Pesona Kebon Awi Hadirkan Keindahan Bambu Sekaligus Perkenalkan Budaya Sunda

Pameran pesona Kebon Awi termasuk menghadirkan berbagai jenis bambu yang unik di pintu masuk pameran. Pameran ini digelar di i Jalan Bukit Pakar Timur No 29, Kota Bandung, Minggu (13/5/2018). 

Bandung – Jika berkunjung ke wilayah Dago atas, Anda bisa menemukan berbagai kafe yang menyajikan pemandangan alam yang indah. Satu di antaranya yaitu Kebon Awi Kaffee yang berada di Jalan Bukit Pakar Timur No 29, lokasinya tak jauh dari Coco Rico Cafe.

Suasana yang sejuk dan dingin begitu terasa ketika memasuki Kebon Awi. Sesuai namanya, kafe ini dipenuhi saung bambu yang rasanya seperti berada di dalam hutan bambu.

Ketika memasuki Kebon Awi, di bagian dalam kebun bambunya terdapat panggung yang cukup luas dan tampak ramai. Keramaian ini ada karena adanya acara Pesona Kebon Awi yang menghadirkan pameran bambu unik, lomba menggambar, dan galeri lukisan.
Operational manager Kebon Awi Kaffee, Pria Eka mengatakan pameran ini digelar untuk melestarikan dan memelihara kearifan lokal.
“Pameran ini diadakan pertama kali, acara ini diadakan untuk memperkenalkan kegiatan edukasi mengenai tari, lukis, dan bambu,” ujar Pria di Kebon Awi, Minggu (13/5/2018).
Pria mengatakan, Kebon Awi tak hanya ingin dijadikan sebagai kafe tetapi ingin dijadikan sarana edukasi untuk warga lokal disini untuk belajar mengenai tradisi Sunda.
Acara pembukaan pameran diisi tarian tradisional, pencak silat, dan penampilan Ambu Otih pemilik Kebon Awi. Kegiatan edukasi semisal belajar melukis, menari, dan bermain permainan tradisional bisa dilakukan di tempat ini. Suasana gemericik air yang pohon bambu yang rindang membuat anak-anak akan merasa betah dan segar ketika belajar di ruang terbuka dan hijau.
Ia berharap dengan adanya acara Pesona Kebon Awi, pengunjung bisa berpartisipasi dengan kegiatan yang ada di kafe ini untuk bisa mempopulerkan budaya Sunda, pengembangan bakat dan minat, mempererat silaturahmi. (Tribun)

Tren Sosial Zaman Now, Gerakan Senang Ajak Orang Senang (SAOS) Makin Viral!

Nonton bareng Terbang Menembus Langit sebagai salah satu kegiatan Senang Ajak Orang Senang (SAOS) di Batam.
Batam – Di era media sosial yang serba canggih muncul berbagai tren kreatif dan perkembangannya cukup masif. Satu di antaranya adalah yang lagi viral sosial media, Gerakan Senang Ajak Orang Senang (SAOS).
Gerakan yang berasal dari inisiatif seorang aktivitis sosial bernama Filan Kwok, yang kemudian dikembangkan bersama orang-orang di lingkaran pertemanannya, hingga gerakan ini berkembang secara nasional.
“SAOS tercetus saat kami meeting, anyway tiap bulan kita menyisihkan uang untuk diberikan ke anak yang kurang mampu. Selama ini kita lakukan itu.  Ketika itu saya ingin income yang secara kolektif dikumpulkan untuk mengajak anak panti nonton dan ide itu disambut teman-teman,” kata Fillan saat hadir di Batam dalam Gerakan SAOS Chapter Batam yang berlangsung di Radisson Hotel, Selasa (8/5/2018).
Fillan mengatakan, konsep gerakan SAOS ini berupa donasi untuk anak-anak maupun orang yang kurang mampu untuk mendapatkan makanan rohani yang dapat memberikan mindset positif, di antaranya berupa nonton bareng film Indonesia berkualitas.
Fillan, selaku Ketua Gerakan Nasional mengungkapkan bantuan materi untuk fisik ataupun rohani, keduanya sama-sama penting untuk diberikan.
Gerakan SAOS sendiri sudah dilaksanakan di berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Lampung, Palembang, Bogor, Tangerang, Jambi, Semarang, Sukoharjo, Wonogiri, Solo Batam dan berbagai kota lainnya.
Eksistensi gerakan ini juga mendapat perhatian dari Tokoh Inspiratif Film Terbang Menembus Langit, Onggy Hianata yang hadir di tempat yang sama.
“Manusia pada dasarnya punya sifat ingin memberi, saya melihat Gerakan SAOS sebagai proses membangun karakter, mental dan sarana berbagi kepada sesama. Ini penting untuk Indonesia yang beragam terutama penanaman nilai-nilai yang membangun sejak dini,” kata Onggy ketika menghadiri acara Meet and Greet Film Terbang Menembus Langit di Batam.
Di Batam, kegiatan SAOS telah berlangsung hingga saat ini dan telah membantu 3.801 anak dengan nominal donasi Rp 209.087.002.
Dana yang berasal dari donatur yang tidak hanya berasal Kepri tetapi juga Singapura tersebut digunakan untuk agenda nonton bareng Film Inspiratif Terbang Menembus Langit, pemberian makanan dan pembuatan dream book. 
Gerakan SAOS Batam diketuai Prinsip Muljadi, seorang Pengusaha Properti ternama dan Social Philanthropist Batam.
Gerakan ini dapat lebih lanjut di sosial media dengan taggar #gerakansosialterbang #GerakanSAOS. (Tribun)

Islam adalah Agama Cinta


Umat Nabi Muhammad SAW adalah umat yang dirahmati. Setiap orang yang memegang bithaqah (kartu) la ilaha illa Allahwajib dihormati dan dihargai. Sedangkan sikap dan paham mereka yang berbeda adalah konsekuensi yang harus diterima sebagai makhluk-Nya. Tuhan menciptakan makhluk tidak sama, berbeda, dan beraneka ragam. Itulah fitrah manusia dan sunnatullah.

Itulah fitrah yang melekat dan menempel kuat pada setiap makhluk. Karenanya setiap yang membawa bithaqah la ilaha illa Allahharus dihormati dan dihargai, sebab dalam bingkai itu mereka semua sama. Dalam masalah ushul (pokok), umat Islam harus sama. Tetapi dalam masalah furu‘(cabang), perbedaan terbuka lebar dan tidak bisa dihindari. Likulli ra’sin ra’yun, di setiap kepala ada otak dan pikiran yang berbeda. Pendapat dan sudut pandang itu boleh berbeda. Kita harus menghargai dan menghormati itu.

Baca juga: Pendidikan Islam Perlu Diperketat


Maka hentikan kecongkakan pada Allah dengan menuduh umat-Nya dengan tuduhan kafir atau tuduhan lainnya. Rasulullah SAW tidak mengajarkan umatnya untuk menuduh dan mencurigai saudaranya. Yang beliau minta adalah sifat lembut, halus, kasih, sayang, saling mempercayai, dan saling menguatkan. Api dilawan dengan air, bukan api dilawan dengan api. Rasulullah SAW selalu bersikap santun terhadap setiap orang, sekalipun terhadap orang yang membenci dan memusuhinya. Bahkan saat dizalimi, beliau tidak membalas tetapi justru mendoakannya.

Kaana khuluquhu Al-Qur’an, akhlak Rasulullah SAW adalah akhlak Al-Qur’an. Tutur kata beliau halus tidak menyakiti dan sikap beliau lembut penuh kasih sayang. Tidaklah Rasulullah SAW diutus kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam, wamaa arsalnaaka illaa rahmatan lil aalamiin. Inilah pedoman akhlak Rasulullah SAW yang bersumber dari wahyu Tuhannya, Al-Qur’an. Oleh karena itu, ajaran Nabi Muhammad SAW adalah Islam yang penyayang, bukan kebengisan membabi buta yang penuh kebencian. Islam berarti damai dan memberi selamat. Dalam makna ini kebencian tidak mendapat ruang sedikitpun dalam Islam.

Ada rahasia penting mengapa bismillah menjadi pembuka Surat Al-Fatihah dan surat-surat lainnya. Di sana kita diminta untuk senantiasa bersikap rahman dan rahim. Saat aura kebencian merasuk, lawanlah dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih (Rahman) dan Maha Penyayang (Rahim). Jangan sekali-kali kita mengkhianatinya dengan kemarahan dan kebencian. Ini tidak menghormati dan menghargai bismillahir rahmanir rahim sebagai pondasi amal kebajikan.

Baca juga: Bersyukur, Kunci Kebahagiaan Hidup


Rasulullah SAW mengajarkan bahwa dalam setiap perbuatan baik harus (sunah) diawali dengan bacaan basmalah, jika tidak kebaikan tersebut menjadi terputus atau menjadi tidak bernilai. Ini selaras dengan pesan moral bismillahir rahmanir rahim yang menyuarakan nilai-nilai kesantunan, kasih dan sayang. Sebaliknya, basmalah tidak boleh (dilarang) menjadi pembuka perbuatan tercela. Artinya, tidak ada toleransi mengawali perbuatan buruk dengan mengatasnamakan Tuhan. Sikap benci, marah, dan sikap negatif lain adalah bagian dari perbuatan tercela. Maka dalam Islam tidak ada toleransi bagi sikap benci dan marah.

Takfir (mengkafirkan) saudara seiman termasuk bagian perbuatan tercela yang tidak mencerminkan sikap rahmatan lil alamin yang diajarkan Tuhan. Selain itu, takfir juga hampa dari nilai-nilai basmalah yang santun itu. Islam menuntut sikap ramah bukan marah. Sebagaimana Rasulullah SAW yang ramah dan selalu menjaga amarah. Karena itulah jargon utama Muhammad SAW sebagai sebagai nabi dan rasul Tuhan adalah rahmatan lil alamin, menjadi rahmat yang membawa kesejukan, ketenteraman, kedamaian, dan kerukunan yang tidak terbatas pada manusia semata, tetapi pada seluruh makhluk dan alam semesta. Karena itu, Islam tidak hanya ramah sikap dan perilaku, tetapi juga harus ramah lingkungan. Di sinilah Islam dikenal sebagai agama cinta. 

Oleh karena itu Rasulullah SAW , “Orang-orang yang penyayang (ramah, sopan, santun, dan penuh kasih) akan disayang oleh Allah (Ar-Rahman). Maka sayangilah penduduk bumi, niscaya (Allah) yang di atas langit pun akan menyayangi (bersikap ramah, sopan, santun, dan penuh kasih) kalian,” (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad).


Baca juga: Resep Raih Rezeki Banyak


Ajaran Islam rahmatan lil alamin ini yang dewasa ini semakin ditinggalkan banyak orang. Mari kita buang jauh-jauh sikap congkak dan sombong. Mari kita tebarkan kesejukan dan kedamaian pada umat. Menjadi tempat berteduh yang nyaman, yang melindungi mereka dari keburukan dan kejahatan.

Jadilah awan yang putih dan jernih yang memberikan kecerahan. Jangan jadi awan gelap yang mencekam dan menakutkan. Islam rahmatan lil alamin. Wallahu a‘lam bis shawab. (Muhammad Ali Wafa)

Lembaga Pendidikan Islam Perlu Diperkuat

“Kita ingin tunjukkan pendidikan madrasah layak untuk seluruh elemen masyarakat, bahkan milenial sekalipun,” kata Lutfi

Sleman – Kanwil Kemenag DIY tengah menggelar Ekspo Pendidikan Islam yang diikuti hampir 160 madrasah se-DIY. Pada kesempatan itu, turut diluncurkan Gerakan Literasi Madrasah dan aplikasi e-learning, pembelajaran berbasis elektronik untuk madrasah.


Kepala Kanwil Kemenag DIY, Muhammad Lutfi Hamid menilai, e-learning merupakan satu pergerakan paling progresif untuk pembelajaran berbasis elektronik. Ia menekankan, itu jadi salah satu bagian perwujudan Gerakan Literasi Madrasah.

Ia mengungkapkan, peluncuran yang dilakukan di Ekspo Pendidikan Islam yang bertempat di salah satu ritel ternama turut memiliki tujuan. Menurut Lutfi, tujuannya tidak lain agar madrasah memiliki jangkauan yang lebih luas lagi di generasi milenial.

“Kita ingin tunjukkan pendidikan madrasah layak untuk seluruh elemen masyarakat, bahkan milenial sekalipun,” kata Lutfi saat memandu Ngobrol Pendidikan Islam (Ngopi) yang merupakan mandatori Menteri Agama.

Narasumber lain, Wakil Rektor UIN Sunan Kalijaga, Sahiron Syamsuddin berpendapat, ilmu yang didapatkan dari lembaga-lembaga pendidikan Islam yang dienyamnya sangat bermanfaat. Termasuk, untuk melangkah ke luar negeri.

Salah satunya, kebiasaan lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan melalui tiga bahasa yaitu Indonesia, Arab dan Inggris. Sahiron yang lulusan Pondok Pesantren Krapyak itu mengaku begitu terbantu dengan bekal-bekal tersebut.

“Saya pribadi merasa mendapatkan kemudahan untuk meraih ilmu yang diajarkan karena sudah ada kemampuan baca kitab kuning, walaupun masih tahap belajar waktu itu, tapi setidaknya sudah ada bekal,” ujar Sahiron.

Meski begitu, kualitas lembaga-lembaga pendidikan Islam baik madrasah maupun pondok pesantren, harus terus ditingkatkan. Pengasuh Ponpes Ali Maksum Krapyak, KH Hilmy Muhammad melihat, saat ini masih ada gap kualitas terkait itu.

Bahkan, jika membandingkan madrasah-madrasah alliyah dengan SMA misalnya, ia merasa masih ada gap kualitas yang cukup terang terlihat. Karenanya, ke depan Hilmy meminta ada kesadaran diri untuk melakukan perbaikan-perbaikan itu.

“Kita harus melakukan pembenahan diri, tidak bisa tidak,” kata Hilmy. 

7 Tips Kerja Keras Ala Orang Jerman


Motivasi – Banyak yang bilang bahwa Jerman adalah mesin ekonomi Eropa. Ekonomi Jerman-lah yang menyelamatkan Eropa dari krisis beberapa waktu lalu. Namun, tahukah kamu? Sesungguhnya, jam kerja di Jerman itu tidaklah banyak seperti kita di Indonesia. Namun, mereka mampu memanfaatkannya sebaik mungkin.
Untuk diketahui, rata-rata jam kerja orang Jerman 35 jam per minggu atau sama dengan 7 jam per hari, dengan waktu cuti 24 hari per tahun. Bandingkan dengan jam kerja kita di Indonesia: 8 jam per hari, cuti hanya 13 hari per tahun.

Pertanyaannya: apa sih rahasianya sehingga mereka bisa tetap produktif dengan jam kerja yang singkat

1. Bagi Orang Jerman, Jam Kerja Khusus untuk Kerja

Saat karyawan bekerja, dia tidak boleh melakukan apapun selain kerjaannya. Jadi tidak main facebook, belanja online, instagram, chatting, Ngaskus dan sebagainya. Kebiasaan berlagak sibuk (padahal lagi nge-Kaskus) saat bos datang merupakan perilaku yang tidak bisa diterima dalam dunia kerja Jerman.

Ketika sedang bekerja orang Jerman terkenal sangat fokus dan rajin. Kamu bisa datang dan pergi dari kantor sewaktu-waktu asalkan sudah menyelesaikan pekerjaanmu. Jadi, tak ada aturan ketat masuk jam 9 pulang jam 5. Mereka selalu berusaha fokus dan cekatan dalam bekerja, sehingga produktivitas yang tinggi bisa tercapai dalam waktu yang singkat.

2
Orang Jerman Lebih Suka Komunikasi Langsung

Saat orang Indonesia mengagungkan budaya basa-basi, orang Jerman tetap bisa asik tanpa banyak basa-basi. Karyawan di Jerman akan bicara langsung kepada atasannya mengenai laporan yang ia buat, bawahan juga tidak segan untuk menanyakan kenapa performa kerjanya dianggap menurun. Atasan mereka juga lebih suka menggunakan perintah langsung seperti “Saya butuh kerjaan kamu jam 3 sore ini” daripada “Gak buru-buru kok.Tapi kalau bisa selesai jam 3.”

3
Orang Jerman Memisahkan Pekerjaan dari Kehidupan Pribadi dengan Seimbang

Karena fokus yang mereka curahkan bagi pekerjaan begitu intens dan mereka begitu produktif saat di kantor/pabrik, selesai jam kantor mereka manfaatkan buat istirahat. Mereka tidak terlalu suka hang out atau ngopi-ngopi dulu bareng teman sekantor. Karena pada umumnya orang Jerman benar-benar menghargai batasan antara kehidupan pribadi dan kehidupan profesionalnya. Bahkan pemerintah Jerman berencana untuk melarang pengiriman email yang berhubungan dengan kerjaan setelah jam 6 sore, supaya pekerja di sana bisa beristirahat.

Bagi mereka, hari libur benar-benar dimanfaatkan untuk berlibur. Akhir pekan dimanfaatkan untuk bercengkrama dengan keluarga dan berbaur dengan masyarakat melalui komunitas minat khusus seperti klub musik, klub olahraga, klub pecinta binatang, klub hiking dan sebagainya. Bahkan di desa terkecil di Jerman terdapat beberapa klub, hingga mereka tidak melewatkan akhir pekan dengan malas-malasan di depan TV.

4
Masyarakat Jerman Dimanjakan dengan Jumlah Hari Libur yang Banyak

Dalam setahun, masyarakat Jerman menikmati ‘libur yang dimandatkan negara’ (mungkin sama dengan ‘cuti bersama’ atau ‘libur nasional’ kalau di Indonesia) yang banyak banget. Kalau ditotal, bisa mencapai 6 minggu dalam setahun. Bayangkan, kamu tidak harus pergi kerja selama 6 minggu sementara gaji kamu tetap dibayar penuh. Itu belum termasuk 25-30 hari jumlah cuti (padahal yang dianjurkan cuma 20 hari) yang boleh diambil dalam setahun. Itu artinya, jika bisa pandai-pandai mengatur jadwal liburan, mereka bisa traveling ke tempat jauh sekalian.

Lalu apa hubungannya liburan dengan produktivitas kerja? Selain liburan membuat kamu lebih fresh saat kembali ke kantor, kamu juga harus menggunakan kacamata orang Jerman dalam melihat liburan. Bagi mereka, liburan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Sedangkan kita hanya menganggap liburan sebagai bonus/hadiah dari pekerjaan.

5
.  Para Karyawan di Jerman Jarang Melakukan Rapat dan Pertemuan

Kalau kultur kerja di Indonesia terbiasa dengan kebiasaan beramah-tamah, santai dan lebih banyak basa-basi demi menjalin keakraban. Kultur kerja di Jerman menitikberatkan pada kualitas, bekerja secara individu, dan segera pulang setelah selesai pekerjaannya. Memang benar mereka lebih suka bekerja sendiri dan tertutup jika itu dipandang bagus buat diri dan kantornya. Seringkali mereka mengambil istirahat siang yang panjang agar bisa bekerja di luar kantor dan lebih fokus. Jadi, jangan heran melihat mereka jarang ngumpul buat rapat atau ngobrol soal kerjaan. Bagi mereka, less social time is more work time.

6
Tidak Pernah Cemas Karena Hilang Pekerjaan

Jika mereka berminggu-minggu libur dan cuti, apa mereka tidak takut kehilangan pekerjaan? Mau bayar tagihan pakai apa? Tenang, selain karena libur dan cuti tersebut dimandatkan oleh negara, orang Jerman tidak terlalu cemas jika mereka tidak punya pekerjaan. Itu karena pemerintah Jerman selalu berusaha membahagiakan rakyatnya dengan menyediakan layanan kesehatan gratis, biaya kuliah gratis, dan santunan kepada anak-anak kecil.

Orang Jerman bebas dari rasa cemas karena beberapa tagihan mereka sudah ditanggung oleh pemerintah. Akibatnya mereka jadi jauh lebih bahagia, lebih produktif, dan seluruh waktunya dicurahkan untuk pekerjaan dan keluarga, bukan fokus buat memikirkan tunggakan bulanan.

7
Kualitas Jauh Lebih Utama Daripada Kuantitas

Kultur kerja yang diterapkan orang Jerman sekali lagi menegaskan bahwa kualitas jauh lebih penting daripada kuantitas. Saat kita membanggakan diri dengan jumlah jam kerja dan lembur yang kita lakukan buat kantor dan perusahaan, orang Jerman lebih mengutamakan kualitas dari hasil pekerjaan. Kualitas itu didapatkan dengan fokus, efisiensi dan dedikasi tanpa kompromi di tempat kerja.

Mereka memblokir semua gangguan dari luar dan dalam diri demi menyelesaikan kewajiban, lalu segera kembali ke keluarga dan komunitas untuk memelihara keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan. Lagipula, buat apa pamer sudah kerja lembur hingga 12 jam kalau sebagian besar pekerjaannya diisi oleh membuka facebook, ngerumpi, serta berbasa-basi?

Kultur kerja masyarakat Jerman memang tidak bisa disamakan dengan gaya di Indonesia. Namun, sebenarnya dari beberapa contoh di atas kamu bisa mempelajari beberapa ilmu. Keuletan dan usaha mereka menyeimbangkan antara ‘work’ dengan ‘play’ bisa kamu tiru. Pola komunikasi langsung pada intinya bisa menghemat waktu, meningkatkan efisiensi, dan memperjelas percakapan antar rekan kerja. Menutup media sosial saat bekerja akan membantu fokus dan tidak mudah terdistraksi. Lalu, nikmatilah akhir pekan kamu tanpa gangguan smartphone dan internet agar otak kamu lebih bugar saat kembali ke kantor nanti.

Bersyukur, Kunci Kebahagiaan Hidup

Bersyukur atas apa yang dimiliki adalah salah satu cara manusia untuk menggapai kebahagiaan. Sebab tanpa bersyukur, betapapun besarnya nikmat yang didapat, niscaya akan tetap merasa kurang. 

Demikian diungkapkan Ketua PC LDNU Jember, KH Badrus Shadiq saat memberikan tausiyah dalam Peringatan Isra’ Mi’raj di Pesantren Fathul Ulum, Dusun Karangtengah Selatan, Desa Pace, Kecamatan Silo, Jember, Jawa Timur, Rabu (4/4/18).

Menurut Kiai Badrus sapaan akrabnya, pada dasarnya  manusia selalu merasa  kurang terhadap apa yang diperolehnya. Oleh karena itu, untuk memicu timbulnya perasaan bersyukur kepada Allah adalah dengan cara memandang ke bawah, bukan melihat ke atas, yakni membanding-bandingkan dengan nikmat yang lebih kecil milik orang lain. 

“Selain itu, kita juga harus yakin dengan janji Allah bahwa Allah akan menambah rezeki yang kita dapat  jika pandai bersyukur,” ucapnya.

Dikatakan, Nabi Muhammad SAW sudah tak kurang apa, walaupun beliau bukan orang  kaya, tapi semua keinginannya dipenuhi oleh Allah. Bahkan beliau sudah dijamin masuk syurga. Tapi Nabi Muhammad SAW masih rajin ibadah bahkan sampai  kakinya bengkak. 

“Itu karena Nabi Muhammad ingin selalu bersyukur kepada Allah,” jelasnya. 

Ia menambahkan, kebahagiaan dan kesusahaan sesugguhnya adalah persepsi atau anggapan, orang yang kaya dianggap hidupnya bahagia. Sebaliknya, orang miskin dikira hidupnya susah. Padahal belum tentu demikian. Sebab, setiap orang apakah dia kaya atau miskin pasti punya persoalan juga yang bisa jadi hanya dia yang  tahu. 

“Banyak (harta) belum tentu cukup sedikit belum tentu kurang, tergantung pada persoalan yang dimilliki manusia,” lanjutnya.

Resep Raih Rezeki Banyak

Katib Syuriyah NU Jember Kiai M.N. Harisudin mengatakan, jika seseorang ingin permintaannya banyak dikabulkan Allah, seyogyanya dia juga melakukan perintah Allah yang banyak. 

Kiai Harisudin menceritakan seorang kaya raya yang cepat sekali membangun rumahnya di Jakarta. Dua rumahnya seharga miliaran hanya dibangun dalam tempo tidak kurang dari 10 bulan. Setelah seorang temannya bertanya, dengan amalan apa ia bisa membangun cepat rumahnya, ia menjawab ia hanya bermodal sajadah dan air wudlu. 

“’Maksudnya apa’, tanya temannya. ‘Yaitu shalat dluha dua belas raka’at,’ jawab orang kaya raya tadi. Jadi, dengan hanya modal 12 rakaat dia bisa membangun rumahnya dengan cepat. Subhanallah,” katanya pada ceramah subuh di Bank Mu’amalah Jember yang dihadiri 60 pegawai, termasuk Kepala Bank Mu’amalah Nasrullah, Sabtu (22/10/16). 

Dosen Pascasarjana IAIN Jember tersebut menegaskan, inilah yang disebut dalam kitab al-Hikam karya Ibnu Athailah al-Iskandari dengan “khairu ma tatlubuhi minhu huwa ma thalibuhu minka”. “Artinya, sebaik-baik apa yang kamu minta pada Allah adalah apa yang Allah tuntut pada kamu.

Jadi jika kamu minta banyak pada Allah, maka tuntutan Allah yang banyak pada kamu juga seharusnya dilakukan. “Jangan banyak minta pada Allah, tapi perintah Allah hanya sedikit dilakukan. Ya tidak imbang namanya”, lanjut Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember tersebut disambut ger para hadirin. 

Wakil Ketua Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur ini menyontohkan beberapa yang sukses dengan shalat dluha 12 rakaat. Misalnya KH Asep Saefudin Chalim, pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Umah Pacet Mojokerto yang terus-terusan membangun pesantren. Menurut Kiai Harisudin, resepnya sama: dluha 12 raka’at juga. 

“Saya punya seorang karyawan. Sudah 3 tahun yang silam praktek shalat dluha 12 rakaat, dia kemarin cerita pada saya, sejak mendapat tausiyah untuk praktek shalat dluha 12 rakaat, dia praktek shalat tersebut. Hasilnya sejak saat itu sampai sekarang, tidak pernah kekurangan rizki, padahal dia sebelumnya sangat kekurangan. Bahkan dia bisa memberi uang pada orang tua dan adik-adiknya yang di pesantren”, tutur Kiai muda yang juga Pengurus Majlis Ulama Kabupaten Jember tersebut.

Karena itu, Kiai M.N. Harisudin mengingatkan bahwa untuk memperoleh banyak dari Allah, maka harus diimbangi dengan banyak melakukan perintah Allah. Insyaallah, demikian ini akan dikabulkan Allah.

Bersyukur


Gaido – Sebuah hadis diriwayatkan Hakim dari Jabir bin Abdullah RA menyebutkan, di akhirat nanti ada seorang hamba yang telah beribadah selama 500 tahun. Ahli ibadah tersebut pun dipersilakan Allah SWT untuk memasuki surga. “Wahai hamba-Ku, masuklah engkau ke dalam surga karena rahmat-Ku,” bunyi Firman Allah dalam hadis qudsi tersebut.

Namun, ada yang menyangkal dalam hati si ahli ibadah. Mengapa ia masuk surga lantaran rahmat Allah? Bukankah ia telah beribadah selama 500 tahun? “Ya Rabbi, mengapa aku tidak dimasukkan ke dalam surga karena amalku?” tanyanya.

Allah SWT pun memperlihatkan nikmat yang telah diberikan-Nya bagi si ahli ibadah. Nikmat Allah tersebut ditimbang dengan seluruh amal ibadah yang telah ia kerjakan. Ternyata, nikmat penglihatan dari sebelah matanya saja sudah melebihi ibadah 500 tahun si ahli ibadah. Akhirnya, si ahli ibadah pun tunduk di hadapan Allah dan menyadari betapa kecilnya nilai ibadahnya.

Tak ada alasan bagi seorang Muslim untuk tidak bersyukur kepada Allah. Sebanyak apa pun ibadah yang dilakukan, tak akan sebanding dengan nikmat dan karunia yang telah diterima dari Allah. Demikianlah hakikat dari ibadah, sebagai ungkapan rasa syukur seorang hamba kepada Rabb-nya. Jadi, menunaikan ibadah bukan hanya sebatas “pelunas utang” dan menunaikan kewajiban saja.

Rasulullah SAW sebagai seorang hamba yang dijamin tidak berdosa (maksum) adalah teladan dalam hal bersyukur. Suatu kali, istri beliau SAW bertanya, mengapa suaminya itu selalu shalat tahajud sepanjang malam. Bahkan, kaki beliau SAW pun sudah bengkak lantaran lamanya berdiri. “Ya Rasulullah, bukankah Allah SWT telah mengampuni dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?” ujar Aisyah.

Aisyah mengisyaratkan, buat apalagi susah-susah ibadah, toh Rasulullah SAW sudah dijamin Allah masuk surga. Seluruh kesalahannya, kalaupun ada, sudah diampuni Allah. Dan, ia adalah makhluk yang paling mulia di muka bumi. Lalu, mengapa ia masih merepotkan diri dengan ibadah sepanjang malam?
“Bukankah lebih elok jika aku menjadi hamba yang bersyukur,” jawab Rasulullah (HR Bukhari).

Demikianlah Rasulullah mencontohkan, hakikat dari ibadah bukanlah sebatas “pelunas utang” atau pembersih diri dari dosa. Ibadah adalah luapan rasa syukur kepada Allah.

KEKUATAN BERBAGI


“Apa yang anda simpan untuk diri anda sendiri akan lenyap, apa yang akan anda berikan pada orang lain akan anda miliki selamanya.” (Axel Munthe)

Seorang pengusaha pernah mengatakan, “Jika saya mempunyai uang seratus ribu rupiah satu lembar dan anda mempunyai uang sepuluh ribu rupiah sepuluh lembar, lalu uang itu ditukarkan nilainya akan sama, bukan? Saya dan anda tetap mempunyai uang seratus ribu rupiah. Akan tetapi jika saya dan anda masing masing mempunyai satu buah ide lalu kita saling menukarkannya, kira-kira apa yang terjadi? Saya akan mempunyai dua buah ide dan anda pun akan menerima hal yang sama.” Mengapa bisa demikian? Itulah yang dinamakan kekuatan berbagi!

Saat di bangku sekolah saya adalah termasuk orang yang pelit dalam berbagi ilmu. Saya berpikir jika sering mengajari orang lain, lama kelamaan mereka akan lebih pintar dari saya. Saya lupa dengan prinsip yang mengatakan, “Jika anda memberdayakan seseorang sebenarnya anda sedang memberdayakan dua orang.” Ya, karena kita telah memperoleh setiap ilmu dari Sang Khalik dengan cuma-cuma, berikanlah ilmu tersebut dengan cuma-cuma kepada mereka yang membutuhkan.

Zig Ziglar pernah berkata, “Jika anda membantu lebih banyak orang untuk mencapai impiannya, impian anda sendiri akan tercapai.” Setiap kemampuan dan kepandaian yang kita miliki akan semakin bermanfaat dan memiliki nilai yang tinggi jika kita menggunakannya bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk membantu kesejahteraan orang lain. Tuhan sudah memberikan talenta kepada kita dengan cuma cuma. Jadi mengapa kita tidak memberikannya dengan cuma cuma juga? Hanya dengan cara itulah, kita dapat berhasil selamanya.

Apa yang anda miliki saat ini? Mungkin anda berkata, “Saya tidak memiliki apa-apa yang dapat saya bagikan untuk orang lain.” Anda salah! Percayalah bahwa setiap kita diciptakan sebagai pribadi yang kaya; kaya dalam memanfaatkan bakat kita sepenuhnya, kaya dalam hal menciptakan dunia yang lebih baik, kaya dalam hubungan yang bermakna, kaya dalam pertumbuhan dan perkembangan rohani, kaya dalam sumbangan yang hanya anda yang mampu memberikannya, serta kaya dalam sukacita dan damai sejahtera. Jadi masihkah anda berkata bahwa anda tidak memiliki apa-apa? Dunia saat ini begitu krisis dengan berbagai hal. Oleh karena itu berikanlah apapun yang ada dalam hidup kita. Barangkali pemberian itu sekedar memandang mata lawan bicara anda, sebuah pelukan hangat, senyum tulus, serta kata-kata semangat dan motivasi bagi mereka yang sedang putus asa. 

Apapun itu, berikanlah, karena sesuatu yang membuat kita bahagia bukanlah apa yang kita pertahankan, melainkan apa yang kita serahkan. Dari apa yang kita peroleh kita hidup, tetapi dari apa yang kita berikan, kita mendapatkan hidup yang menyenangkan.

Sumber: dikutip dari buku “INSPIRASI 5 MENIT” karya Imelda Saputra.

Kekuatan Memberi atau Berbagi


Gaido – Seorang teman pernah berkata, “Jika saya mempunyai uang lima puluh ribu rupiah, kemudian Anda tukar dengan lima lembar sepuluh ribu rupiah, kita berdua tetap memiliki nilai uang yang sama yaitu lima puluh ribu rupiah. Namun apabila saya mempunyai sebuah ide dan Anda mempunyai satu buah ide lalu kita saling menukarnya, maka kita akan sama-sama memiliki dua buah ide.” Itulah kekuatan dalam memberi atau berbagi.

Ada prinsip yang menarik yaitu, “Jika Anda sedang memberdayakan seseorang, sesungguhnya Anda sedang memberdayakan dua orang.” Ketika saya mulai mengajari atau mengembangkan orang lain sesungguhnya saya sedang mengajar dan mengembangkan orang itu dan diri saya sendiri. Saya jadi lebih terasah dengan ilmu yang saya bagikan sehingga membuat diri saya menjadi lebih ahli.

Coba perhatikan orang-orang yang disukai dalam pergaulan, menjadi teman yang ramah bagi banyak orang. Mereka pasti orang yang suka berbagi. Sebaliknya, orang-orang yang dibenci orang lain pasti orang-orang yang pelit dan tidak pernah memberi atau berbagi.

Rasanya kita perlu belajar dari matahari yang selalu memberi tanpa pernah meminta. Pandangan ini agak berbeda dengan kalkulasi bisnis yang senantiasa menempatkan memberi sebagai investasi yang di kemudian hari akan dituai hasilnya.

Padahal hidup kita justru akan lebih berbahagia bila kita banyak memberi tapi sedikit berharap. Apa pun yang kita berikan sebetulnya tidak akan pernah hilang, ia akan kembali pada Anda dalam bentuk lain sesuai dengan hukum kekekalan energi yang berlaku di alam semesta.

Mungkin Anda berkata, “Saya tidak memiliki apa-apa yang dapat dibagikan untuk orang lain.” Jangan salah, berbagi tidak selalu berkaitan dengan materi dan uang. Khalil Gibran pernah berkata, “Bila engkau memberi dari hartamu, tiada banyaklah pemberian itu. Bila engkau memberi dari dirimu, itulah pemberian yang penuh arti.”

Ada banyak sekali kesempatan bagi kita untuk memberi atau berbagi. Kita bisa memberikan waktu, perhatian, energi, pemikiran, pengertian, pujian dan ucapan terima kasih. Kita juga bisa sekedar memberi senyuman. Hal-hal sederhana yang bisa berarti banyak dan bermanfaat bagi orang lain.

Keinginan untuk memberi atau berbagi tidak ada hubungannya dengan yang kita miliki. Ada orang kaya yang sulit berbagi. Ada pula orang pandai yang enggan berbagi pengetahuan yang dimilikinya. Kesemuanya hanyalah masalah pola pikir mereka yang terlalu mementingkan diri mereka sendiri.

Sebaliknya, ada orang sederhana tetapi senantiasa selalu ingin berbagi dengan orang lain. Mereka inilah orang kaya yang sesungguhnya. Yang membuat kita kaya bukanlah seberapa banyak yang kita miliki, namun seberapa banyak yang dapat kita berikan pada sesama.

Orang yang enggan memberi atau berbagi adalah orang yang tidak mau belajar dari kehidupan ini. Padahal esensi kehidupan adalah memberi. Tuhan sebagai sumber kehidupan adalah Sang Maha Pemberi, selalu memberi tanpa pilih kasih dan tidak peduli apakah orang itu baik atau jahat.  Itulah sebuah cinta tanpa syarat.

Masihkah Anda mengatakan bahwa Anda tidak memiliki apa-apa yang bisa dibagikan untuk orang lain? Barangkali pemberian Anda hanya sekedar tatap mata tulus ketika berbicara pada seseorang atau mungkin kata-kata dorongan semangat atau motivasi bagi mereka yang sedang putus asa dan dilanda kelemahan. Percayalah dan manfaatkanlah kekuatan memberi atau berbagi, hidup Anda pasti akan lebih berwarna dan bermakna.

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.

(Handojo Wibowo)