Resep Raih Rezeki Banyak

Katib Syuriyah NU Jember Kiai M.N. Harisudin mengatakan, jika seseorang ingin permintaannya banyak dikabulkan Allah, seyogyanya dia juga melakukan perintah Allah yang banyak. 

Kiai Harisudin menceritakan seorang kaya raya yang cepat sekali membangun rumahnya di Jakarta. Dua rumahnya seharga miliaran hanya dibangun dalam tempo tidak kurang dari 10 bulan. Setelah seorang temannya bertanya, dengan amalan apa ia bisa membangun cepat rumahnya, ia menjawab ia hanya bermodal sajadah dan air wudlu. 

“’Maksudnya apa’, tanya temannya. ‘Yaitu shalat dluha dua belas raka’at,’ jawab orang kaya raya tadi. Jadi, dengan hanya modal 12 rakaat dia bisa membangun rumahnya dengan cepat. Subhanallah,” katanya pada ceramah subuh di Bank Mu’amalah Jember yang dihadiri 60 pegawai, termasuk Kepala Bank Mu’amalah Nasrullah, Sabtu (22/10/16). 

Dosen Pascasarjana IAIN Jember tersebut menegaskan, inilah yang disebut dalam kitab al-Hikam karya Ibnu Athailah al-Iskandari dengan “khairu ma tatlubuhi minhu huwa ma thalibuhu minka”. “Artinya, sebaik-baik apa yang kamu minta pada Allah adalah apa yang Allah tuntut pada kamu.

Jadi jika kamu minta banyak pada Allah, maka tuntutan Allah yang banyak pada kamu juga seharusnya dilakukan. “Jangan banyak minta pada Allah, tapi perintah Allah hanya sedikit dilakukan. Ya tidak imbang namanya”, lanjut Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember tersebut disambut ger para hadirin. 

Wakil Ketua Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur ini menyontohkan beberapa yang sukses dengan shalat dluha 12 rakaat. Misalnya KH Asep Saefudin Chalim, pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Umah Pacet Mojokerto yang terus-terusan membangun pesantren. Menurut Kiai Harisudin, resepnya sama: dluha 12 raka’at juga. 

“Saya punya seorang karyawan. Sudah 3 tahun yang silam praktek shalat dluha 12 rakaat, dia kemarin cerita pada saya, sejak mendapat tausiyah untuk praktek shalat dluha 12 rakaat, dia praktek shalat tersebut. Hasilnya sejak saat itu sampai sekarang, tidak pernah kekurangan rizki, padahal dia sebelumnya sangat kekurangan. Bahkan dia bisa memberi uang pada orang tua dan adik-adiknya yang di pesantren”, tutur Kiai muda yang juga Pengurus Majlis Ulama Kabupaten Jember tersebut.

Karena itu, Kiai M.N. Harisudin mengingatkan bahwa untuk memperoleh banyak dari Allah, maka harus diimbangi dengan banyak melakukan perintah Allah. Insyaallah, demikian ini akan dikabulkan Allah.

Bersyukur


Gaido – Sebuah hadis diriwayatkan Hakim dari Jabir bin Abdullah RA menyebutkan, di akhirat nanti ada seorang hamba yang telah beribadah selama 500 tahun. Ahli ibadah tersebut pun dipersilakan Allah SWT untuk memasuki surga. “Wahai hamba-Ku, masuklah engkau ke dalam surga karena rahmat-Ku,” bunyi Firman Allah dalam hadis qudsi tersebut.

Namun, ada yang menyangkal dalam hati si ahli ibadah. Mengapa ia masuk surga lantaran rahmat Allah? Bukankah ia telah beribadah selama 500 tahun? “Ya Rabbi, mengapa aku tidak dimasukkan ke dalam surga karena amalku?” tanyanya.

Allah SWT pun memperlihatkan nikmat yang telah diberikan-Nya bagi si ahli ibadah. Nikmat Allah tersebut ditimbang dengan seluruh amal ibadah yang telah ia kerjakan. Ternyata, nikmat penglihatan dari sebelah matanya saja sudah melebihi ibadah 500 tahun si ahli ibadah. Akhirnya, si ahli ibadah pun tunduk di hadapan Allah dan menyadari betapa kecilnya nilai ibadahnya.

Tak ada alasan bagi seorang Muslim untuk tidak bersyukur kepada Allah. Sebanyak apa pun ibadah yang dilakukan, tak akan sebanding dengan nikmat dan karunia yang telah diterima dari Allah. Demikianlah hakikat dari ibadah, sebagai ungkapan rasa syukur seorang hamba kepada Rabb-nya. Jadi, menunaikan ibadah bukan hanya sebatas “pelunas utang” dan menunaikan kewajiban saja.

Rasulullah SAW sebagai seorang hamba yang dijamin tidak berdosa (maksum) adalah teladan dalam hal bersyukur. Suatu kali, istri beliau SAW bertanya, mengapa suaminya itu selalu shalat tahajud sepanjang malam. Bahkan, kaki beliau SAW pun sudah bengkak lantaran lamanya berdiri. “Ya Rasulullah, bukankah Allah SWT telah mengampuni dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?” ujar Aisyah.

Aisyah mengisyaratkan, buat apalagi susah-susah ibadah, toh Rasulullah SAW sudah dijamin Allah masuk surga. Seluruh kesalahannya, kalaupun ada, sudah diampuni Allah. Dan, ia adalah makhluk yang paling mulia di muka bumi. Lalu, mengapa ia masih merepotkan diri dengan ibadah sepanjang malam?
“Bukankah lebih elok jika aku menjadi hamba yang bersyukur,” jawab Rasulullah (HR Bukhari).

Demikianlah Rasulullah mencontohkan, hakikat dari ibadah bukanlah sebatas “pelunas utang” atau pembersih diri dari dosa. Ibadah adalah luapan rasa syukur kepada Allah.

KEKUATAN BERBAGI


“Apa yang anda simpan untuk diri anda sendiri akan lenyap, apa yang akan anda berikan pada orang lain akan anda miliki selamanya.” (Axel Munthe)

Seorang pengusaha pernah mengatakan, “Jika saya mempunyai uang seratus ribu rupiah satu lembar dan anda mempunyai uang sepuluh ribu rupiah sepuluh lembar, lalu uang itu ditukarkan nilainya akan sama, bukan? Saya dan anda tetap mempunyai uang seratus ribu rupiah. Akan tetapi jika saya dan anda masing masing mempunyai satu buah ide lalu kita saling menukarkannya, kira-kira apa yang terjadi? Saya akan mempunyai dua buah ide dan anda pun akan menerima hal yang sama.” Mengapa bisa demikian? Itulah yang dinamakan kekuatan berbagi!

Saat di bangku sekolah saya adalah termasuk orang yang pelit dalam berbagi ilmu. Saya berpikir jika sering mengajari orang lain, lama kelamaan mereka akan lebih pintar dari saya. Saya lupa dengan prinsip yang mengatakan, “Jika anda memberdayakan seseorang sebenarnya anda sedang memberdayakan dua orang.” Ya, karena kita telah memperoleh setiap ilmu dari Sang Khalik dengan cuma-cuma, berikanlah ilmu tersebut dengan cuma-cuma kepada mereka yang membutuhkan.

Zig Ziglar pernah berkata, “Jika anda membantu lebih banyak orang untuk mencapai impiannya, impian anda sendiri akan tercapai.” Setiap kemampuan dan kepandaian yang kita miliki akan semakin bermanfaat dan memiliki nilai yang tinggi jika kita menggunakannya bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk membantu kesejahteraan orang lain. Tuhan sudah memberikan talenta kepada kita dengan cuma cuma. Jadi mengapa kita tidak memberikannya dengan cuma cuma juga? Hanya dengan cara itulah, kita dapat berhasil selamanya.

Apa yang anda miliki saat ini? Mungkin anda berkata, “Saya tidak memiliki apa-apa yang dapat saya bagikan untuk orang lain.” Anda salah! Percayalah bahwa setiap kita diciptakan sebagai pribadi yang kaya; kaya dalam memanfaatkan bakat kita sepenuhnya, kaya dalam hal menciptakan dunia yang lebih baik, kaya dalam hubungan yang bermakna, kaya dalam pertumbuhan dan perkembangan rohani, kaya dalam sumbangan yang hanya anda yang mampu memberikannya, serta kaya dalam sukacita dan damai sejahtera. Jadi masihkah anda berkata bahwa anda tidak memiliki apa-apa? Dunia saat ini begitu krisis dengan berbagai hal. Oleh karena itu berikanlah apapun yang ada dalam hidup kita. Barangkali pemberian itu sekedar memandang mata lawan bicara anda, sebuah pelukan hangat, senyum tulus, serta kata-kata semangat dan motivasi bagi mereka yang sedang putus asa. 

Apapun itu, berikanlah, karena sesuatu yang membuat kita bahagia bukanlah apa yang kita pertahankan, melainkan apa yang kita serahkan. Dari apa yang kita peroleh kita hidup, tetapi dari apa yang kita berikan, kita mendapatkan hidup yang menyenangkan.

Sumber: dikutip dari buku “INSPIRASI 5 MENIT” karya Imelda Saputra.

Kekuatan Memberi atau Berbagi


Gaido – Seorang teman pernah berkata, “Jika saya mempunyai uang lima puluh ribu rupiah, kemudian Anda tukar dengan lima lembar sepuluh ribu rupiah, kita berdua tetap memiliki nilai uang yang sama yaitu lima puluh ribu rupiah. Namun apabila saya mempunyai sebuah ide dan Anda mempunyai satu buah ide lalu kita saling menukarnya, maka kita akan sama-sama memiliki dua buah ide.” Itulah kekuatan dalam memberi atau berbagi.

Ada prinsip yang menarik yaitu, “Jika Anda sedang memberdayakan seseorang, sesungguhnya Anda sedang memberdayakan dua orang.” Ketika saya mulai mengajari atau mengembangkan orang lain sesungguhnya saya sedang mengajar dan mengembangkan orang itu dan diri saya sendiri. Saya jadi lebih terasah dengan ilmu yang saya bagikan sehingga membuat diri saya menjadi lebih ahli.

Coba perhatikan orang-orang yang disukai dalam pergaulan, menjadi teman yang ramah bagi banyak orang. Mereka pasti orang yang suka berbagi. Sebaliknya, orang-orang yang dibenci orang lain pasti orang-orang yang pelit dan tidak pernah memberi atau berbagi.

Rasanya kita perlu belajar dari matahari yang selalu memberi tanpa pernah meminta. Pandangan ini agak berbeda dengan kalkulasi bisnis yang senantiasa menempatkan memberi sebagai investasi yang di kemudian hari akan dituai hasilnya.

Padahal hidup kita justru akan lebih berbahagia bila kita banyak memberi tapi sedikit berharap. Apa pun yang kita berikan sebetulnya tidak akan pernah hilang, ia akan kembali pada Anda dalam bentuk lain sesuai dengan hukum kekekalan energi yang berlaku di alam semesta.

Mungkin Anda berkata, “Saya tidak memiliki apa-apa yang dapat dibagikan untuk orang lain.” Jangan salah, berbagi tidak selalu berkaitan dengan materi dan uang. Khalil Gibran pernah berkata, “Bila engkau memberi dari hartamu, tiada banyaklah pemberian itu. Bila engkau memberi dari dirimu, itulah pemberian yang penuh arti.”

Ada banyak sekali kesempatan bagi kita untuk memberi atau berbagi. Kita bisa memberikan waktu, perhatian, energi, pemikiran, pengertian, pujian dan ucapan terima kasih. Kita juga bisa sekedar memberi senyuman. Hal-hal sederhana yang bisa berarti banyak dan bermanfaat bagi orang lain.

Keinginan untuk memberi atau berbagi tidak ada hubungannya dengan yang kita miliki. Ada orang kaya yang sulit berbagi. Ada pula orang pandai yang enggan berbagi pengetahuan yang dimilikinya. Kesemuanya hanyalah masalah pola pikir mereka yang terlalu mementingkan diri mereka sendiri.

Sebaliknya, ada orang sederhana tetapi senantiasa selalu ingin berbagi dengan orang lain. Mereka inilah orang kaya yang sesungguhnya. Yang membuat kita kaya bukanlah seberapa banyak yang kita miliki, namun seberapa banyak yang dapat kita berikan pada sesama.

Orang yang enggan memberi atau berbagi adalah orang yang tidak mau belajar dari kehidupan ini. Padahal esensi kehidupan adalah memberi. Tuhan sebagai sumber kehidupan adalah Sang Maha Pemberi, selalu memberi tanpa pilih kasih dan tidak peduli apakah orang itu baik atau jahat.  Itulah sebuah cinta tanpa syarat.

Masihkah Anda mengatakan bahwa Anda tidak memiliki apa-apa yang bisa dibagikan untuk orang lain? Barangkali pemberian Anda hanya sekedar tatap mata tulus ketika berbicara pada seseorang atau mungkin kata-kata dorongan semangat atau motivasi bagi mereka yang sedang putus asa dan dilanda kelemahan. Percayalah dan manfaatkanlah kekuatan memberi atau berbagi, hidup Anda pasti akan lebih berwarna dan bermakna.

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.

(Handojo Wibowo)

Banten Jadi Tuan Rumah Gelaran Mudzakarah Pendekar Internasional Pertama

Mudzakarah Pendekar Internasional diharapkan bisa menjadi lokomotif utama untuk mengangkat seni beladiri pencak silat di kancah nasional maupun internasional.
Banten – Di era modern dan perkembangan teknologi yang semakin mutakhir dewasa ini, seni beladiri pencak silat perlahan mulai ditinggalkan dan kurang diperhatikan khususnya oleh para generasi muda. Padahal Pencak Silat bukan hanya sekedar sebagai seni budaya, melainkan juga sudah merupakan jatidiri bangsa Indonesia yang diwariskan secara turun temurun selama berabad-abad.
Hal inilah yang menginisiasi sejumlah tokoh masyarakat dan para pendekar dari berbagai padepokan pencak silat dalam dan luar negeri untuk menggelar Mudzakarah Pendekar Internasional pertama kalinya di Kawasan Wisata Halal Baduy Outbond, Serang-Banten pada Jumat (04/05).
Mudzakarah Pendekar Internasional dihadiri oleh para pimpinan padepokan seperti Ketua Padepokan Pencak Silat Gunung Karang (PPGK) sekaligus ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI )Banten Ajat Sudrajat, Ketua Pembina PPGK M. Hasan Gaido, Ketua Padepokan Panglipur Garut Cecep Arif Rahman, Ketua Padepokan Maung Bodas Sukabumi sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath KH. Fajar Laksana,serta insan pencak silat Internasional dari Swis, Republik Ceko, Belanda, Amerika dan Prancis. Turut hadir pula Kepala Dinas Pariwisata Banten Eneng Nurcahyati, Maestro Pelukis Dua Alam Toink Alam serta ratusan pendekar pencak silat dari seluruh Indonesia.Gelaran Mudzakarah Pendekar Internasional ini dihelat atas dasar kekhawatiran para tokoh masyarakat, budayawan dan para pendekar insan seni bela diri pencak silat terhadap budaya beladiri pencak silat yang semakin tak diperhatikan dan kurang dibanggakan oleh masyarakat Indonesia.
Ketua Padepokan Maung Bodas Sukabumi sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath KH. Fajar Laksana mengatakan bahwa Mudzakarah Pendekar Internasional merupakan media pertemuan para insan pegiat dan pecinta seni bela diri pencak silat untuk menyatukan visi dalam melestarikan seni bela diri pencak silat dan terus mengangkatnya ke kancah internasional.
“Suatu negara tidak akan dipandang sebagai negara oleh negara lain bila negara tersebut sudah tidak memiliki jatidiri sebagai bangsa yang berdaulat. Menghilangkan jati diri berarti menghilangkan negara itu sendiri, karenanya merawat dan melindungi pencak silat sebagai jati diri dan identitas bangsa menjadi kewajiban serta tanggungjawab bersama itulah mengapa Mudzakarah Pendekar Internasional ini dilaksanakan,” kata Fajar saat deklarasi Mudzakarah Pendekar Internasional di Kawasan Wisata Halal Baduy Outbond, Sabtu (05/05).
Sementara itu Ketua Padepokan Pencak Silat Gunung Karangsekaligus ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI )Banten Ajat Sudrajat merasa heran dengan penurunan kepedulian masyarakat pada seni beladiri pencak silat bahkan banyak dari mereka yang mengatakan bahwa pencak silat hanyalah seni bela diri kampungan.
“Padahal pencak silat begitu diakui oleh dunia Internasional. Contohnya saja tahun ini pencak silat sudah resmi menjadi ajang olahraga yang diperlombakan dalam Asian Games 2018 dan diikiuti oleh 40 negara. Banyak negara lain bangga dengan pencak silat tapi di kandang, pencak silat justru mulai ditinggalkan,” kata Ajat.
Ajat pun berharap Mudzakarah Pendekar Internasional yang digelar pertama kali ini bisa menghasilkan rekomendasi dan komitmen kuat untuk terus mendorong seni bela diri pencak silat agar berkembang dan mendunia.
“Jati diri pencak silat adalah jati diri seorang pendekar. Pribadi yang kuat akan membentuk negara yang kuat. Ini budaya dan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia. Saya berharap Mudzakarah ini bisa menghasilkan beragam komitmen dan program positif bagi perkembangan pencak silat Indonesia” ujar Ajat.

Salah satu agenda dalam Mudzakarah Pendekar Internasional adalah gelaran Nitis Waris yang merupakan sebuah perhelatan budaya yang mempertemukan para pendekar pencak silat. Dalam perhleatan Nitis waris (ngatitiskeun elmu, ngawariskeun benda) setiap pendekar menampilkan seni beladiri khas padepokannya masing-masing dan mengajarkan (mewariskan) ilmu beladirinya pada padepokan lain. Hal ini dilakukan agar seni beladiri khas dari masing-masing padepokan bisa terus dilestrarikan dan semakin berkembang. (Abi)

Mudzakarah Pendekar Internasional Lahirkan 7 Resolusi

Para pendekar, pegiat dan pecinta seni beladiri pencak silat nasional dan internasional berkumpul membahas masa depan dunia pencak silat di Muzdzakarah Pendekar Internasional.
Banten – Mudzakarah Pendekar Internasional yang pertama kali resmi digelar pada Jumat-Sabtu, 4-5 Mei 2018. Gelaran ini mempertemukan para ketua padepokan, tokoh masyarakat, budayawan dan para pendekar insan beladiri pencak silat dalam dan luar negeri.
Pada Mudzakarah Pendekar Internasional yang dihelat di Kawasan Halal Baduy Outbond, Serang-Banten ini terlahir 7 resolusi yang bermisikan melestarikan dan mengangkat budaya beladiri pencak silat agar bisa semakin dikenal di kancah internasional. Adapun ketujuh resolusi tersebut, antara lain:
  1. Mudzakarah Pendekar Internasional menjadikan seni bela diri pencak silat sebagai media silaturahmi antar padepokan nasional maupun internasional tanpa memandang perbedaan suku, ras, budaya dan agama dengan tujuan tercapainya persaudaraan yang kuat melalui pencak silat untuk mendorong terciptanya stabilitas dan keamanan dunia.
  1. Mudzakarah Pendekar Internasional mendorong agar seni bela diri pencak silat menjadi materi pelajaran wajib dalam bentuk muatan lokal ataupun ektrakulikuler di kurikulum pendidikan baik dalam maupun luar negeri.
  1. Mudzakarah Pendekar Internasional mendorong UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) untuk mengakui seni bela diri pencak silat sebagai warisan budaya tanpa benda khas Indonesia. Pengakuan dari UNESCO diharapkan menjadikan seni bela diri pencak silat tetap lestari dan dikenal di seluruh dunia.
  1. Mudzakarah Pendekar Internasional mendorong seni bela diri pencak silat agar selalu dikompetisikan baik tingkat nasional maupun internasional dengan tujuan untuk menjaga kelestarian dan mewariskan seni bela diri pencak silat pada generasi penerus.
  1. Mudzakarah Pendekar Internasional menyepakati adanya Duta Pencak Silat tingkat nasional dan internasional. Duta Pencak Silat menjadi representatif Mudzakarah Pendekar Internasional dalam mengenalkan dan menyebarkan semangat seni bela diri pencak silat ke seluruh dunia. Duta Pencak Silat memiliki struktur kepengurusan dan dipimpin oleh seorang Ketua Harian yang dipilih secara bergilir dari peserta Mudzakarah Pendekar Internasional untuk satu periode tertentu.
  1. Mudzakarah Pendekar Internasional menyepakati Kawasan Wisata Halal Baduy Outbond sebagai sekretariat.
  1. Mudzakarah Pendekar Internasional mendorong pemerintah agar menjadikan seni bela diri pencak silat sebagai produk budaya unggulan tanah air untuk dikembangkan di berbagai bidang seperti budaya, parwisata, perfilman, dan pengobatan.
Ketujuh resolusi ini menjadi komitmen awal para pendekar dan insan pecinta dan pegiat seni beladiri pencak silat untuk merealisasikan beragam program dalam mengembangkan seni beladiri pencak silat ke depannya.
Adapun ke tujuh resolusi ini ditandatangani langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Banten Eneng Nurcahyati,  Ketua Padepokan Pencak Silat Gunung Karang (PPGK) sekaligus ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Banten Ajat Sudrajat, Ketua Pembina PPGK M. Hasan Gaido,  Ketua Padepokan Panglipur Garut Cecep Arif Rahman, Ketua Padepokan Maung Bodas Sukabumi sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath KH. Fajar Laksana, serta insan pencak silat Internasional dari Swis, Republik Ceko, Belanda, Amerika dan Prancis. (Abi)

YASI Beri Bantuan kepada Siswa Berprestasi dan Kurang Mampu

Siswa-siswa SMA Negeri 3 Rangkasbitung yang menerima dana bantuan pendidikan dari YASI.
Banten – YASI adalah Yayasan Anak Saleh Internasional. Yayasan binaan dari Gaido Group ini bergerak dalam tiga hal: dakwah, pendidikan, dan sosial. Pada hari Kamis, 29 Maret 2018, YASI memberikan bantuan pendidikan kepada siswa berprestasi dan kurang mampu dari SMA Negeri 3 Rangkasbitung, Lebak, Banten.
Kegiatan ini merupakan perwujudan dari visi dan misi YASI untuk terlibat dalam usaha mengembangkan pendidikan sebagaimana yang dianjurkan oleh negara dan juga meringankan beban siswa berprestasi yang kurang mampu agar terus bisa menikmati pendidikannya.
Kepada gaidofoundation.org Bapak Sambas selaku bagian kesiswaan SMA Negeri 3 Rangkasbitung, Lebak, Banten, memberikan apresiasi atas apa yang dilakukan oleh YASI ini. “Kami berharap, kegiatan ini berkesinambungan. Sebab, setengah dari siswa-siswa kami di sini adalah kalangan menengah ke bawah,” ujarnya.
Lebih lanjut, Pak Sambas mengatakan bahwa mengembangkan pendidikan adalah kewajiban kita bersama. Karena itu, ia mendukung penuh jika ada pihak-pihak yang memang berinisiatif untuk terus mengembangkan pendidikan di Indonesia, khususnya di daerah Rangkasbitung, Lebak, Banten. “Dan alhamdulillah, YASI telah terlibat langsung dalam kegiatan ini. Ini sudah bagus. Kita akan dukung seterusnya,” pungkas Pak Sambas.
Sementara itu, menurut Ust. Tommy Eka Purnama, Ketua Harian dari YASI, ada sekitar 20 siswa berprestasi dan kurang mampu yang mendapatkan bantuan pendidikan dari Yayasan YASI.
Kedua puluh orang itu adalah Sopinah Pertiwi (XI IPA 2), Dini Nurdianti (XI IPA 2), Masdodi (XI IPA 3), Hamzah (XI IPS 1), Wildan Pamungkas (XI IPS 1), Azibatul Habibah (XII IPA 2), Shita Amalia Q (XII IPA 2), Masty Kusuma P (XII IPS 3), Nurul Khalisya (XII IPS 3), Puguh Bagus P (XII IPS 1), Siti Tanti Damyanti (XI IPA 3), Aziqiyatun Nufus (XII IPA 3), Linda Ayuliansa (X IPS 1), Dini Agustin Indiani (XI IPS 2), Anggi Lita Jasmin (X IPA 3), Devia Sadiatul Hijriah (X IPA 3), Devia Eprilia Putri (X IPA 3), Diva de Avlia (X IPA 1), Siti Nurilas (X IPS 3) dan M. Iqal (XI IPA 3).
“Setelah pemberian bantuan ini mungkin ada kerjasama lebih lanjut seperti akan ada donor darah dan kegiatan sosial lain yang melibatkan sekolah ini,” ujar Ust. Tommy lebih lanjut.
Menurut Ust. Tommy, jika siswa yang mendapatkan bantuan tersebut terus menjaga prestasinya, maka besar kemungkinan ia akan terus mendapatkan biaya pendidikan dari YASI hingga perguruan tinggi. “Bahkan, bisa kerja dan mondok di pesantren binaan YASI yang berada di Sukabumi,” ujarnya mengakhiri.
Dana bantuan ini sendiri sebenarnya berasal dari para alumni SMA Negeri 3 Angkatan 2002. Secara kebetulan, salah satu alumninya ada yang bekerja di Gaido Group yang merupakan perusahaan induk dari YASI. Ia pun kemudian menggandeng YASI untuk terlibat dalam kegiatan ini.
Menurut Wiki, Ketua Pelaksana Reuni, setiap tahun ia dan kawan-kawannya sering mengadakan acara reuni. “Biasanya hanya buka bersama pada saat puasa, setelah itu ngobrol-ngobrol kemudian pulang. Kesannya kurang begitu dapet,” kata Wiki.
Atas dasar itulah, kegiatan ini muncul. “Reuni tahun ini banyak permintaan teman-teman seangkatan ingin membuat reuni semakin berkesan. Maka itu, dengan menggandeng YASI untuk melakukan Bantuan Dana Pendidikan dan (reuninya) akan diadakan di Kawasan Wisata Baduy Outbound supaya lebih berkesan,” ujar Wiki.
Terlepas dari semuanya itu, ada jiwa-jiwa yang tergembirakan atas adanya kegiatan ini. Yaitu, siswa-siswa yang dua puluh itu. Hingga salah seorang dari mereka pun mengaku jujur, “Terima kasih kakak alumni. Terima kasih YASI. Bantuan ini sangat berarti buat kami,” ujar Dini Agustin Indiani, salah seorang penerima dana bantuan itu. (Kun)

Penampilan Padepokan Pencak Silat Gunung Karang yang Spektakuler

Penampilan Padepokan Pencak Silat Gunung Karang Banten Pada Acara Milad Gaido Travel ke-15 di Lumire Hotel, Jakarta (10/2/18).
Jakarta – Salah satu acara syukuran Gaido Travel & Tours di Lumire Hotel untuk menyambut HUT ke-15 adalah penampilan Padepokan Pencak Silat Gunung Karang yang spektakuler.
Penampilan hebat ini dimulai dari kelompok yang terdiri dari 10 anak-anak maju ke panggung dengan disaksikan sorot mata ratusan orang yang memadati ballroom Lumire Hotel.
Usai mereka memeragakan aksi tarian dan silat padepokan, satu anak perempuan kemudian maju sendirian ke depan di saat yang lain duduk. Sejurus kemudian ia menampilkan tarian dan silat yang memukau mata kita yang hadir.
Setelah anak perempuan itu selesai, giliran dua anak laki-laki maju ke depan. Mereka kemudian melakukan aksi perkelahian yang terlihat seperti sungguhan. Anak satu membawa golok, satunya lagi tangan kosong. Namun, dengan gerakan silat yang keren, anak bertangan kosong tersebut mampu merebut golok dari lawannya dan mengalahkannya.
Setelah itu tampillah dua anak perempuan yang juga memeragakan tarian dan silat yang hebat.
Namun, dari semua penampilan hebat tersebut, yang mengagumkan tentu saja atraksi orang-orang dewasa yang maju ke panggung setelah atraksi anak-anak selesai.
Penampilan orang-orang dewasa Padepokan Gunung Karang Banten ini seperti layaknya bermain debus, seni tradisional khas Banten yang sangat digemari masyarakat.
Salah satunya adalah atraksi ketika mereka menggores lidah, tangan dan kakinya tanpa luka sedikit pun, padahal senjata yang dipergunakannya adalah tajam.
Kemudian aksi saat senjata tajam ditusukkan ke tubuhnya. Bukannya orang itu terluka atau tertembus pedang, bahkan pedang itu melengkung.
Lalu atraksi 2 orang dewasa perempuan yang menusuk lidahnya dengan jarum panjang yang tajam. Memang, lidah itu tertembus, tapi tanpa rasa sakit mereka berjalan dan nunggu saweran. Beberapa orang terlihat menembuskan uangnya pada ujung jarum yang menembus lidah mereka.
Masih banyak lagi atraksi hebat yang ditunjukkan oleh Padepokan Pencak Silat Gunung Karang ini. Dengan atraksinya yang spektakuler tersebut, pantas saja jika padepokan ini pernah meraih beberapa penghargaan baik nasional maupun internasional. Good job! (Kun)

YASI Undang Anak Yatim dan Dhuafa Makan Gratis di Banten Resto


Banten – Gaido Group melalui Yayasan Anak Shaleh Internasional (YASI) mengundang para anak yatim dan kaum dhu’afa untuk menikmati hidangan khas Banten di Banten Restaurant, di Jl Pamulang II no. 5, Pamulang, kota Tangerang Selatan.
Program ini merupakan salah satu program sosial dari YASI bekerjasama dengan Banten Resto sebagai bentuk kepeduliannya terhadap anak yatim dan kaum dhua’fa di tanah air.
Hasan mengaku sangat antusias dan berbahagia dengan bisa terselenggaranya program ini. “Karena memang manusia yang paling baik adalah mereka yang mampu bermanfaat bagi sesamanya. Apalagi berbagi kepada kaum dhuafa dan anak yatim sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW dan bahkan di hampir sepanjang sirah perjalanan kenabiannya Rasul sangat menyayangi kaum dhua’fa dan anak yatim,” ujar Hasan.“Untuk itu kami mengundang semua anak yatim dan kaum dhuafa dimanapun berada untuk datang ke Banten Resto dan menikmati hidangan kuliner yang kami sediakan setiap minggunya,” kata Ketua Dewan Pembina YASI, Muhammad Hasan Gaido, Kamis (26/10).
Hasan berharap kedepannya program ini bisa terus terlaksana dan menginspirasi para dermawan lainnya untuk turut menggelar program-program seperti ini kepada anak yatim dan kaum dhuafa.
Melalui program ini, di setiap hari Jumat, YASI bersama Banten Resto mengundang 40 orang anak yatim dan kaum dhuafa untuk hadir dan menyantap hidangan ala Banten yang disediakan. Untuk berpartisipaio dan informasi pendaftaran bisa hubungi Manajer Operasional Banten Resto di nomor 081315980299.
Selain program ini, YASI pun telah rutin menggelar berbagai program peduli anak yatim seperti, buka puasa bersama dan santunan anak yatim setiap bulan ramadhan, penyaluran hewan Qurban, wakaf 2 juta al-Quran dan alat alat shalat untuk masjid dan mushala, dan masih banyak lagi. (Abi)

Keluarga Asal Singapura Ini Gandeng YASI Salurkan Qurban di Banten

Keluarga besar Haji Said Hamid didampingi Ketua Pembina YASI M Hasan Gaido, saat menyaksikan penyembelihan hewan qurban di Kawasan Wisata Baduy Outbound, Serang pada Sabtu (2/9)
Banten – Yayasan Anak Sholeh Internasional (YASI) kembali dipercaya oleh para pequrban untuk menyalurkan hewan qurbannya di hari raya Idul Adha tahun ini. Namun di perayaan Idul Qurban tahun ini, ada yang spesial, pasalnya, YASI menerima sekaligus menyalurkan hewan qurban diantaranya berupa satu ekor sapi dan empat ekor kambing dari warga Singapura.
“Bahkan mereka ikut hadir dan menyembelih hewan kurbannya di sini,” kata Wakil Sekretaris Umum YASI, Ahmad Murtadho kepada gaidofoundation.org saat ditemui di Kawasan Wisata Baduy Outbound, Serang Banten pada Sabtu (2/9) tempat berlangsungnya penyembelihan hewan qurban.
Biasanya, kata Ahmad, YASI menerima dan menyalurkan hewan qurban dari Gaido Group, namun tahun ini ada tambahan dari mitra kerja Gaido Travel yang ada di Singapura. “Hadir dalam kesempatan ini, tamu-tamu dari Singapura, keluarga besar Azza Travel dan keluarga pequrban lainnya,” ujar Ahmad.
Sementara Haji Said Hamid salah seorang pequrban mengatakan, ia dan keluarga sangat berkesan dengan penyambutan dan keramahtamahan warga sekitar, setalah kemarin hari raya mengikuti sholat ied di kampung, dan hari ini dilanjut dengan penyembelihan hewan qurban.
Tidak hanya itu, Haji Said juga mengungkapkan bahwa Kawasan Baduy Outbound begitu elok dan indah sekali alamnya. Haji Said berharap semoga diberi rizki dan umur yang panjang, sehingga bisa datang kembali ke Baduy Outbound sekalian bawa koleganya untuk berqurban di Indonesia, khususnya di Banten.
“Kami begitu gembira, penginapannya bagus, banyak pemandangan yang elok, anak-anak suka sekali tinggal di sini,” kata Haji Said.
Selain dihadiri Wasekum YASI, turut hadir dalam penyembelihan hewan qurban di Kawasan Baduy Outbound pada hari ini Ketua Pembina YASI, M Hasan Gaido, dan sejumlah warga sekitar Kawasan Baduy Outbound. Adapun total daging yang akan dibagikan sebanyak 380 paket. (Hay)