Saat Ramadan, Penjualan Kelapa Parut Naik 25 Persen

Pedagang kelapa parut di Pasar Grogol

Penjualan kelapa parut mengalami peningkatan pada awal Ramadan tahun ini. Hal itu disebabkan karena tingginya permintaan kelapa parut untuk santan. Tarjo salah seorang pedagang kelapa parut mengatakan, pada awal Ramadan penjualan meningkat sekitar 25 persen dari hari biasa.

“Biasanya jual 200 butir, sekarang puasa bisa sampai 250 butir, meningkatnya lumayan,” kata Tarjo di Pasar Grogol, Jalan Muwardi Raya, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, Senin (21/5/2018).

Ia mengatakan, penjualan akan terus meningkat hingga pertengahan bulan Ramadan.

“Nanti turun lagi seperti hari biasa pas tengah-tengah Ramadan, naik laginya selang berapa hari sebelum lebaran,” ujar Tarjo.

Meski permintaan meningkat, harga untuk kelapa parut sendiri tidak mengalami kenaikan.

“Kalau harga masib sama Rp 8 ribu per butirnya,” kata Tarjo.

Asep pedagang kelapa parut lainnya mengatakan, kelapa parut banyak dicari sebagai santan untuk keperluan memasak hidangan berbuka puasa.

“Iya naik penjualannya, soalnya banyak yang cari buat masak kolak, masak rendang kata yang belinya itu,” kata Asep.

Kenapa Ramadan Disebut Bulan Alquran?


Ramadan disebut bulan Alquran karena Allah SWT menurunkannya sekaligus dari Lauhul Mahfudz ke langit bumi, Baitul Izzah, pada malam 25 bulan Ramadan.

Sebagaimana riwayat Imam Ahmad dari Watsilah bin al Asqa’, Rasulullah SAW bersabda, Alquran diturunkan pada 24 malam di bulan Ramadan. Kemudian Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur sesuai dengan beberapa kejadian dan peristiwa.

Nabi SAW memprioritaskan bulan Ramadan dengan tadarrus, yaitu membaca Alquran secara bergantian dan saling simak dengan Malikat Jibril untuk mengkhatamkan Alquran.

Bahkan di bulan Ramadan terakhir menjelang Nabi SAW wafat, mengulang tadarrus dua kali. Tradisi tadarrus dan khataman inilah yang terus dilestarikan oleh ulama salaf.

Qatadah mengkhatamkan Alquran setiap Minggu, dan ketika masuk bulan Ramadan mengkhatamkan Alquran setiap tiga hari sekali. Pada sepuluh terakhir bulan Ramadan Qatadah mengkhatamkan setiap malam.

Imam Malik, pendiri mazhab Maliki sengaja menghentikan pengajian rutinnya (tawaqqufan) selama bulan Ramadan hanya karena ingin fokus untuk membaca Alquran serta mengkaji makna dan tafsirnya.

Menurut riwayat Rabi’ bin Sulaiman, bahwa Imam Syafi’i mengkhatamkan Alquran selama bulan Ramadan sebanyak enam puluh kali.

Sepantasnya bagi semua umat Muslim jangan menyia-nyiakan untuk menjadikan bulan Ramadan sebagai momentum untuk hidup bersama Alquran, selalu mengkaji dan membacanya setiap hari.

Selama Ramadan dapat berkomitmen untuk mengkhatamkan Alquran setiap Minggu, per sepuluh hari, atau minimal satu ayat setiap harinya, agar menjadi Muslim yang berpenampilan baik dan perilakunya elok.

Rasulullah SAW mengilustrasikan orang mukmin yang selalu membaca Alquran bagai buah utrujah (sejenis durian), aromanya wangi dan rasanya lezat. Orang mukmin yang tak rajin membaca Alquran bagai buah kurma yang tak ada aromanya meskipun rasanya manis.

Hadits ini menunjukkan Alquran adalah pedoman manusia yang menjadi panduan dalam menjalankan hidup yang baik di dunia dan selamat di akhirat. Alquran bagi Muslim ibarat buku panduan (manual book).

Jika diumpamakan kepada mobil atau alat elektronik, barang itu akan baik dan awet manakala penggunaannya mengikuti buku panduannya. Namun bagi Muslim tak cukup hanya hidup sesuai petunjuk Alquran tapi juga sangat dianjurkan terus membaca Kitab Suci karena membacanya selalu mengalirkan pahala dan rahmat Nya.

Perintah membaca

Oleh karena itu, perintah membaca menjadi ayat Alquran dalam ayat dan surat pertama yang turun secara berangsur kepada Rasulullah SAW di Gua Hira’. Saat itu turun perintah kepada Rasulullah untuk membaca meskipun Nabi SAW tak bisa membaca (ummi). Artinya membaca itu adalah jendela pengetahuan dan panduan untuk menjadi khalifah Allah di muka bumi.

Namun membaca untuk mendapat ilmu pengetahuan saja tak cukup, karenanya harus dibarengi dengan menyebut nama Allah sebagai landasan dari ilmu pengetahuan. Membaca dan menyebut nama Allah SWT adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan.

Keduanya bagai dua sisi mata uang. Orang yang membaca saja tanpa ingat kepada Allah SWT seringkali bersikap sombong karena ilmu yang diperolehnya. 

Demikian juga orang yang hanya mengedepankan keimanan tanpa dilandasi oleh pengetahuan yang cukup tentang ilmu agama acapkali mendatangkan kefanatikan membuta.

Membaca Alquran yang disertai dengan mengkaji kandungan isinya berarti telah mempelajari dasar dasar dari semua disiplin ilmu. Sebab seluruh cabang ilmu telah dibicarakan oleh Alquran secara global.

Selanjutnya, kajian Alquran dikombinasi dengan kajian Hadits Nabi SAW sebagai penjelas terhadap arti dan kandungan Alquran, ditambah dengan menelaah pendapat serta penelitian para ulama muslim terdahulu dari masa ke masa. Semua ini momentumnya ada pada bulan Ramadan.

Membudayakan Disiplin pada Diri Sendiri


“You dan’t have to change that much for it to make a great deal of difference. A few simple discipline can have a major impact on how your life works out int the next 90 days, let alone in the next 12 monts or the next 3 years.
“Anda tidak perlu berubah drastis untuk menciptakan perubahan besar dalam kehidupan Anda. Tetapi Anda hanya perlu menerapkan sedikit saja kedisiplinan, maka kehidupan Anda akan berubah pada 90 hari mendatang, bukan pada 12 bulan mendatang atau 3 tahun mendatang.” Jim Rohn
Penulis mengutip ungkapan dari Jim Rohn tersebut sebagai pengantar bahwa betapapun kecil kedisiplinan yang kita terapkan dapat menciptakan perubahan yang sangat signifikan dalam kehidupan kita. Bukan hanya Jim Rohn, para motivator dan pebisnis sukses di dunia ini mengungkapkan hal yang senada. Sementara kedisiplinan itu sendiri belum sepenuhnya membudaya dalam masyarakat kita.
Sebenarnya apa arti kedisiplinan? Saya berpendapat bahwa kedisiplinan adalah sikap mental untuk melakukan hal-hal yang seharusnya pada saat yang tepat dan benar-benar menghargai waktu. Pengertian tentang kedisiplinan mungkin sangat sederhana, tetapi sulit untuk menerapkan konsep-konsep kedisiplinan tadi hingga membudaya ke dalam kehidupan kita sehari-hari.
Contohnya mungkin Anda sudah mempunyai rencana-rencana yang ingin Anda wujudkan dalam minggu-minggu ini. Tetapi selepas liburan panjang atau sebab-seba lain; misalnya sudah puas dengan hasil pekerjaan yang lalu, merasa kehilangan momentum, menyerah atau meragukan prospek yang tergambar sebelumnya, Anda menjadi kurang bersemangat untuk bekerja kembali atau malas untuk memulai dan mengulur-ulur waktu.
Yang pasti banyak faktor yang dapat mengurangi tingkat kedisiplinan kita. Tetapi bukan berarti tidak dapat bersikap disiplin. Sedikit demi sedikit kita dapat melatih diri hingga konsep-konsep kedisiplinan itu benar-benar membudaya ke dalam kehidupan kita. Saya mempunyai sedikit gambaran mengenai tindakan-tindakan yang dapat memudahkan kita membudayakan kedisiplinan berdasarkan pengalaman dan pengamatan. Bila Anda berhasil melatih diri dengan menjalankan tips-tips di bawah ini, saya yakin Anda sudah mencapai kemajuan yang fantastis.
Tips yang pertama adalah memikirkan apa yang sebenarnya Anda inginkan. Saya yakin kita semua mempunyai banyak sekali keinginan. Putuskan keinginan yang paling memungkinkan Anda wujudkan sebagai target harian. Pastikan setiap hari Anda memiliki suatu target yang realistis, jelas dan spesifik. Pastikan juga Anda sudah berusaha maksimal dan berhasil merealisasikan target-target tersebut setiap hari. Cara ini akan melatih Anda bertindak disiplin, sebab Anda dituntut untuk memprioritaskan aktifitas-aktifitas yang memungkinkan tercapainya target-target tersebut.
Selanjutnya luangkan sedikit waktu untuk orang-orang yang Anda cintai, sedikitnya 5 sampai 10 menit di sela kesibukan setiap hari. Atau bila tidak sempat bertemu secara langsung, Anda dapat memanfaatkan sarana telekomunikasi, misalnya, telepon, internet, dan lain sebagainya. Tindakan itu sebenarnya sangat sederhana, tapi sangat tepat dan bermanfaat tidak saja terhadap hubungan eksternal melainkan memperbaiki hubungan dengan hati serta memenuhi kodrat kita sebagai makhluk yang membutuhkan cinta dan hubungan sosial.
Kemudian bila kita rutin melatih diri dengan berolah raga minimal 2-3 kali seminggu, berarti kita sudah melaksanakan program mendisiplinkan diri. Olah raga rutin menjadikan kesehatan kita membaik. Mensana in corporesano – di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula. Bila kondisi kesehatan membaik, maka secara otomatis penampilan kita akan lebih bugar, kepercayaan dan tingkat energi kitapun akan meningkat untuk bertindak cepat dan tepat menangkap peluang yang ada. Maka segera putuskan jenis olah raga yang sesuai dengan kesehatan dan kesenangan Anda.
Pengalaman saya selama mengikuti latihan kemiliteran, setiap pagi saya harus bangun pagi dan melakukan marching atau baris berbaris sambil mengucapkan ‘kiri kanan’ dan lain sebagainya sampai ribuan kali. Saya kira dalam peperangan hanya ada kata membunuh atau dibunuh! Sedangkan latihan fisik, misalnya kegiatan marching seperti itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan peperangan, di mana dalam organisasi itu kami dipersiapkan sebagai pasukan tempur. Belasan tahun berikutnya, saya baru menyadari bahwa proses latihan-latihan fisik tersebut telah menempa sikap mental saya untuk disiplin terhadap waktu serta gigih berjuang hingga menjadi yang terbaik meski harus menghadapi tantangan yang terberat sekalipun.
Sementara tips melatih kedisiplinan lainya adalah membiasakan diri hanya mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi serta menerapkan pola makan yang baik. Bukan berarti makanan kita harus mahal atau dibeli dari restoran elit. Contoh makanan yang sehat dan bergizi adalah bermacam jenis buah dan sayuran. Bila makanan kita selalu sehat dan bergizi, maka dapat dipastikan energi dan vitalitas kita meningkat untuk mengerjakan tanggung jawa secara tepat dan cepat hingga mencapai hasil yang terbaik.
Proses saat beribadah kepada Tuhan YME merupakan apresiasi terdalam dan mendapatkan kedamaian hati. Beribadah atau mendekatkan diri kepada Tuhan YME sebenarnya juga merupakan latihan kedisiplinan yang paling utama. Contohnya umat Islam dilatih disiplin, misalnya menjalankan sholat 5 kali sehari, umat Kristen dan Katolik sekali setiap hari Minggu, umat Budha setiap pagi dan sore, dan lain sebagainya. Kepatuhan untuk melaksanakan rutinitas ibadah sesuai aturan agama tentu saja melatih kedisiplinan, sekaligus memperkaya hati dan jiwa kita dengan kedamaian, percaya diri, kreatifitas dan energi cinta Tuhan Yang Maha Kuasa.
Sementarai itu, seluruh agama di dunia ini menganjurkan kita menjaga kebersihan baik secara internal maupun eksternal. Maka latihan kedisiplinan meliputi membiasakan diri menjaga kondisi di sekeliling kita agar selalu bersih dan teratur. Bila lingkungan kita bersih dan teratur, maka kita akan merasa lebih bebas dan senang, pikiran kita juga akan lebih jernih untuk menyelesaikan tugas dan mewujudkan target-target harian tadi.
Selepas kita mempraktekkan beberapa tips latihan mendisiplinkan diri seperti yang diuraikan di atas dan sudah mendapatkan kemajuan, maka tips latihan kedisiplinan pamungkasnya adalah menunda keinginan untuk berpuas diri “One of the best ways to develop discipline is to delay gratification” (Cara terbaik untuk meningkatkan kedisiplinan adalah menunda keinginan untuk berpuas diri). Perubahan bukan selalu pertanda buruk. Sebab penundaan untuk tidak berpuas diri dulu selama ini selalu menyebabkan karakter disiplin saya lahir kembali. Sekian lama saya ulangi tips tersebut sekali lagi dan seterusnya, tanpa saya sadari saya telah menciptakan banyak kemajuan dalam hal keuangan, hubungan sosial, spiritual dan bisnis.
Kedisiplinan menuntut kita melakukan hal-hal yang benar, tapi belum tentu kita sukai. Sebuah pepatah mengatakan, “If you would live your life with ease; do what you ought, not what you please”  (Jika kamu ingin mengisi kehidupanmu dengan kebahagiaan, maka selesaikan apa yang menjadi tanggung jawabmu, dan bukan hanya mengerjakan apa yang kau suka.” Meskipun melakukan hal yang benar awalnya tidak kita sukai. Tetapi bila kita mendisiplinkan diri dengan secara rutin melaksanakannya, maka berangsur-angsur kita akan menyukainya atau bahkan menjadi bagian dari kesadaran pribadi dan kita senang melakukannya.
Dengan menjadikan kedisiplinan sebagai bagian dari kesadaran atau budaya pribadi kita, berarti kita membangun dasar kehidupan yang kuat sebagai seseorang yang sukses dan selalu bersemangat. Orang-orang yang sukses adalah orang-orang yang selalu menerapkan kedisiplinan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Cobalah menerapkan kedisiplinan, dan Anda tidak akan pernah menyesal melakukannya. (Dikuti dari Buku Life is Wonderful karya Dr Andrew Ho)

Pendidikan Islam Sebagai Obat

Masih hangat dalam ingatan ketika seorang siswa dengan berani melawan guru yang menasihatinya hingga sang guru meninggal dunia. Kemudian seorang guru yang melakukan tindak kekerasan terhadap muridnya di hadapan teman-temannya. Kegiatan amoral yang dilakukan antara siswa dan siswinya, bahkan orang tua murid sampai berani melakukan tindak kekerasan ketika tidak terima anaknya diperlalukan kurang baik oleh gurunya walapun itu dalam rangka mendidik. Itu hanya beberapa contoh kasus yang terjadi, masih banyak lagi rentetan kasus memilukan yang terjadi dalam dunia pendidikan.

Pendidikan sejatinya adalah perubahan pola perilaku amoral menjadi bermoral, negatif menjadi positif, statis menajdi dinamis, apatis menjadi harmonis dan humanis, dan tidak hedonis serta tidak sekularistis. belum dapat dikatakan keberhasilan pendidikan jika output yang dihasilkan hanya menimbulkan permasalahan. Faktanya pendidikan saat ini masih terhegemoni oleh kecerdasan kognitif yang menjadi trend kebanggaan bagi kebanyakan subjek pendidikan. Sementara kecerdasan berakhlak terlupakan. Justru inilah virus yang menyebabkan timbulnya penyakit yang mengancam bangsa ini ke depan, yakni kehilangan generasi.

Bangsa Indonesia saat ini berada dalam kurva penduduk berbentuk piramida di mana usia muda sangatlah banyak digadang-gadang pada tahun 2030 Indonesia akan mendapatkan bonus demografi. Namun apakah bonus tersebut nyata atau hanya sekedar utopia dan menjadi beban negara? Jika saat ini krisis akhlak dalam pendidikan masih menghegemoni maka nol besar bonus demografi tersebut.

Pada kenyataan di lapangan ternyata kita masih dihadapkan pada permasalahan generasi muda yang pelik. Pada tahun 2005 jumlah kasus AIDS pada usia 15-29 tahun mencapai angka 2140 kasus. Sedangkan pada tahun 2016 lalu kasus pengidap AIDS pada usia 15-29 tahun meningkat tajam menjadi 4838 kasus. Secara komulatif AIDS yang diderita oleh anak sekolah/mahasiswa sebanyak 2034 kasus terhitung sejak tahun 1987-2017 ini.

Pada kasus lainnya berdasarkan perkiraan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), sekitar 2 juta kasus aborsi terjadi setiap tahunnya di Indonesia. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) 20-60% aborsi di Indonesia merupakan aborsi disengaja (induced abortion). Padahal payung hukum larangan Aborsi sudah tercantum dalam KUHP pasal 346, 347, 348 (ayat 1 dan 2), 349, PP No. 61 tahun 2014, dan UU Kesehatan No. 23 tahuan 1992. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan aborsi masih tinggi dan daya ancam dari payung hukum yang berlaku tidak membuat takut para pelaku praktik aborsi.

Penyakit kehilangan generasi ini semakin nyata di mana identitas diri dan jati diri tidak lagi dihargai. Penyebabnya disebabkan oleh menjamurnya seks bebas, pergaulan bebas, minuman keras dan narkoba yang menurunkan fungsi akal untuk berfikir positif. Orang tua yang memberikan kebebasan serta terlalu memanjakan anak-anaknya. Tidak adanya kontrol dan pengawasan dalam memperlakukan anak-anak. Tidak ada kendali mendasar yang tertanam dalam diri anak. Tidak adanya aturan yang mengatur kebebasan bercampur baur dengan lawan jenis di segala bidang sehingga peluang kehilangan kehormatannya semakin besar serta peluang terjerumus pada kesukaan sesama jenis semakin terbuka lebar. Bagaimana tidak berbahaya, karena penyakit kehilangan generasi tersebut akan mengakibatkan hancurnya keluarga di masa depan, hilangnya kehidupan di masa mendatang.

Langkah benar yang dapat di ambil untuk mencegah penyakit kehilangan generasi yaitu dengan menerapkan pendidikan Islam yang merupakan obat untuk permasalahan yang terjadi dalam dunia pendidikan saat ini. Pendidikan Islam telah mempersembahkan sistem pendidikan yang paripurana mulai dari asas pendidikan, metode, jalan, dan solusi dari setiap permasalahan. Syaikh Abdurrahman al-Bani menjelaskan pendidikan Islam terdiri atas empat unsur, yaitu: 1). Menjaga dan memelihara fitrah anak menjelang baligh, 2). Mengembangkan seluruh potensi dan kesiapan yang bermacam-macam, 3). Mengarahkan seluruh fitrah dan potensi ini menuju kepada kebaikan dan kesempurnaan yang layak baginya, serta 4) Prosesnya dilakukan secara bertahap “sedikit demi-sedikit”.

Konsep pendidikan dalam Islam menekankan pada aspek katauhidan atau aqidah, akhlak, dan akal. Kecerdasan kognitif tidak serta merta menghegemoni karena yang menjadi pondasi kecerdasan adalah aqidah dan akhlak. Secara mutlak pendidik sesungguhnya adalah Allah Swt. pencipta fitrah dan pemberi berbagai potensi. Dialah yang menentukan tahapan perkembangan manusia serta interaksinya, serta hukum untuk mewujudkan kesempurnaan, kebaikan dan kebahagiaan.

Jelas bahwa seorang pendidik harus mengikuti aturan penciptaan dan pengadaan yang dilakukan Allah Swt. sebagiamana harus mengikuti syariat dan Agama Islam. Semakin tinggi level kecerdasan yang dimiliki maka semakin meningkat pula rasa tawadhu-nya. Hingga tidak ada lagi kasus-kasus memilukan yang terjadi antara pendidik, peserta didik, masyarakat, serta sistem pendidikannya karena standar pendidikan Islam adalah Al-Quran dan As-sunnah yang mengatur kehidupan secara komprehensif. (Wawang Nurfalah)

16 Tradisi Menyambut Ramadan di Indonesia


Indonesia sebagai negara dengan mayoritas muslim memiliki berbagai tradisi jelang Ramadan. Bukan hanya kata-kata menyambut bulan Ramadan saja yang ramai, tradisi khas menjelang bulan Ramadan juga enggak kalah ramai.

Tradisi-tradisi ini bisa ditemui di hampir semua penjuru tanah air. Tradisi yang sudah ada sejak ratusan tahun ini masih terpelihara sampai sekarang.
Biasanya masyarakat akan menggelar acara-acara menyambut bulan puasa dengan sangat meriah. Walaupun caranya berbeda-beda tradisi menyambut bulan Ramadan di Indonesia ini memiliki semangat yang sama. Nah ini dia 16 tradisi unik menyambut bulan suci Ramadan di Indonesia.

1. Munggahan

Tradisi munggahan biasanya dilakukan oleh keluarga dari tanah Sunda, tradisi menyambut bulan Ramadan ini selalu dilakukan setiap tahunnya. Masyarakat Sunda di Jawa Barat memanfaatkan momen seminggu atau dua minggu sebelum bulan puasa untuk berkumpul bersama orang-orang terkasih. Bukan hanya bersama keluarga munggahan ini juga bisa dilakukan dengan teman-teman dan rekan kerja. Di dalam munggahan biasanya ada satu momen untuk saling meminta maaf untuk mempersiapkan diri menuju bulan puasa yang suci.

2. Megibung


Walaupun mayoritas masyarakat Bali beragama Hindu, tradisi menjelang puasa yang dilakukan oleh muslim Bali juga enggak kalah dengan upacara keagamaan Hindu. Tradisi Megibung biasanya dilakukan muslim Bali menjelang bulan puasa. Acara makan yang diselingi dengan obrolan ringan ini telah menjadi sebuah budaya yang berasal dari Karangasem, Bali. Megibung ini juga bisa diartikan sebagai makan bersama. Jadi dalam satu jamuan makan satu porsi nasi dan lauk pauk akan dimakan oleh sekitar 4-7 orang.

3. Padusan


Salah satu cara yang dipercaya untuk bisa menyucikan diri adalah dengan cara mandi atau berendam di laut atau sumber-sumber air yang dianggap keramat. Masyarakat Boyolali juga masih mempercayai tradisi seperti ini. Setiap menjelang bulan Ramadan masyarakat Boyolali akan beramai-ramai mendatangi air terjun atau sumber air lainnya yang dianggap keramat. Mereka akan beramai-ramai mandi dan berendam di sumber air ini karena kepercayaan mereka air bisa menyucikan diri sebelum masuk ke bulan puasa.

4. Jalur Pacu

Berbeda dengan tradisi di daerah lain Riau menyambut Ramadan dengan tradisi yang mirip dengan pesta rakyat. Menjelang bulan puasa masyarakat Riau akan bersiap-siap untuk menggelar acara Jalur Pacu. Tradisi ini disambut dengan suka cita karena masyarakat akan beramai-ramai memenuhi sungai untuk melihat perlombaan dayung yang disebut dengan Jalur Pacu. Perlombaan ini akan diakhiri dengan tradisi Balimau Kasai yang punya arti bersuci menjelang matahari terbenam sampai malam.

5. Nyorog


Jika masyarakat Sunda memiliki kebiasaan makan bersama jelang bulan puasa, orang Betawi punya tradisi yang agak berbeda. Tradisi Nyorog ini selalu dilakukan setiap memasuki bulan Ramadan. Nyorog adalah kegiatan membagikan bingkisan ke anggota keluarga atau tetangga dalam rangka menyambut bulan  suci Ramadan. Tradisi ini biasanya dilakukan orang yang lebih muda ke orang yang usianya lebih tua. Tujuannya adalah untuk meminta restu kelancaran ibadah puasa selama satu bulan.

6. Malamang


Makanan menjadi bagian penting di berbagai tradisi Minangkabau, Sumatra Barat. Begitu juga untuk merayakan hari-hari penting keagamaan salah satunya ketika menyambut bulan Ramadan. Setiap menjelang bulan puasa masyarakat Minangkabau akan beramai-ramai membuat lamang atau lemang yang terbuat dari ketan.  

7. Dugderan


Tradisi Dugderan masyarakat Semarang ini sudah dilakukan sejak tahun 1881 yang sampai sekarang masih dilakukan. Bedanya Dugderan zaman sekarang sudah menjadi pesta rakyat yang rangkaian acaranya ada tari-tarian, karnaval, dan tabuh bedug. Di setiap Dugderan pasti Warak Ngendong yang jadi simbol acara ini diarak dan ikut dalam karnaval. Biasanya karnaval akan dimulai dari Balai Kota dan berakhir di Masji Kauman.


8. Meugang


Masyarakat Aceh juga mempunyai tradisi yang sama uniknya untuk menyambut bulan Ramadan. Tradisi memasak daging dan menikmatinya bersama orang terkasih dan yatim piatu di Aceh ini bernama Meugang. Acara Meugang ini hampir mirip dengan Idul Adha di mana masyarakat beramai-ramai menyembelih kurban berupa kambing atau sapi. Meugang sampai sekarang masih terpelihara baik, biasanya di desa-desa sudah sibuk menyiapkan Meugang sehari sebelum memasuki bulan Ramadhan. Sedangkan di kota Meugang dilaksanakan selama dua hari. Tradisi Meugang ini menjadi sebuah keharusan karena masyarakat Aceh percaya kebaikan dan keberkahan yang terjadi 11 bulan lalu wajib disyukuri dengan cara Meugang.

9. Dandangan


Walaupun masih di tanah Jawa tradisi menjelang bulan puasa di tiap daerah pasti berbeda-beda. Di Kudus, Jawa Tengah tradisi Dandangan selalu mengisi acara menjelang bulan puasa. Tradisi Dandangan ini sudah ada sejak 400-an tahun lalu yang dimulai dari zaman Sunan Kudus. Acara pesta rakyat ini selalu dihadiri oleh masyarakat Kudus dan sekitarnya. Dandangan ini digelar dengan pasar malam yang menjual berbagai kebutuhan rumah tangga.

10. Balimau


Selain membuat lamang atau lemang, masyarakat Minangkabau juga menyambut bulan Ramadan dengan Balimau. Tradisi mandi menggunakan jeruk nipis ini dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di dekat aliran sungai atau tempat mandi. Balimau adalah tradisi secara turun menurun yang dipercaya sudah berlangsung berabad-abad lamanya. Tradisi mandi dengan jeruk nipis ini bertujuan untuk membersihkan diri secara lahir dan batin.

11. Perlon Unggahan


Seperti kebanyakan muslim di Indonesia tradisi ziarah kubur pasti mewarnai perayaan jelang bulan suci Ramadan. Pelon Unggahan atau ziarah kubur yang dilakukan di Desa Pekuncen, Banyumas yang ada di Jawa Tengah ini dilakukan seminggu sebelum memasuki bulan Ramadan. Bedanya dengan ziarah umum pada umumnya adalah Pelon Unggahan diawali dengan ziarah kubur ke makam Bonokeling. Orang yang berziarah ke makam Bonokeling diharuskan melepas alas kaki sambil menjinjing nasi ambeng makanan khas Banyumas. Setelah melakukan ziarah warga Banyumas akan melakukan acara makan bersama-sama untuk menjaga tali silaturahmi.

12. Ziarah Kubro


Masyarakat Palembang biasanya melakukan ziarah ke makam-makan para leluhur dan juga ulama. Ziarah ke makam-makam para ulama ini disebut dengan Ziarah Kubro. Biasanya tradisi ini dilakukan di pemakaman Kawah Tengkurep 3 Illir, di sini para ulama-ulama Palembang dimakamkan.

13. Suro’baca


Suro’baca tradisi jelang Ramadan yang masih terpelihara di Makassar ini selalu dilakukan turun temurun di kalangan suku Bugis. Acara ini biasanya dilakukan pada akhir bulan Sya’ban atau H-7 sampai dengan satu hari menjelang bulan Ramadan. Acara makan bersama sekaligus silaturrahmi ini juga biasanya diisi dengan berdoa bersama dan diakhiri dengan ziarah ke makam para leluhur.


14. Megengan


Surabaya juga punya tradisi unik yang wajib dilakukan setiap menjelang bulan puasa. Tradisi Megengan ini masih dilakukan sampai sekarang. Megengan adalah kegiatan memakan kue apem sebagai bentuk menyucikan diri. Apem ini mirip dengan pelafalan kata ‘afwan’ dari Arab yang mempunyai arti maaf. Selain memakan kue apem warga juga melakukan tahlilan untuk mendoakan mendiang saudara yang terlebih dahulu pergi.

15. Nyadran


Ziarah ke kuburan leluhur menjadi sebuah kegiatan wajib yang dilakukan oleh masyarakat Jawa. Begitu juga ziarah kubur jelang bulan puasa yang disebut dengan Nyadran. Tradisi Nyadran ini biasanya dilakukan oleh masyarakat Jawa Tengah. Nyadran adalah tradisi pembersihan makam yang umumnya dilakukan di pedesaan. Selain membersihkan makan leluhur dan tabur bunga masyarakat Jawa Tengah juga melakukan selamatan atau kenduri di makam leluhur.

16. Gebyar Ki Aji Tunggal


Berbeda lagi dengan di Jepara, Jawa Tengah masyarakat di sini selalu mengadakan karnaval sebelum memasuki bulan puasa. Masyarakat di Desa Karangaji, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah melangsungkan tradisi arak-arakan Gebyar Ki Aji Tunggal. Arak-arakan ini dilakukan rutin di bulan Sya’ban dalam kalender Hijriyah atau bulan Ruwah dalam kalender Jawa.  Karnaval ini bertujuan sebagai ajang silaturrahmi dan ungkapan rasa syukur atau jasa pendahulu yang memberikan nilai-nilai kehidupan.

Demikian beberapa tradisi menyambut ramadan yang berlangsung di Indonesia dari tahun ke tahun dan sebenarnya masih banyak lagi. Semoga bermanfaat!

JANGAN HANCURKAN DAKWAH DENGAN SIKAPMU YANG NGAWUR DAN TIDAK DEWASA

KH. Mustofa Bisri (Gus Mus)

Saya kadang merasa aneh melihat saudara saya umat Islam yang memiliki sifat seperti anak-anak, ingin menang sendiri, mudah marah dan memaksakan kehendaknya agar orang lain sama dengan dirinya….

Padahal Alquran sudah mengatakan untuk Berbuat Adil karena itu bisa mendekatkan kepada ketaqwaan….

Tapi begitulah sifat anak2 kadang tidak bisa menerima nasehat yang baik sekalipun untuk dirinya sendiri.

Atheis dimusuhi karena tidak bertuhan.
Bertuhan dimusuhi karena tuhannya beda.
Tuhannya sama dimusuhi karena nabinya beda.
Nabinya sama dimusuhi karena alirannya beda.
Alirannya sama dimusuhi karena pendapatnya beda.
Pendapatnya sama dimusuhi karena partainya beda.
Partainya sama dimusuhi karena pendapatannya beda.
Apa kamu mau hidup sendirian di muka bumi untuk memuaskan nafsu keserakahan?

Kau tahu apa yang dilakukan Sayyidul Wujud Muhammad SAW pada seorang Yahudi tua yang tiap hari meludahi & melempari kotoran padanya? Ia jenguk dan doakan sang Yahudi ketika Yahudi itu sakit.
Kau tahu apa yang dilakukan Muhammad SAW pada seorang Yahudi buta yang tiada hari tanpa mencacinya? Ia suapi setiap hari dengan tangannya sendiri yang mulia tanpa sang Yahudi tahu bahwa yang menyuapinya adalah Muhammad SAW yang selalu ia caci.
Itulah Islam. Ber-Islamlah seperti Islam-nya Muhammad SAW, bukan Islam ala egomu.
Jangan sampai kau hanya ber-Islam, tapi kau kehilangan Muhammad SAW
Jangan lemahkan Islam yang kuat dengan tindakan kerdilmu.
Jangan hinakan Islam yang suci dengan perbuatan nista. (Gus Mus)

Pendidikan Instrumen Tepat Tangkal Radikalisme dan Terorisme

Juri Ardiantoro


Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta (IKA UNJ) Juri Ardiantoro mengungkapkan keprihatinannya atas rentetan aksi terorisme di sejumlah tempat. Sebagai lembaga yang banyak menaungi alumni di bidang pendidikan, pihaknya menegaskan bahwa pendidikan instrumen penting untuk menangkal radikalisme dan terorisme.
Yang menjadi perhatian IKA UNJ, lanjut Juri, ialah usia sebagai para pelaku yang masih belia. Usia di mana mereka semestinya sedang belajar, baik di sekolah, pesantren maupun di kampus-kampus.
“Pada konteks inilah, instrumen pendidikan menjadi sangat relevan untuk menangkal potensi tindakan radikal dan teror, sekaligus tantangan dunia pendidikan untuk mengembalikan institusi pendidikan dalam menyemaikan nilai-nilai humanisme, nilai-nilai kemanusiaan sebagai modal untuk membangun harmoni sosial dan kebangsaan yang beragam,” ujar Juri di Jakarta, Senin (14/5).
IKA UNJ mendesak kepada pemerintah, di samping memperkuat instrumen intelijen untuk mendeteksi segala indikasi tindakan kekerasan dan teror, memperkuat dan meningkatkan keterampilan aparat keamanan untuk mengatasi aksi-aksi kekerasan dan teror.
“Serta melakukan penegakan hukum yang tegas atas pelaku yang telah terbukti melakukan tindakan kekerasan dan teror,” tegas Juri.
IKA UNJ juga mendesak seluruh institusi pendidikan, baik sekolah-sekolah, pesantren-pesantren, lembaga-lembaga pendidikan agama lain, dan kampus-kampus untuk mengevaluasi sistem dan materi pendidikan.
Di samping memupuk keterampilan dan kemampuan peserta didik menghadapi berbagai tantangan perubahan jaman yang sangat cepat, juga saat yang sama untuk kembali memperkuat pendidikan karakter yang menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan, kemanusiaan pada masyarakat yang plural.
“Pendidikan harus dapat menangkal dan menolak tindakan biadab yang mengorbankan manusia untuk kepentingan, ambisi, dan latar belakang apapun yang akan merobek-robek harmoni kehidupan antar-umat manusia di manapun,” tandas Juri.
Aksi terorisme berulang, 14 Mei 2018 Pukul 08.50 WIB telah terjadi ledakan bom di Markas Poltabes Surabaya yang memakan korban dan tidak menutup kemungkinan peristiwa seperti ini akan berulang.
Sebelumnya telah terjadi berbagai rentetan aksi terror dan penangkapan terduga pelaku terror telah berlangsung dalam waktu singkat pada minggu ini, yakni penyanderaan dan teror yang menewaskan 5 anggota polisi sepanjang 8-10 Mei 2018.
Sehari setelahnya, di Mako Brimob terjadi penusukan kepada anggota Brimob Briptu Bripka Marhum Frenje 11 Mei 2018 dini hari. Selanjutnya penangkapan empat terduga teroris di Tambun Bekasi pada 10 mei 2018 dan disusul penangkapan 2 perempuan muda yang diduga akan melakukan penusukan di Mako Brimob pada 12 Mei 2018.
Teror selanjutnya yang mampu menyedot perhatian dunia internasional, yakni pengeboman di beberapa gereja di Surabaya yang memakan korban nyawa dan luka-luka pada 13 Mei 2018, kemudian diikuti peledakan bom di sebuah Rusunawa di Sidoarjo yang memakan korban pelaku dan keluarganya pada hari yang sama yang menyebabkan 17 orang meninggal dunia.
Terhadap berbagai peristiwa dan aksis teror ini, IKA UNJ mengutuk keras tindakan biadab dan antikemanusiaan ini dengan alasan apapun. IKA UNJ juga menyampaikan duka belasungkawa mendalam kepada para korban seraya mendoakan semoga keluarganya diberi kesabaran.
IKA UNJ mengajak masyarakat untuk tetap tenang, tidak mengambil tindakan main hakim sendiri dengan tetap wasapada pada setiap tindakan yang berpotensi teror.

Puasa Sebagai Tradisi


Di kantor sebuah media ada seorang wartawan, ahli kriminologi, yang gerak- gerik dan segenap tingkah lakunya diamati wartawan yang lain. 
Secara rutin wartawan itu tak menyentuh minuman yang disediakan di meja kerjanya pada setiap hari Senin dan Kamis. Diperlukan waktu lama untuk meyakinkan bahwa memang bukan hanya kebetulan sahabatnya tak menyentuh minuman tersebut. Pada hari-hari itu sudah menjadi tradisi bagi wartawan ahli kriminologi tadi untuk tidak meminum minumannya pada siang hari, setiap hari-hari yang disebutkan tadi. Dia tahu sahabatnya itu berpuasa Senin-Kamis. 
”Jadi minumanmu boleh kuambil bukan?” tanya sahabatnya itu sambil memindahkan gelas panjang itu ke mejanya. ”Ambillah,” jawab si ahli kriminologi sambil tersenyum ikhlas. ”Terima kasih. Kudoakan kau cepat naik pangkat menjadi pemred.” Di luar kantor, wartawan ahli kriminologi tadi bercerita pada sahabatnya, bukan seorang wartawan, bahwa lama-lama dia merasa kurang enak karena dia berpuasa rutin setiap Senin dan Kamis dikiranya demi pamrih untuk segera naik pangkat. “Padahal, aku berpuasa untuk berpuasa itu sendiri.”
Di dalam kehidupan rohani orang Jawa, berpuasa Senin-Kamis, atau pada hari-hari lain, bertepatan dengan hari kelahirannya, memang memiliki arti khusus dan tujuan khusus. Mungkin puasa-puasa seperti itu untuk ”mengolah” kehidupan pribadi dari dalam untuk melatih ketenangan, kesabaran, dan sikap ”sumarah ” pada Tuhan Yang Mahakuasa. 
Berpuasa dianggap bagian dari strategi membikin nonaktif segenap nafsu yang perlu dikendalikan. Tapi, tak jarang sikap ”prihatin” itu untuk menjadi sarana meraih tujuan-tujuan praktis duniawi. Bagi pegawai, puasa itu memang demi kenaikan pangkat atau agar disayangi atasan. Bagi pedagang, amalan itu menjadi sarana meraih sukses besar agar cepat berkembang. 
Pendeknya, jalan rohani itu ada yang demi kepentingan rohani, ada pula yang demi kepentingan materi. Ini tergantung pada orangnya. Di dalam tradisi Jawa kedua-duanya dianggap sah dan boleh ditempuh dalam kehidupan ini. Berpuasa dalam versi lain, yang ditempuh dalam sehari semalam secara ”full ”, juga sudah menjadi suatu tradisi. Motif dan tujuannya pun bermacam-macam. Jenis puasa dalam tradisi Jawa ini tampaknya tidak khas Jawa. 
Pada etnis-etnis lain di seluruh Nusantara ada pula jenis puasa serupa. Seperti di dalam tradisi Jawa, ada pula yang tujuannya untuk meraih kesaktian. Lagi pula jenis kesaktian di sini sangat bervariasi. Ada kesaktian tingkat sederhana, sekadar tidak mempan senjata tajam. Ada tradisi puasa yang tujuannya agar tidak tertembus peluru atau antipeluru. 
Ada yang dimaksudkan untuk bisa menghilang atau tidak terlihat oleh pihak lain, dan masih banyak variasi kesaktian yang hendak diraih melalui tradisi puasa tadi. Ini jenis amalan yang biasanya tak bisa dijalankan sendiri. Di dalam tradisi Jawa maupun tradisi Nusantara pada umumnya, biasanya ada guru yang membimbing dan mengamati dari ”jauh”. Biasanya, ketika melatih muridnya berpuasa seperti itu sang guru juga ikut berpuasa. 
Guru tidak sekadar menjadi pengamat yang berjarak. Dalam urusan rohaniah seperti itu sang guru terlibat. Dia ”melihat” bukan dari kejauhan, tetapi dari dekat, bukan dari ”luar”, melainkan dari ”dalam”. Berpuasa yang sudah menjadi tradisi itu terpelihara dengan baik melalui mekanisme dan variasi yang bermacam-macam coraknya. Tiap etnis memiliki jenis kearifan tersendiri. 
Lagi pula, etnis yang satu tak bersaing dengan etnis yang lain. Jalan rohani mungkin memang tak mengenal persaingan. Memang ada efek rohaniah yang lebih dalam bagi seorang murid dan kelihatan biasa-biasa saja pada murid yang lain. Tetapi, murid yang satu tidak bersaing dengan murid yang lain. Jika berpuasa untuk sesuatu yang rohaniah sifatnya, terutama bila demi kesalehan yang tulus kita kaya akan tradisi. 
Tiap tradisi memiliki makna yang mendalam. Ada makna ”bumi” sekaligus makna ”langit”, makna ”profan” sekaligus makna ”kudus”, makna ”manusiawi” sekaligus makna ”ilahi”. Kelihatannya, berpuasa dalam konteks kebudayaan Nusantara itu merupakan sebuah ”perjalanan”. Di sana manusia Nusantara sedang berjalan ”mencari” atau ”menuju” dirinya sendiri. Kapanberpuasajenisitulahir di bumi kita ini, kita tidak tahu. 
Di dalam kitab suci ada disebutkan bahwa berpuasa sudah menjadi kewajiban bagi umat manusia sejak zaman nabi-nabi yang lebih tua. Berpuasa sebagai kewajiban ”baru” bagi umat manusia dimulai lagi pada masa kenabian Rasulullah, Gusti Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Inilah puasa yang menjadi rujukan kita.
Kita berpuasa tidak untuk kepentingan pribadi, tidak untuk naik pangkat, tidak pula untuk meraih sukses dalam perdagangan maupun untuk memperoleh kesaktian. Di sini berpuasa itu sebagai wujud sebuah ketulusan, sebuah pengabdian. Kita berpuasa untuk Allah. Tapi, Allah tak mengambilnya secara mutlak. Kita, yang berpuasa, diberi suatu kenaikan derajat rohaniah yang tinggi; derajat orang takwa. 
Kita menjadi takwa. Setidaknya kita mencalonkan diri untuk bisa meraih derajat tinggi itu. Kita ikhlaskan puasa kita untuk Allah dan imbalannya, Allah melimpahkan kemurahan tak terhingga, membuat kita bisa mencapai derajat orang yang bertakwa tadi. Apakah setiap hamba yang berpuasa otomatis bisa meraih derajat takwa itu? Apakah takwa itu bonus bulanan yang gratis bagi setiap hamba-Nya? Tiap hamba yang berpuasa berharap begitu. 
Tapi, Allah tahu, puasa tiap hamba tidak sama. Ada yang berpuasa dan sepanjang hari kerjanya hanya menengok jam, menantikan datangnya saat berbuka. Berpuasa seperti itu apa tak berarti bahwa sebenarnya dia telah berbuka setiap saat, ketika memandang jarum jam dengan rasa tidak sabar? Apakah puasa seperti itu masih bisa disebut puasa? Ada yang berpuasa dengan niat ikhlas, tapi sebenarnya yang dibayangkan bukan Allah Yang Mahamurah, melainkan tercapainya urusan-urusan duniawi yang membuatnya menjadi orang sukses dan jaya. 
Di sini dia berpuasa untuk sesuatu yang bersifat duniawi. Apakah puasa seperti ini yang disebut puasa untuk Allah semata? Apakah puasa seperti ini juga bisa disebut puasa? Berpuasa itu amalan yang sangat pelik. Ikhlas dan tidak ikhlas tak begitu mudah kita nilai sendiri. Sebaiknya, bila kita ingin betul- betul ikhlas, kita tak usah membuat penilaian. 
Mungkin sebaiknya kita beristigfar, mohon ampun, dengan rasa khawatir bahwa kita telah dihinggapi sikap tidak ikhlas. Kita mohon ampun karena kekhawatiran, puasa kita mengandung motivasi lain selain ketulusan. Lalu, kita persembahkan puasa kita itu kepada Allah dengan kerendahan hati bahwa hanya inilah yang hamba mampu lakukan. 
Bahwa kita mohon yang kurang-kurang digenapkan, yang keliru-keliru dibetulkan, yang bengkok-bengkok diluruskan. Kita tak henti-hentinya mengetuk pintu-Nya, dan dengan kekhawatiran tak dibukakan- Nya. Tapi, tugas kita hanya mengetuk. Dibuka atau tidak bukan urusan kita. 
Berpuasa, bagi kita, merupakan jalan membangun tradisi untuk bisa menjadi hamba yang tulus. Kalau tidak bisa, kita mohon agar Allah membuat kita menjadikan kita dengan roda-Nya agar kita menjadi orang tulus tadi. (M. Sobary)

Puasa Sebagai Antiadiksi


Puasa adalah ajaran umat pada semua agama. Kendati ada perbedaan dalam ritus, filosofi yang melingkupi sama, yaitu mengontrol hawa nafsu dan ego, serta mempertebal kepedulian terhadap orang lain. Dalam Islam, sejak Nabi Muhammad saw, konsep puasa hingga kini tidak banyak berubah.

Konsep itu adalah berpantang makan dan minum, termasuk berperilaku yang dianggap perlu untuk dijauhi pada saat tertentu. Konsep ini sebenarnya menjadi pelajaran mudah untuk menghadapi kesulitan hidup. Banyak orang merasa tidak bisa hidup tanpa rokok, misalnya. Banyak orang merasa tak bisa hidup tanpa makan dan minum yang terkontrol.

Banyak orang tak dapat menguasai nafsu inderawi mereka. Dengan berpuasa, terutama pada bulan Ramadan, kita bisa mengatasi semua keberatan di bawah alam sadar itu. Dalam kondisi tertentu, orang berpuasa mengeluarkan asam lambung, dan dengan tidak adanya makanan, bisa menyebabkan sakit maag.

Tetapi dengan sugesti pribadi atau autosugesti, dengan mudah otak bisa diperintah mengubah ritme harian sehingga yang seharusnya menyuruh lambung mengeluarkan asam pada jam tertentu, bisa tidak jadi ke luar. Faktor Adiksi Realitas itu mengajarkan bahwa tubuh punya mekanisme sangat sempurna untuk mengatasi problem sehari-hari. Susunan kimia dan darah dalam tubuh bisa berubah, menyesuaikan diri, sehingga tak ada gangguan patologi ketika orang itu berpuasa.

Adiksi atau kecanduan, terutama terhadap narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif (napza) dan rokok merupakan tantangan berat bagi pecandu. Bila rasa ketagihan itu datang, dalam istilah kecanduan disebut giting, tubuh seperti memaksa untuk memenuhi akan zat itu. Bila tidak dipenuhi, tubuh mengeluarkan hormon nyeri seperti prostaglandin dan serotonin yang membuat semua saraf merespons dengan rasa nyeri luar biasa. Orang yang kecanduan narkoba berat, seperti heroin (putaw) atau morfin akan mengeluarkan banyak kormon sehingga ia akan merasakan nyeri luar biasa.

Sedemikian sakitnya, ia bisa menangis, berteriak, mengeluarkan peluh, mata merah, kejang dan lain-lain. Beberapa orang yang tidak kuat akan menyakiti diri, bahkan bunuh diri. Dalam rumah perawatan korban narkoba, pasien dibiarkan menderita kesakitan, hanya dihindarkan dari upaya menyakiti diri dengan cara diikat atau diawasi secara ketat. Pada panti rehab berbasis Islam, keadaan sakaw itu kerap diatasi dengan terapi mandi diguyur air dingin. Konsep pengobatan itu disebut Cold Turkey. Adapun rumah sakit sering menggunakan model substitusi atau tapering off, yakni pecandu diberi obat dengan dosis menurun sehingga secara alami hormon sakit dan nyaman (endorfin) menjadi seimbang.

Menghilangkan sakaw tidaklah sulit, yang sulit adalah bagaimana mempertahankan abstinen (tidak memakai drug) selama mungkin. Beberapa dokter patologi anatomi menemukan jejak di dalam otak ketika seseorang menggunakan narkoba dalam jangka lama. ’’Cacat’’ itu sering dianggap bahwa proses kecanduan akan terjadi pada seseorang seumur hidup. Niat Kuat Puasa terbukti membuat konsep diri, baik pada alam sadar maupun bawah sadar, berubah sesuai keinginan dan niat.

Begitu juga dalam kasus adiksi. Seseorang yang punya motivasi kuat menghentikan kecanduan narkoba, dengan niat teguh, ia bisa menghentikan proses kimia dalam tubuh yang membuatnya ketagihan. Niat untuk sembuh akan menekan hormon prostaglandin yang dilepas oleh kelenjar neurotransmitter. Penelitian yang dilakukan para ahli tentang kecanduan menunjukkan bahwa niat untuk berhenti dan puasa narkoba, membuat produksi hormon sakit berkurang dan sebaliknya hormon nyaman meningkat.

Dari dasar itulah maka pengobatan pecandu narkoba jenis berat seperti putaw dengan metoda therapeutic community ataupun napza anonymous, mengedepankan konsep niat tersebut. Tiap pagi, siang, dan malam, pasien disuruh membaca atau menghafal kalimat yang isinya perasaan ketidakberdayaan menghadapi kecanduan dan memohon pertolongan Tuhan melalui doa untuk dikuatkan menghadapinya dan supaya tidak muncul kecanduan. Realitasnya dengan konsep niat dan berpuasa, kecanduan itu bisa hilang.

Proses selanjutnya adalah bagaimana mempertahankan tidak kecanduan selama mungkin. Konsep niat dan puasa bila dilakukan terus menerus, mampu menekan rasa kecanduan hingga hilang sendiri. Ibarat berpuasa Senin Kamis atau puasa ala Nabi Daud as, maka pecandu yang menerapkan konsep puasa disertai penguatan diri dan lingkungan, akan terhindar dari kecanduan. Sehari-hari kita sering melihat efek puasa pada kecanduan rokok. Banyak orang mengatakan tak bisa meninggalkan rokok. Bila ia menghentikan maka ia akan sakaw, yang ditandai dengan rasa tak nyaman, bingung, sulit berpikir dan sebagainya.

Acap mereka konsultasi ke dokter tapi gagal menghentikan kecanduannya walau mendapat terapi. Faktanya, ketika Ramadan tiba, dengan sepenggal niat puasa maka mekanisme kimia yang selama ini membuatnya kecanduan rokok langsung hilang. Kini kita senyatanya bisa melihat bahwa puasa sebenarnya merupakan obat bagi kecanduan apa pun, termasuk narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif (napza), rokok, dan sebagainya. ’’Obat’’ itu terbukti sangat manjur dan murah. (Budi Laksono)

Puasa Sebagai Terapi


Puasa bukanlah syariat baru. Allah juga mewajibkan puasa pada umat terdahulu sebelum umat Nabi Muhammad SAW. Sejak Nabi Adam AS, Allah telah mensyariatkannya, kemudian terus bersambung hingga Rasulullah SAW.

Puasa, baik sunnah maupun wajib, telah dicontohkan oleh beliau. Mulai dari niat di malam hari, sahur menjelang subuh, berpuasa hingga tenggelam matahari dan berlanjut rutinitas tersebut di kemudian hari.

Puasa pun dibarengi dengan peraturan dan imbauan untuk meningkatkan ibadah. Hingga akhirnya jika dijalani betul, maka setiap individu bisa menjadi lebih baik. Ia pun jadi mahluk baru dan berbeda.

Dalam konteks Islam, seperti dikutip dari buku ‘Sehat Tanpa Obat’ karya Dr. H. Briliantono M. Soenarwo dan K. Muhammad Rusli Amin, puasa mempunyai tujuan yang lebih dahsyat, yakni tercapai derajat taqwa. Derajat tinggi yang bisa dicapai oleh orang-orang saleh.

Seperti dalam Firman Allah QS Al-Baqarah: 183. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”.

Puasa bukan sekedar menahan lapar dan dahaga. Namun juga mengasah diri untuk jadi pribadi Muslim yang lebih baik. Puasa bertujuan membentuk manusia dengan kualitas taqwa yang telah Allah gambarkan dalam QS Al-Baqarah 2-5.
Yakni beriman pada yang gaib, mendirikan shalat, menafkahkan sebagian rezki, beriman pada Kitab, dan meyakini ada kehidupan akhirat. Manusia yang orientasi utamanya Allah, maka ia akan sangat berharap pada akhir taqwa.