokok, misalnya. Banyak orang merasa tak bisa hidup tanpa makan dan minum yang terkontrol.

Banyak orang tak dapat menguasai nafsu inderawi mereka. Dengan berpuasa, terutama pada bulan Ramadan, kita bisa mengatasi semua keberatan di bawah alam sadar itu. Dalam kondisi tertentu, orang berpuasa mengeluarkan asam lambung, dan dengan tidak adanya makanan, bisa menyebabkan sakit maag.

Tetapi dengan sugesti pribadi atau autosugesti, dengan mudah otak bisa diperintah mengubah ritme harian sehingga yang seharusnya menyuruh lambung mengeluarkan asam pada jam tertentu, bisa tidak jadi ke luar. Faktor Adiksi Realitas itu mengajarkan bahwa tubuh punya mekanisme sangat sempurna untuk mengatasi problem sehari-hari. Susunan kimia dan darah dalam tubuh bisa berubah, menyesuaikan diri, sehingga tak ada gangguan patologi ketika orang itu berpuasa.

Adiksi atau kecanduan, terutama terhadap narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif (napza) dan rokok merupakan tantangan berat bagi pecandu. Bila rasa ketagihan itu datang, dalam istilah kecanduan disebut giting, tubuh seperti memaksa untuk memenuhi akan zat itu. Bila tidak dipenuhi, tubuh mengeluarkan hormon nyeri seperti prostaglandin dan serotonin yang membuat semua saraf merespons dengan rasa nyeri luar biasa. Orang yang kecanduan narkoba berat, seperti heroin (putaw) atau morfin akan mengeluarkan banyak kormon sehingga ia akan merasakan nyeri luar biasa.

Sedemikian sakitnya, ia bisa menangis, berteriak, mengeluarkan peluh, mata merah, kejang dan lain-lain. Beberapa orang yang tidak kuat akan menyakiti diri, bahkan bunuh diri. Dalam rumah perawatan korban narkoba, pasien dibiarkan menderita kesakitan, hanya dihindarkan dari upaya menyakiti diri dengan cara diikat atau diawasi secara ketat. Pada panti rehab berbasis Islam, keadaan sakaw itu kerap diatasi dengan terapi mandi diguyur air dingin. Konsep pengobatan itu disebut Cold Turkey. Adapun rumah sakit sering menggunakan model substitusi atau tapering off, yakni pecandu diberi obat dengan dosis menurun sehingga secara alami hormon sakit dan nyaman (endorfin) menjadi seimbang.

Menghilangkan sakaw tidaklah sulit, yang sulit adalah bagaimana mempertahankan abstinen (tidak memakai drug) selama mungkin. Beberapa dokter patologi anatomi menemukan jejak di dalam otak ketika seseorang menggunakan narkoba dalam jangka lama. ’’Cacat’’ itu sering dianggap bahwa proses kecanduan akan terjadi pada seseorang seumur hidup. Niat Kuat Puasa terbukti membuat konsep diri, baik pada alam sadar maupun bawah sadar, berubah sesuai keinginan dan niat.

Begitu juga dalam kasus adiksi. Seseorang yang punya motivasi kuat menghentikan kecanduan narkoba, dengan niat teguh, ia bisa menghentikan proses kimia dalam tubuh yang membuatnya ketagihan. Niat untuk sembuh akan menekan hormon prostaglandin yang dilepas oleh kelenjar neurotransmitter. Penelitian yang dilakukan para ahli tentang kecanduan menunjukkan bahwa niat untuk berhenti dan puasa narkoba, membuat produksi hormon sakit berkurang dan sebaliknya hormon nyaman meningkat.

Dari dasar itulah maka pengobatan pecandu narkoba jenis berat seperti putaw dengan metoda therapeutic community ataupun napza anonymous, mengedepankan konsep niat tersebut. Tiap pagi, siang, dan malam, pasien disuruh membaca atau menghafal kalimat yang isinya perasaan ketidakberdayaan menghadapi kecanduan dan memohon pertolongan Tuhan melalui doa untuk dikuatkan menghadapinya dan supaya tidak muncul kecanduan. Realitasnya dengan konsep niat dan berpuasa, kecanduan itu bisa hilang.

Proses selanjutnya adalah bagaimana mempertahankan tidak kecanduan selama mungkin. Konsep niat dan puasa bila dilakukan terus menerus, mampu menekan rasa kecanduan hingga hilang sendiri. Ibarat berpuasa Senin Kamis atau puasa ala Nabi Daud as, maka pecandu yang menerapkan konsep puasa disertai penguatan diri dan lingkungan, akan terhindar dari kecanduan. Sehari-hari kita sering melihat efek puasa pada kecanduan rokok. Banyak orang mengatakan tak bisa meninggalkan rokok. Bila ia menghentikan maka ia akan sakaw, yang ditandai dengan rasa tak nyaman, bingung, sulit berpikir dan sebagainya.

Acap mereka konsultasi ke dokter tapi gagal menghentikan kecanduannya walau mendapat terapi. Faktanya, ketika Ramadan tiba, dengan sepenggal niat puasa maka mekanisme kimia yang selama ini membuatnya kecanduan rokok langsung hilang. Kini kita senyatanya bisa melihat bahwa puasa sebenarnya merupakan obat bagi kecanduan apa pun, termasuk narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif (napza), rokok, dan sebagainya. ’’Obat’’ itu terbukti sangat manjur dan murah. (Budi Laksono)

Puasa Sebagai Terapi


Puasa bukanlah syariat baru. Allah juga mewajibkan puasa pada umat terdahulu sebelum umat Nabi Muhammad SAW. Sejak Nabi Adam AS, Allah telah mensyariatkannya, kemudian terus bersambung hingga Rasulullah SAW.

Puasa, baik sunnah maupun wajib, telah dicontohkan oleh beliau. Mulai dari niat di malam hari, sahur menjelang subuh, berpuasa hingga tenggelam matahari dan berlanjut rutinitas tersebut di kemudian hari.

Puasa pun dibarengi dengan peraturan dan imbauan untuk meningkatkan ibadah. Hingga akhirnya jika dijalani betul, maka setiap individu bisa menjadi lebih baik. Ia pun jadi mahluk baru dan berbeda.

Dalam konteks Islam, seperti dikutip dari buku ‘Sehat Tanpa Obat’ karya Dr. H. Briliantono M. Soenarwo dan K. Muhammad Rusli Amin, puasa mempunyai tujuan yang lebih dahsyat, yakni tercapai derajat taqwa. Derajat tinggi yang bisa dicapai oleh orang-orang saleh.

Seperti dalam Firman Allah QS Al-Baqarah: 183. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”.

Puasa bukan sekedar menahan lapar dan dahaga. Namun juga mengasah diri untuk jadi pribadi Muslim yang lebih baik. Puasa bertujuan membentuk manusia dengan kualitas taqwa yang telah Allah gambarkan dalam QS Al-Baqarah 2-5.
Yakni beriman pada yang gaib, mendirikan shalat, menafkahkan sebagian rezki, beriman pada Kitab, dan meyakini ada kehidupan akhirat. Manusia yang orientasi utamanya Allah, maka ia akan sangat berharap pada akhir taqwa.

Menyoal Pembiayaan Pendidikan Bermutu di Banten

Gubernur Banten, Wahidin Halim, semenjak menjabat dari periode 2017 bertekad membayar janji kampanyenya soal sekolah gratis.


Banten – Pemerintahan Provinsi Banten tengah gencar menjalankan program pendidikan gratis untuk tingkat SMA/SMK. Namun pada kenyataanya program ini masih perlu adaptasi untuk terealisasi.

Gubernur Banten, Wahidin Halim, semenjak menjabat dari periode 2017 bertekad membayar janji kampanyenya soal sekolah gratis. Ia pun mengintruksikan kepada jajarannya untuk menggalakkan program tersebut. 

Tingkat SMA/SMK di sejumlah Kota dan Kabupaten diambil alih oleh Pemprov Banten guna menerapkan pendidikan gratis tersebut. Sedangkan pada sejumlah SD dan SMP menjadi penanggung jawab pemerintahan tingkat Kota maupun Kabupaten.

Gubernur Banten Wahidin Halim mengatakan mulai 2018, SMA dan SMK tidak boleh lagi memungut biaya dari siswa. Jika diketahui ada sekolah yang memungut biaya, kepala sekolahnya terancam dipecat.

“Jangan mintain duit, komite jangan mintain duit. Itu gratis namanya, susah-susah diganti kepala sekolahnya,” kata Wahidin Halim beberapa waktu lalu.

Gubernur Wahidin menegaskan, Pemerintah Provinsi Banten berkomitmen untuk menggratiskan biaya pendidikan bagi siswa SMA dan SMK. Oleh karena itu sekolah tidak diperkenankan memungut uang dari siswa dengan alasan apapun.

Statement Gubernur WH ini memantik respon dari Masyarakat yang tergabung dalam Forum Komunikasi Komite Sekolah mengktitisi kebijakan Gubernur Banten Wahidin Halim, terkait rencana penggratisan pendidikan SMA/SMK Negeri pada tahun 2018. Pasalnya kebijakan tersebut belum disertai dengan peraturan dan pedoman serta petunjuk teknis yang transparan.

Adanya instruksi lisan Gubernur melalui media massa dan pertemuan dengan para kepala sekolah dan MKKS, bahwa mulai 2018 pihak sekolah tidak dibolehkan mengambil dan menerima uang apapun menimbulkan keresahaan termasuk Forum Komunikasi Komite Sekolah se-Banten dalam diskusi, di Bapeda Banten (10/1/2018).

FKKS menegaskan bahwa pada kenyataannya kebutuhan sekolah belum terpenuhi secara minimum dari dana bantuan pemerintah pusat dan pemrov Banten, terutama untuk pengembangan mutu, pengembangan kurikulum dan pengembangan diri.

Forum Komite Sekolah dan pemerintah Banten hakikatnya tidak masuk dalam konflik menerima dan menolak sekolah gratis, namun nyatanya kita melihat bahwa Komite Sekolah berharap partisipasi publik untuk pendidikan murah terjangkau dan bermutu serta peningkatan sarana prasarana yang lebih dibutuhkan sehingga kualitas mutu pendidikan Banten dapat berkompetisi sebagai lulusan yg mumpuni dan berdaya saing sehat lewat pembiayaan Negara dan tidak menafikan kontribusi maksimal warga yang menggalang dana demi kemajuan sekolah serta mensubsidi silang kebutuhan siswa tidak mampu berprestasi secara maksimal dari pembiayaan tersebut demi keadilan dan keberhasilan Pembangunan yang Good Governance di Tanah Jawara dan Ulama ini.

Faktanya ada yang berbeda pada tahun pelajaran 2017/2018 , untuk siswa SMA dan SMK Negeri di Banten. Jika di tahun pelajaran sebelumnya siswa di beberapa kota dan kabupaten di Banten yang telah menerapkan sekolah gratis hingga pendidikan menengah tidak perlu membayar SPP (sumbangan pembinaan pendidikan), namun kini siswa harus membayar SPP alias tidak gratis lagi.

Hal ini disebabkan telah diberlakukannya UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Dalam Undang-Undang tersebut dicantumkan antara lain, masalah pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota. Salah satunya adalah pembagian urusan pemerintahan bidang pendidikan.

Pada pembagian urusan pemerintahan bidang pendidikan disampaikan bahwa kewenangan manajemen pendidikan menengah yang sebelumnya dikelola oleh Pemerintah Kota/Kabupaten dialihkan ke pemerintah provinsi. Sedangkan pemerintah kabupaten/kota hanya menangani sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.

Pengalihan kewenangan manajemen pendidikan menengah dari kabupaten/kota kepada provinsi tersebut juga berdampak kepada penyerahan personil/Sumber Daya Manusia (SDM), pendanaan/keuangan, sarana-prasarana /aset dan dokumen.

Terkait masalah pendanaan, pemerintah provinsi menyalurkan dana pendidikan melalui Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDA) yang jumlahnya belum mencukupi keperluan operasional sekolah. Sehingga pihak sekolah kini diperkenankan menarik iuran pendidikan atau SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan) setiap bulannya guna menutupi kekurangan dana tersebut.

Mengenai sumbangan biaya pendidikan ini mempunyai payung hukum yang kuat, yaitu Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 75 tahun 2017 dan Peraturan Gubernur.

Konsideran dalam pasal 1 Permendikbud Nomor 75 tahun 2016 bahwa yang dimaksud dengan: Komite Sekolah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orangtua/wali peserta didik, komunitas sekolah, serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan.

Bantuan Pendidikan, adalah pemberian berupa uang/barang/jasa oleh pemangku kepentingan satuan pendidikan di luar peserta didik atau orangtua/walinya, dengan syarat yang disepakati para pihak.

Pungutan Pendidikan adalah penarikan uang oleh Sekolah kepada peserta didik, orangtua/ walinya yang bersifat wajib, mengikat, serta jumlah dan jangka waktu pemungutannya ditentukan.

Sumbangan Pendidikan adalah pemberian berupa uang/barang/jasa oleh peserta didik, orangtua/walinya baik perseorangan maupun bersama-sama, masyarakat atau lembaga secara sukarela, dan tidak mengikat satuan pendidikan.

Dengan diberlakukan kembali pembayaran SPP tersebut tentu saja menjadi beban tersendiri bagi orangtua murid dari kelas menengah ke bawah, yang masih merupakan prosentasi terbesar dari bangsa ini. Sekolah yang kembali berbayar ini dikhawatirkan berakibat pada meningkatnya jumlah siswa putus sekolah.

Oleh karena itu, pendidikan merupakan suatu investasi yang berguna bukan saja untuk perorangan atau individu, tetapi juga merupakan investasi untuk masyarakat. Pendidikanh sesungguhnya dapat memberikan suatu kontribusi yang substansial untuk hidup yang lebih baik di masa yang akan datang.

Kita berterima kasih terhadap Gubernur Banten yang sungguh sungguh berpihak pro rakyat kecil untuk pendidikan Gratis di Banten. Tapi Gubernur juga harus merespon secara sehat akan partisipasi dan penggalangan dari masyarakat untuk pendidikan Gratis terjangkau dan bermutu demi tegaknya peningkatan mutu Pendidikan yang lebih baik. (Budi Usman)

Dari Desa Kumpay, Pesan Persatuan Digulirkan Para Elite Banten

Wagub Banten Andika menemui sejumlah tokoh Banten membawa pesan persatuan.

Banten – Tercatatlah sebuah sejarah baru, dari sebuah desa di wilayah selatan Banten atau oleh warga setempat sering disebut Banten Pakidulan, bernama Desa Kumpay. Pada Kamis (11/5) pagi sekitar pukul 11.00 siang, di saat sebagian besar masyarakat Indonesia tengah menikmati hari libur terkait peringatan hari besar umat Kristiani, sejumlah tokoh atau elite Banten justru memilih untuk bertemu. Yang menarik, mereka adalah para tokoh yang notabene pernah “berseteru” saling memperebutkan kekuasaan pada gelaran Pilgub Banten tahun lalu.
Adalah Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy dan sejumlah tokoh Banten yang pernah berseberangan dengannya pada Pilgub lalu, yang bertemu dalam suasana penuh keakraban siang itu. Para tokoh dimaksud di antaranya mantan Ketua KPK Taufiqurrahman Ruki sebagai tuan rumah acara, dan tokoh yang didukung Ruki dalam Pilgub lalu sebagai Calon Wakil Gubernur Banten, yaitu Embay Mulya Syarief.
Juga tak ketinggalan, turut hadir mantan Bupati Lebak Mulyadi Jayabaya. Jayabaya yang adalah politisi PDI Perjuangan, juga saat itu mendukung Embay yang berpasangan dengan Calon Gubernur petahana dari PDI Perjuangan, Rano Karno.
Namun siang itu tak tampak sedikit pun sisa-sisa “permusuhan” sebagaimana pernah sangat nampak pada saat gelaran Pilgub. Pada masa kampanyenya misalnya, kedua kubu, tak jarang saling menjelekkan dan saling “menyerang”.
Nuansa rekonsiliasi di antara kedua kubu semakin kental tatkala tokoh agama setempat diberi kesempatan untuk menutup acara pertemuan usai shalat Dzuhur berjamaah itu, membacakan doa.
“Ya Allah berikan lah kami warga Banten, dan juga para pemimpin kami rasa persatuan…” demikian antara lain bait doa sang ustad desa dari wilayah yang masuk ke Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak itu. Maka acara pun ditutup dengan babacakan atau makan bersama dengan alas daun pisang yang digelar di teras masjid.
Andika nampak berbagi nasi dari bakul yang sama dengan Embay dan Jayabaya. Sementara Ruki yang duduk berselang beberapa orang dari ketiganya, tampak menemani tamunya yang lain yang juga diundangnya di acara tersebut, yaitu Direktur Utama  BJB Ahmad Irfan.
Dalam sambutannya, Ruki lebih banyak mengungkapkan sejumlah persoalan yang terjadi, baik secara umum di Banten maupun yang terjadi di sekitar kampung halamannya tersebut. Menurut dia, persoalan infrastruktur, pendidikan dan kesehatan, masih lah masalah utama, sehingga perlu mendapatkan perhatian serius dari Pemprov Banten di bawah kepemimpinan Wahidin Halim dan Andika.
“Kepada siapa lagi kita sekarang berharap kalau bukan kepada pemerintah. Dan hari ini di sini ada Pak Andika, Wakil Gubernur Banten,” kata Ruki.
Sementara itu, Jayabaya yang lebih sering menyebut Andika dengan sapaan Aa, dalam sambutannya, meminta semua pihak di luar pemerintahan untuk membantu pemerintah dalam melaksanakan tugasnya melayani rakyat.
“Di sini yang hadir banyak orang-orang hebat dari berbagai bidang. Mari kita bantu pemerintah dalam melayani masyarakat agar kalau ditanggung bersama-sama semua akan menjadi ringan,” katanya.
Andika sendiri yang mendapatkan giliran terakhir memberikan sambutan, berulang kali meminta dukungan dan bantuan kepada para tokoh yang disebutnya sebagai orang tuanya sendiri. Tak lupa Andika membeberakan sejumlah program Pemprov Banten yang kini tengah dilakukan. Dia menyebut, Pemprov Banten saat ini tengah berfokus untuk melakukan pembangunan infrastruktur, di antaranya memperbaiki 100 km sisa jalan rusak yang masih ada, dalam 3 tahun ke depan.
Di bidang pendidikan, Andika menyebut, Pemprov Banten saat ini tengah ingin mewujudkan pendidikan gratis di tingkat SMA/SMK. Serta di bidang kesehatan, kata dia, saat ini program Pemprov Banten berupa berobat gratis warga miskin menggunakan E-KTP sudah mendapat persetujuan dari  Kementerian Kesehatan yang sebelumnya mendapatkan penolakan.
“Sekali lagi kepada kasepuhan, para orang tua saya, saya mohon kiranya kita dapat bersama-sama untuk memajukan daerah kita ini,” ujarnya. (Metaonline)

Ucapan Ramadan dari Ceo Gaido Group

M. Hasan Gaido

Selamat Datang Bulan Suci Ramadan!

Bapak, ibu, dan sahabat muslim yang saya hormati.

Beberapa hari lagi insya Allah kita akan melaksanakan puasa Ramadan 1439 H/2018. Untuk itu, perkenankan saya dan keluarga memohon maaf lahir batin, atas segala khilaf dan salah baik yang disengaja maupun yang tidak kami sengaja.

Selamat menyambut jamuan Ramadan, semoga Allah swt melimpahkan kesehatan, barakah, taufik, dan hidayah bagi kita semua.

Allaahumma baariklanaa fii sya’ban wa ballighnaa ramadhaan. Aamiin.

Salam

M. Hasan Gaido

Berpikir Positif dan Kreatif


Sesungguhnya Allah Yang Mahaagung telah menciptakan alam semesta ini dengan sangat rapi, sempurna, teratur, indah, dan mengesankan. Dengan karunia-Nya tersebut, maka kehidupan ini pun menjadi indah dan penuh warna. Akan tetapi, mengapa masih begitu sering kita temukan orang yang merasakan hidup ini sumpek, penuh kesulitan, dan masalah sehingga dunia ini terasa sempit menghimpit; tiada lagi keindahan?

Ternyata, memuncaknya kerumitan dari sebuah masalah yang menimpa seseorang acapkali disebabkan oleh ketidakmampuan berpikir positif. Orang yang tidak mampu berpikir positif biasanya cenderung memandang segala sesuatu dengan penuh syak wasangka dan mereka-reka segala apa yang belum terjadi. Sayangnya, rekaan-rekaannya itu tidak pernah berupa hal yang menyenangkan. Sebaliknya, yang terbayang hanyalah hal-hal sulit dan menyusahkan.

Alhasil, hati dan pikirannya tidak pernah merasakan kelapangan. Belum apa-apa sudah resah, gundah, gelisah, mudah curiga, dan tegang. Padahal, peristiwanya saja belum terjadi dan segala yang dikarang-karang oleh pikirannya itu pun belum tentu terjadi. Pendek kata, hidup ini pun jauh dari keindahan. Hidup yang pada hakikatnya penuh keindahan ini menjadi tidak lagi indah disebabkan salah memasang hati dan pikiran.

Memang, pada hakikatnya kebahagiaan yang kita cari-cari itu sangat bergantung pada sikap kita sendiri. Oleh karena itu, ketika sebuah masalah menerpa maka carilah penyebabnya di dalam diri kita lebih dahulu. Melihatlah ke dalam diri kita sendiri, maka di situ kita bisa mengurainya sehingga solusi atas masalah yang kita hadapi dapat terlihat.

Di samping itu, kita juga memerlukan inspirasi-inspirasi kreatif sebagai “vitamin” yang dapat memacu kita untuk senantiasa berpikir positif. Tentu saja, inspirasi pun terkadang tidak datang begitu saja. Ada upaya-upaya yang harus kita lakukan agar inspirasi-inspirasi segar masuk ke dalam pikiran kita dan membuahkan ide-ide brilian. Proses pencarian inilah yang disebut dengan proses berpikir kreatif. Proses berpikir yang menjadi katalisator dalam menghasilkan ide-ide baru. (Abdullah Gymnastiar)